Polisi tewas dalam unjuk rasa di Bahrain

Seorang polisi Bahrain tewas dalam unjuk rasa antipemerintah yang masih berlanjut di negara itu.
Polisi tersebut, Mohammed Asif, tewas pada Kamis larut malam akibat lemparan benda keras dari pengunjuk rasa, seperti dijelaskan oleh Kepala Kepolisian Bahrain, Tariq Hassan al-Hassan.
"Ketika Asif dan beberapa aparat polisi sedang mengamankan jalan, sekelompok pengunjuk rasa menyerang dengan bom molotov, potongan baja, dan batu," tuturnya.
Dia juga menegaskan polisi tidak melakukan provokasi dalam insiden tersebut.
Sebelumnya, masih pada hari yang sama, <link type="page"> <caption> seorang remaja </caption> <url href="http://www.bbc.co.uk/indonesia/dunia/2013/02/130214_bahrain_protes.shtml" platform="highweb"/> </link> <link type="page"> <caption> pria pengunjuk rasa yang berusia 16 tahun tewas</caption> <url href="http://www.bbc.co.uk/indonesia/dunia/2013/02/130214_bahrain_protes.shtml" platform="highweb"/> </link> tertembak dalam bentrokan antara para pengunjuk rasa dan aparat keamanan.
Peringatan aksi perlawanan
Unjuk rasa tersebut berlangsung memperingati dua tahun gerakan perlawanan menentang penguasa keluarga Kerajaan Bahrain yang merupakan penganut minoritas Sunni.
Pemerintah dan kelompok oposisi dilaporkan sudah sepakat untuk memulai dialog nasional untuk meredakan krisis di negara itu.
Masyarakat Syiah, yang merupakan mayoritas, menuntut kekebasan politik yang lebih besar di negara itu.
Aksi menentang pemerintah Bahrain berawal pada 14 Februari 2011, ketika pengunjuk rasa menguasai Lapangan Mutiara di ibukota Manama.
Tiga hari kemudian aparat keamanan membersihkan lapangan itu dengan menggunakan pentungan maupun gas air mata dan sedikitnya dua pengunjuk rasa tewas.
Kekerasan sempat tereskalasi dan pegiat kelompk pegiat mengatakan sekitar 80 orang tewas dalam berbagai aksi unjuk rasa setelah itu, namun angka itu selalu dibantah pemerintah.









