Pencari suaka lakukan pembakaran

Kepolisian telah mampu mengendalikan situasi pasca pecahnya kerusuhan di kamp pusat detensi imigrasi Australia yang terletak di Negara Pulau Pasifik, Nauru.
Laporan mengatakan kerusuhan yang terjadi pada hari Jumat (19/07) telah mengakibatkan sejumlah bangunan terbakar. Selain itu satu bangunan yang berfungsi sebagai balai pengobatan juga hancur akibat aksi para pencari suaka yang menjalani penahanan di sana.
Pejabat Imigrasi Australia mengatakan kerusuhan ini melibatkan sekitar 150 orang pencari suaka.
Kerusuhan di Nauru ini pecah beberapa jam setelah Perdana Menteri Australia, Kevin Ruud mengumumkan <link type="page"><caption> kebijakan baru </caption><url href="http://www.bbc.co.uk/indonesia/dunia/2013/07/130719_australia_pencarisuaka_papuanewguinea.shtml" platform="highweb"/></link>dalam menangani para pencari suaka yang tiba di wilayah Australia dengan perahu.
Berdasarkan kebijakan baru ini para pencari suaka tidak akan dimukimkan di Australia tetapi langsung ke Papua Nugini, kata Perdana Menteri Kevin Rudd.
Menurutnya, "keputusan garis keras" ini diambil untuk menjamin keamanan perbatasan.
Warga asal Iran
Seorang saksi mata mengatakan saat kerusuhan tersebut pecah, sejumlah warga lokal datang ke lokasi kamp dengan membawa golok dan pipa besi untuk membantu polisi mencegah para pencari suaka melarikan diri.
Sebagian besar para pencari suaka itu diperkirakan warga asal Iran.
Lembaga Penyiaran Australia, ABC yang mengutip seorang penjaga di kamp itu mengatakan kerusuhan mulai terjadi pada hari Rabu selepas tengah hari dan dalam dua jam menyebar ke seluruh bagian pusat detensi.
Banyak dari pencari suaka mempersenjatai dirinya dengan pisau yang mereka dapatkan dari dapur.

Akibat peristiwa ini setidaknya ada empat tahanan dan sejumlah petugas penjaga yang mengalami luka.
Fotografer lokal yang berada di lokasi kejadian, Clint Deidenang mengatakan aksi yang berlangsung selama empat jam berhasil diatasi setelah banyak warga lokal membantu petugas yang menangani peristiwa ini.
Departemen Imigrasi Australia mengakui ada 'perilaku yang menunjukan ketidakpatuhan' di fasilitas rumah detensi itu namun 'sekarang sudah tenang.'
"Kami terus melihat dampak dari kerusakan, sejauh yang kami tahu ada kerusakan pada properti di sini," kata Juru Bicara Departemen Imigrasi kepada AFP.
Australia menghadapi masalah meningkatnya jumlah pencari suaka yang datang memakai perahu dalam beberapa bulan belakangan ini.
Awal Juli lalu, pemimpin Australia dan Indonesia bertemu untuk membahas masalah ini.
Kapal yang tiba di Australia meningkat pesat dalam waktu 18 bulan terakhir kebanyakan berisi para pencari suaka dari Irak, Iran, Sri Lanka dan Afghanistan.









