Cina sukses luncurkan wahana angkasa

Sumber gambar, Reuters
Cina telah mengambil langkah terbaru untuk menjadikan negeri itu sebagai adikuasa teknologi angkasa luar setelah berhasil meluncurkan wahana tanpa awak Shenzhou 8, Selasa (2/11) pagi waktu setempat.
Shenzhou 8 diluncurkan dengan menggunakan bantuan roket Long March 2F dari Pusat Angkasa Luar Jiuquan di Gurun Gobi.
Sesampainya di orbit Bumi, Shenzhou 8 akan berupaya menyatukan diri dengan laboratorium angkasa luar Tiangong-1 yang diluncurkan September lalu.
Proses penyatuan ini membutuhkan waktu beberapa hari dan jika penyatuan ini sukses maka ini akan menjadi yang pertama kali bagi Cina.
Penyatuan Shenzhou dengan laboratorium angkasa luar ini adalah bagian dari ambisi Cina untuk memiliki stasiun angkasa luar pada 2020.
Shenzhou dan Tiangong akan menggunakan radar dan sensor optik untuk saling mendekat dan menuntun mereka hingga proses penyatuan usai.
Selanjutnya kedua wahana itu akan mengelilingi bumi selama 12 hari sebelum kembali memisahkan diri dan menyatukan diri kembali.
Dan puncaknya Shenzhou 8 akan memisahkan diri untuk kemudian kembali ke Bumi.
Pada saat pulang ke Bumi, Shenzhou 8 akan membawa hasil eksperimen antara lain kotak berisi ikan, tumbuhan, cacing, bakteria hingga sel kanker manusia untuk dianalisis.
Misi berawak

Sumber gambar, AP
Jika misi ini berhasil dengan baik maka rencananya Cina akan meluncurkan misi berawak untuk bergabung dengan laboratorium Tiangong-1 pada 2012.
Saat itu, para astronot Cina diharapkan bisa tinggal dan bekerja di dalam dua wahana yang menyatu itu selama dua pekan.
Sejumlah media Cina berspekulasi bahwa misi berawak itu akan membawa astronot perempuan pertama Cina.
Modul laboratorium angkasa luar Tiangong-1 diluncurkan pada 29 September lalu dan sejauh ini beroperasi normal.
Untuk menyambut Shenzhou 8, ketinggian orbit Tiangong-1 diturunkan dan digeser 180 derajat.
Beijing melihat misi Shenzhou 8 ini sebagai sebuah langkah mempersiapkan kemampuan untuk melakukan misi angkasa luar berawak.
Selain itu, misi ini adalah bagian dari ambisi Cina membangun stasiun angkasa luar yang akan dimulai akhir dekade ini.
Stasiun luar angkasa masa depan seberat 60 ton itu berukuran lebih kecil dibanding stasiun serupa seberat 400 ton yang dioperasikan Amerika Serikat, Rusia, Eropa, Kanada dan Jepang.
Meski demikian kehadiran stasiun luar angkasa Cina tetap merupakan bukti prestasi tinggi ilmuwan negeri Tirai Bambu itu.









