Kaum muda Malaysia di persimpangan

Mahasiswa Universitas Malaya
Keterangan gambar, Mahasiswa Malaysia Aaron dan Sulyani (kedua dan ketiga dari kiri) ingin mendukung oposisi.

Jumat pagi 3 Mei 2013, Aaron dan Sulyani bersama seorang rekan mahasiswi asal Indonesia sedang menyelesaikan tugas bersama perkuliahan di salah satu sudut yang hening di kampus Universitas Malaya.

Keduanya mengaku sejalan dalam memandang pemilihan umum Malaysia kali ini, yaitu memberi kesempatan kepada kelompok oposisi.

"Pemerintah saat ini sudah lama dan mungkin saatnya untuk melihat yang baru," tutur Aaron, yang mengakui perekonomian Malaysia memang membaik di bawah Barisan Nasional.

"Saya ingin memberikan kesempatan kepada pihak lain karena sudah lebih dari 50 tahun kerajaan (pemerintah) yang sekarang ini," tutur mahasiswa keturunan India ini.

Bagi Sulyani dukungan kepada kelompok oposisi seperti ke luar dari tradisi keluarga karena ayah dan ibunya yang sejak dulu merupakan pendukung Barisan Nasional.

Profesor Dato Dr Mohammad Redzuan Othman
Keterangan gambar, Mohammad Redzuan Othman mengatakan sebagian warga tidak percaya pada BN.

"Sebagai umat Islam, saya ingin Islam lebih banyak diterapkan di Malaysia," tambah Sulyani yang mengenakan jilbab.

Dalam aliansi Pakatan Rakyat memang terdapat PAS, yang beraliran Islam dan secara terbuka memperjuangkan hudud atau hukum Islam.

Pemilih muda

Terdapat sekitar sekitar 2,6 juta pemilih pertama dari total sekitar 13 juta pemilih dalam pemilihan raya kali ini. Dan pemiih muda menjadi sasaran penting bagi Barisan Nasional maupun bagi Pakatan Rakyat.

Sebuah penelitian yang dilakukan University of Malaya Centre for Democarcy and Election (UMCEDEL) memperlihatkan 46% pemilih baru mendukung tokoh oposisi Anwar Ibrahim sebagai perdana menteri sedang perdana menteri saat ini, Najib Razak, mendapat dukungan 39%.

Bagaimanapun Direktur UMCEDEL, Profesor Dato Dr Mohammad Redzuan Othman, menjelaskan tidak bisa disebutkan bahwa Pakatan Rakyat lebih berhasil mendekati kaum muda.

"Dari bercakap dengan kaum muda, mereka punya garis yang jelas bahwa kami tidak percaya Barisan Nasional namun masih hati-hati dengan Pakatan Rakyat."

Salah satu isu yang masih membuat mereka belum yakin sepenuhnya atas PR adalah karena PR yang tampaknya dianggap belum solid.

"Mereka ingin melihat PR betul-betul sebagai pakatan yang solid dan bukan karena kepentingan tertentu. Mereka hendak meliaht apakah PR viable sebagai pemerintah, viable sebagai alternatif."

Lebih terbuka

Keterikatan kaum muda dengan perubahan, menurut salah seorang juru bicara Barisan Nasional, Azim Zaidi, tidak selalu sesuai dengan kenyataan.

"Orang-orang muda yang pertama kali mengundi ini, jika dbandingkan maka Mak dan Bapak mereka tidak merasa keterbukan seperti hari ini. Sudah lebih banyak kebebasan dibanding 15 tahun yang sebelumnya."

Bagaimanapun Azim Zaidi mengaku sebagian kaum muda yang tidak puas dengan pemerintah.

"Tapi kalau kita duduk dan betul-betul tanya apa yang sebetulnya tidak puas hati dengan kerajaan, dia tidak bisa jawab. Di pun tidak tahu, dia pun terikut-ikut asal orang cakap gitu dia juga cakap gitu."

Isu korupsi yang dianggap menjadi perhatian bagi kaum muda juga, tambah Zaidi, sebenarnya bukan hal baru pada masa pemerintahan Perdana Menteri Najib Razak.

Ajakan di kampanye
Keterangan gambar, Suara anak muda menjadi perhatian dalam pemilu 2013 karena jumlah mereka besar.

"Dua puluh tahun lalu juga ada korupsi, bukan cuma di bawah Najib saja. Di bawah Pak Lah (Abdullah Badawi) ada korupsi, di bawah Mahathir juga ada korupsi. Cuma apakah ada usaha-usaha yang diambil kerajaan sekarang untuk memberantas korupsi."

"Banyak kasus yang masuk mahkamah dan high profile case. Kalau Najib tutup semua itu, mungkin boleh mengadu. Tapi dia tidak tutup itu."

Pemilu Malaysia, yang akan digelar pada Minggu 5 Mei dianggap sebagai pemilihan dengan persaingan paling ketat sepanjang sejarah politik Malaysia.

Dan perlu ditunggu apakah kaum muda memang terkelompok pada satu kubu politik atau sama terpecah seperti warga Malaysia umumnya.