
Mohammad Ajmal Amir Qasab merupakan satu-satunya pelaku penyerangan di Mumbai yang hidup.
Mahkamah Agung India menguatkan putusan hukuman mati yang dijatuhkan kepada pelaku penyerangan di Mumbai pada tahun 2008 lalu, Mohammad Ajmal Amir Qasab.
Hakim juga menolak klaim pembelaan Qasab yang menyebutkan bahwa dia menjalani persidangan yang tidak adil.
Qasab sebelumnya dalam persidangan tingkat pertama dijatuhi vonis mati atas perbuatannya tersebut pada bulan Mei 2010.
Warga Pakistan berusia 24 tahun ini kemudian mengajukan banding pada Pengadilan Tinggi Mumbai namun bandingnya juga ditolak pada bulan Februari tahun lalu.
Kasus penyerangan di Mumbai tidak hanya menjadi sorotan di India tapi juga dunia internasional.
Akibat serangan itu setidaknya ada 165 orang yang menjadi korban tewas.
Selain itu pihak keamanan India menewaskan 9 orang pelaku serangan tersebut, Qasab menjadi satu-satunya pelaku penyerangan yang masih hidup setelah peristiwa itu.
Berharap pada grasi
"Mengingat tingkat kejahatannya dan fakta bahwa dia berpartisipasi dalam upaya perang melawan negara, kami tidak punya pilihan lain selain menguatkan hukuman mati," kata Hakim Mahkamah Agung Aftab Alam dan CK Prasad yang membacakan putusan pada hari Rabu (29/08) pagi.
Jaksa yang menangani kasus ini, Gopal Subramaniam menyambut baik keputusan tersebut dan mengatakan keputusan itu sebagai "Kemenangan yang lengkap terhadap proses hukum yang adil"
"Keputusan dalam kasus ini menunjukan pendapat yang profesional dan tidak memihak"
Gopal Subramiam
"Keputusan dalam kasus ini menunjukan pendapat yang profesional dan tidak memihak," kata Subramiam.
Kini satu-satunya jalan yang bisa ditempuh oleh Qasab untuk menghindari hukuman mati adalah mengajukan grasi kepada Presiden.
Dalam kasus penyerangan itu India menuding kelompok militan Laskhar-e-Taiba yang berbasis di Pakistan menjadi dalang serangan itu.
Setelah sempat membantah sejumlah tudingan India, pemerintah Pakistan akhirnya mengakui bahwa sebagian rencana serangan itu disusun di wilayahnya dan mengakui Qasab sebagai warga negaranya.
Insiden ini menyebabkan hubungan diplomatik India dan Pakistan sempat mencapai titik terendah.






