Arab Saudi larang 18 ulama berkhotbah

Masjid di Saudi
Keterangan gambar, Para ulama yang dilarang berkhotbah dianggap melanggar peraturan untuk khotbah.

Sejumlah laporan dari Arab Saudi menyebutkan 18 ulama dilarang memberikan khotbah Jumat karena mengeluarkan pernyataan politik.

Surat kabar Al Hayat mengutip pejabat tinggi Kementerian Urusan Islam, Tawfeeq Al Sudairi, yang menyebutkan para ulama melakukan yang disebut pelanggaran saat memberikan khotbah dan kini tengah diperiksa.

Beberapa ulama berasal dari propinsi di kawasan timur, tempat terjadinya protes skala kecil oleh minoritas Syiah.

Para ulama yang memberikan khotbah Jumat diminta untuk tidak mengeluarkan komentar politik termasuk tentang kejadian di Suriah dan Mesir karena dikhawatirkan akan menimbulkan hasutan.

Arab Saudi -seperti halnya sebagian besar negara yang tergabung dalam Dewan Kerjasama Teluk- mendukung perubahan politik di Mesir.

Namun negara-negara Teluk ingin menjamin perpecahan di Mesir tidak mempengaruhi keamanan di kawasan lain.

Mesir tahan 55.000 ulama

Sementara itu, pemerintah Mesir menyatakan akan melarang 55.000 ulama yang tidak memiliki izin untuk memberikan khotbah di masjid-masjid dalam upaya menghapus pengaruh pendukung presiden yang digulingkan Mohamed Morsi.

Aparat keamanan Mesir berupaya mengejar <link type="page"><caption> anggota kelompok</caption><url href="http://www.bbc.co.uk/indonesia/dunia/2013/09/130903_mesir_pengadilan.shtml" platform="highweb"/></link><link type="page"><caption> Ikhwanul Muslimin</caption><url href="http://www.bbc.co.uk/indonesia/dunia/2013/09/130903_mesir_pengadilan.shtml" platform="highweb"/></link> sejak militer menggeser Morsi awal Juli lalu menyusul protes besar.

Mohamed Mokhtar Gomaa yang mengurus perizinan di Mesir mengatakan operasi difokuskan pada masjid-masjid kecil yang tidak memiliki izin.

"Keputusan ini dimaksudkan untuk melegalkan proses khotbah selama salat Jumat sehingga mereka yang berhak saja yang melakukan," kata Gomaa seperti dikutip kantor berita Reuters.

Lebih dari 2.000 aktivis ditahan dan sebagian besar pemimpin Ikhwanul Muslimin, termasuk Morsi, ditahan dengan dakwaan memicu atau ikut serta dalam kekerasan.