Dua tewas dalam kecelakaan kapal pencari suaka di Australia

Dua orang tewas dan dua lainnya terluka parah setelah kapal yang membawa sedikitnya 95 pencari suaka terbalik di perairan Australia.
Kapal itu terbalik sekitar 14 mil laut di barat Pulau Christmas, yang kerap menjadi tujuan pencari suaka.
Sebuah kapal milik instansi bea cukai mengevakuasi penumpang dari dalam air untuk dibawa ke fasilitas imigrasi di pulau itu.
Dalam beberapa bulan terakhir, ada peningkatan jumlah pencari suaka yang bepergian ke Australia dengan kapal.
Banyak dari mereka berasal dari Afghanistan, Irak, Iran dan Sri Lanka dan singgah di Indonesia sebelum melanjutkan perjalanan laut ke Australia.
Pulau Christmas, yang terletak sekitar 2.600 km dari Australia tetapi hanya berjarak 300 km di selatan Indonesia, sering menjadi tujuan mereka karena itulah wilayah Australia yang terdekat dari Indonesia.
"Laporan awal mengindikasikan bahwa 95 orang telah dievakuasi dari air termasuk dua jenazah dan dua korban luka," kata Menteri Dalam Negeri Jason Clare.
Ia mengatakan pencarian laut dan udara masih berlangsung, meski belum diketahui apakah masih ada orang yang hilang.
Kebangsaan para pencari suaka belum diketahui.
Merupakan "sebuah kebetulan yang luar biasa bahwa bea cukai berada di dekat lokasi dan dapat merespon dengan cepat," kata administrator Pulau Christmas Jon Stanhope pada televisi Australia ABC.
Sejumlah kapal telah tenggelam atau harus diselamatkan saat menempuh perjalanan menuju Pulau Christmas.
Tahun lalu, pemerintah mengaktifkan kembali beroperasinya kam proses lepas pantai bagi pencari suaka di Papua Nugini dan Nauru untuk mencegah orang melakukan perjalanan yang berbahaya melalui laut ke Australia.
Tetapi kebijakan proses lepas pantai itu, dan kondisi di kamp, mendapat kritik keras dari kelompok-kelompok hak asasi manusia dan kantor-kantor PBB.









