Bayang-bayang tsunami politik di Malaysia

Posko parpol di Kuala Lumpur
Keterangan gambar, Rekor memerintah Barisan Nasional akan diuji dalam pemilu pada 5 Mei.

Banyak orang Malaysia menggunakan istilah tsunami politik untuk menggambarkan hasil pemilu 2008 ketika aliansi pemerintah Barisan Nasional kehilangan 58 kursi dan aliansi oposisi Pakatan Rakyat mendapat tambahan 61 kursi.

Barisan Nasional tetap menguasai parlemen namun untuk pertama kali sejak kemerdekan, aliansi penguasa itu tidak menguasai dua pertiga parlemen, yang dibutuhkan untuk memastikan pengesahan undang-undang.

Dan hasil itu, menurut Direktur University of Malaya Centre for Democarcy and Election atau UMCEDEL, Profesor Dato Dr Mohammad Redzuan Othman secara tidak langsung mempengaruhi pemilihan raya 2013.

Biasanya dalam pemilihan umum Malaysia, persempadanan atau penentuan wilayah pemilihan -yang ditetapkan oleh Suruhanjaya Pilihan Raya di bawah pengaruh pemerintah- berperan penting dalam menentukan kemenangan.

"Sekarang ini, Barisan Nasional mencoba membuat persempadanan tapi gagal karena tidak ada dua pertiga di parlemen."

"Karena itu ramai yang menganggap sejak Najib menjadi perdana menteri, beliau bukan ingin melakukan pemilihan raya namun melakukan persempadanan," tambah Profesor Redzuan Othman.

Dan jika dilihat dari perolehan suara, Barisan Nasional dan aliansi pendahulunya sejak pemilihan umum pertama tahun 1955 tidak pernah mendapat lebih 64% namun menguasai 2/3 wilayah pemilihan.

Popularitas Anwar Ibrahim

Faktor persempadanan atau penentuan wilayah pemilihan jelas hanya salah satu faktor yang membuat persaingan dalam pemilu 2013 ini menjadi paling ketat.

Redzuan Othman
Keterangan gambar, Profesor Redzuan Othman berpendapat Barisan Nasional masih mempunyai basis kuat.

Bagaimanapun Profesor Redzuan Othman berpendapat masih sukar bagi Pakatan rakyat untuk meraih kemenangan karena masih Barisan Nasional masih banyak memiliki fixed deposit atau daerah aman.

"Mereka (BN) juga memiliki media. TV Malaysia itu 24 jam untuk Barisan Nasional, kosong untuk pembangkang. Itu mereka gunakan sepenuhnya. Surat kabar juga sama."

Memang tak bisa dipungkiri popularitas Anwar Ibrahim yang semakin meningkat. Hasil survey yang dilakukan UMCEDEL menunjukkan 43% responden berpendapat

Anwar Ibrahim layak menjadi Perdana Menteri dan 39% mendukung Najib Rajak, perdana menteri saat ini.

Selisih 5% dianggap tidak sigifikan karena masih bisa berubah hari demi hari sehingga situasinya bisa jadi sudah jauh berbeda dibanding ketika survei tersebut dilakukan 20 April lalu.

Menurut Profesor Redzuan Othman, pada masa awal selepas 2008 Anwar Ibrahim sering ke luar negeri sementara media Malaysia cenderung cuma

memburukkan dia.

"Tapi sejak 2011, beliau mengambi inisiatif untuk melakukan tur ke seluruh dunia dan cukup ketara. Masyarakat mulai menerima jadi bukan melihat hanya yang buruk saja."

Ancaman tsunami?

Jika kehilangan mayoritas dua pertiga kursi pada 2008 dianggap tsunami, apakah akan berlangsung tsunami lagi dan yang lebih besar dengan kekalahan?

"Tidak, kami akan menang," tegas Azim Zaidi, salah seorang juru kampanye Barisan Nasional di Kuala Lumpur.

Slogan di kampanye Malaysia
Keterangan gambar, Pemegang kursi perdana menteri mendatang berada di tangan rakyat Malaysia.

"Rakyat telah mengajarkan kita. Tahun 2008 kita kalah. Jadi dari 2008 hingga sekarang kita telah berubah. Kita bagi servis bagi rakyat. Perkhidmatan yang lebih baik dengan masyarakat, kita bantu masalah mereka."

Salah satu hal yang penting dalam politik -oleh partai mana pun di mana pun- adalah keyakinan mendapat dukungan masyarakat.

Dalam pemilu Malaysia 2013 ini, tampaknya masyarakat Malaysia menjadi terpecah dengan perkiraan pemilihan umum akan berlangsung ketat tanpa mayoritas dan minoritas kubu politik.

Abdul Malik, seorang supir taksi, menjadi salah satu wakil dari pendukung Barisan Nasional sebagai ucapan terimakasihnya atas perkembangan ekonomi yang dicapai Malaysia selama ini.

"Barisan adalah partai yang paling unggul dan terbukti dari zaman dulu sampai sekarang. Nasib kita ada perbaikan, tidak miskin ke miskin tapi miskin ke menengah dan ada peluang untuk jadi kaya," tuturnya.

Sedangkan sisi lain, antara lain diwakili oleh Brian, seorang warga keturunan Cina yang akan memilih untuk pertama kalinya.

"Pemerintah sudah memperhatikan Malaysia untuk jangka waktu yang lama. Tapi kenapa tidak memberikan kesempatan ke sisi lain dan lihat yang mereka lakukan."