Dewan kota di Jepang meminta PLTN dihidupkan kembali

reaktor nuklir di ohi

Sumber gambar, 1

Keterangan gambar, Krisis PLTN Fukushima membuat operator mematikan reaktor.

Para anggota dewan di Ohi, Jepang barat, pada hari Senin (14/5) mendukung diaktifkannya dua reaktor yang dimatikan sejak terjadi bencana di PLTN Fukushima.

"Setelah mempertimbangkan pentingnya PLTN dan masukan dari masyarakat, kami mendesak agar reaktor yang ada dihidupkan kembali," kata Kinya Shintani, ketua dewan kota Ohi.

Namun keputusan dewan kota tersebut masih memerlukan dukungan dari para pejabat di tingkat provinsi dan pusat.

Ini adalah untuk pertama kalinya dewan kota meminta dihidupkannya kembali reaktor di PLTN.

Pemerintah pusat tidak memiliki kewajiban meminta persetejuan pemerintah lokal sebelum menghidupkan kembali reaktor nuklir namun kecil kemungkinan Tokyo menggunakan hak tersebut, apalagi pendapat masyarakat soal perlu tidaknya PLTN masih terpecah.

Jajak pendapat pada akhir pekan yang dilakukan harian Yomiuri menunjukkan 45% responden mendukung dihidupkannya kembali reaktor nuklir untuk menghasilkan listrik. Sekitar 45% lainnya menyatakan tidak setuju.

Beban puncak

Sebelum krisis menghantam Fukushima, sekitar 30% kebutuhan listrik Jepang dipasok dari berbagai PLTN di negara tersebut.

Bila pemerintah mengeluarkan lampu hijau, reaktor nomor 3 dan 4 milik PLTN Kansai di Ohi tersebut akan bisa memasok kembali kebutuhan listrik di Jepang.

Kebutuhan listrik secara nasional akan mencapai puncak pada pertengahan tahun ini dan pemerintah di Tokyo berupaya sejak beberapa waktu lalu untuk menghidupkan kembali reaktor di semua PLTN.

Kantor berita Reuters memberitakan pemerintah mungkin akan meminta pelanggan, baik rumah tangga maupun industri, untuk memangkas konsumsi listrik sebesar 20%.

Dokumen pemerintah juga menyebutkan pemerintah mempertimbangkan untuk mengurangi pasok listrik ke pelanggan industri atau menerapkan pemadaman aliran listrik di beberapa kawasan, untuk mengatasi penurunan pasok listrik.

Beberapa kawasan diwajibkan mengurangi konsumsi listrik tahun lalu setelah terjadi krisis di PLTN Fukushima, yang dianggap sebagai krisis terburuk sejak ledakan di Chernobyl, Ukraina.

Tiga reaktor di PLTN Fukushima rusak parak setelah gempa dan tsunami hebat menghantam Jepang, Maret 2011.