Burma adili pendemo anti perluasan tambang

Delapan orang didakwa dalam pengadilan di Rangoon, Burma, terkait aksi demo menentang perluasan tambang tembaga.
Moe Thwe, seorang pemimpin demo, dan tujuh orang lainnya disidang dengan dakwaan hasutan menentang pemerintah dan menggelar aksi demo secara ilegal.
Dakwaan ini dibantah, dan semuanya menolak untuk dibebaskan dengan jaminan. Dua orang lainnya dilaporkan tengah diburu polisi.
Aksi menentang perluasan tambang tembaga ini dilakukan petani di seluruh negara yang menyatakan bahwa mereka diusir dalam perampasan lahan guna memuluskan jalan bagi industri tambang.
Tuduhan ini juga dibantah pemerintah.
Lusinan orang terluka saat polisi membubarkan aksi menentang tambang yang didukung perusahaan Cina di kota Monywa, Kamis (29/11).
Isu nasional
Para petani memulai aksi mereka Juni silam, dengan mengatakan bahwa mereka dipaksa untuk menyepakati sebuah perjanjian dua tahun lalu yang membuat mereka melepas lahan dan mendapatkan rumah baru dan kompensasi uang.
Tambang dengan proyek perluasan sebesar sembilan miliar dolar amerika tersebut meliputi ribuan hektar tanag di kawasan Sagaing, Burma.
Perusahaan tambang dimiliki oleh perusahaan senjata dan militer Cina, Norinco.
Perusahaan ini mengklaim bahwa kesepakatan itu dicapai dengan sukarela, dan hanya sekelompok kecil minoritas petani yang menolaknya.
Pemerintah sendiri menyatakan akan tetap berkomitmen untuk melakukan penyelidikan sepenuhnya atas keluhan para petani.
Para petani ini memiliki sedikit pengalaman dalam pergerakan politik, dan mendapat dorongan dengan keterlibatan aktivis politik serta dukungan dari biarawan Budha.
Wartawan BBC melaporkan isu hak atas lahan ini sekarang menjadi isu nasional baru dalam perkembangan demokrasi Burma pasca junta militer.
Hak atas lahan ini bisa menjadi isu yang paling sulit untuk diselesaikan oleh pemerintahan baru.









