
Serangan terhadap kompleks milik aparat kemanan Suriah semakin meningkat.
Para pemberontak Suriah dilaporkan membom sebuah kantor badan intelijen di kawasan pinggiran ibukota Damaskus, Senin malam.
Kelompok militan, Barisan al-Nusra, megatakan seorang pembom meledakkan diri di luar kantor badan intelijen Angkatan Udara, AFI, di Harasta.
Para pegiat dan penduduk mengatakan terjadi ledakan besar diikuti oleh kontak senjata dengan menggunakan senapan mesin dan meriam.
Saluran TV propemerintah, Al-Ikhbariya, juga melaporkan ledakan diikuti dengan bentrokan senjata. Namun belum ada laporan tentang korban jiwa maupun kerusakan akibat serangan dan kontak senjata tersebut.
Dalam pernyataannya, Barisan al-Nusra mengatakan mereka menjadikan badan intelijen Angkatan Udara sebagai sasaran karena merupakan divisi yang paling tersohor dan merupakan benteng dari represi.
Kelompok tersebut -yang mengaku berada di belakang beberapa serangan bom yang mematikan sejak Januari tahun ini- mengatakan sebuah kenderaan bermotor yang berisi sembilan ton bahan peledak dikemudikan ke arah kompleks AFI di Harasta.
Badan elit

Warga sipil paling menderita dalam konflik Suriah dengan korban mencapai sekitar 23.000 jiwa.
Kelompok pemberontak Suriah belakangan ini semakin meningkatkan serangan atas gedung-gedung milik aparat keamanan Suriah.
AFI merupakan salah satu badan elit dalam kelembagaan intelijen Suriah.
Walau lebih kecil dari intlelijen angkata darat, di masa lalu AFI berperan penting dalam operasi memberangus kelompok oposisi Islam maupun dalam operasi terselubung di luar negeri. AFI tersohor juga karena brutalitasnya.
Saat ini AFI dipimpin oleh Mayor Jenderal Jamil Hassan, yang berasal dari aliran Islam yang sama dengan Presiden Bashar al-Assad, Alawit, yang merupakan minoritas di Suriah
Konflik di Suriah yang sudah berlangsung lebih dari setahun lalu diperkirakan sudah menewaskan 30.000 jiwa lebih, baik itu warga sipil, aparat keamanan Suriah, maupun pejuang kelompok pemberontak.
Lembaga pengamat hak asasi manusia yang berkantor di London menyebutkan penduduk sipil yang paling menderita akibat konflik dengan jumlah korban mencapai hampir 23.000 jiwa.






