Sarkozy minta menteri libur di Prancis

Sumber gambar, AFP
Presiden Prancis Nicolas Sarkozy mengatakan para menteri sebaiknya berlibur di dalam negeri untuk mencegah kasus-kasus diplomatik yang memalukan pemerintah.
Pernyataan ini ia keluarkan setelah dua menterinya dikecam karena berlibur di Mesir dan Tunisia.
"Mulai sekarang para pejabat tinggi pemerintah harus berlibur di dalam negeri," kata Presiden Sarkozy dalam rapat kabinet di Paris, Rabu (9/2).
"Undangan dari negara lain harus melewati perdana menteri dan unit diplomatik kantor kepresidenan. Semuanya harus dilihat apakah undangan-undangan tersebut sesuai dengan kebijakan luar negeri Prancis," kata Sarkozy.
Perdana Menteri Francois Fillon berlibur ke Mesir pada akhir Desember lalu dengan fasilitas penerbangan dan hotel dari Presiden Mubarak. Beberapa pekan kemudian muncul gerakan rakyat meminta Mubarak mundur.
UU khusus
Menteri Luar Negeri Michele Alliot-Marie berlibur ke Tunisia dengan memakai pesawat pribadi milik seorang pengusaha Tunisia yang dekat dengan presiden yang digulingkan, Zine El Abidine Ben Ali.
Presiden Sarkozy mengatakan undangan seperti ini mungkin hal biasa beberapa tahun lalu, namun sekarang bisa menodai citra pemerintah.
"Jadi mulai sekarang undangan-undangan seperti ini harus dipantau secara ketat," kata Sarkozy.
Jean-Marc Ayrault, anggota parlemen dari Partai Sosialis, kepada kantor berita AFP mengatakan dengan kasus liburan dua pejabat tinggi ini pemerintah harus membuat undang-undang khusus untuk menghindari konflik kepentingan.
Mesir, negara terbesar di Timur Tengah adalah sekutu dekat Amerika Serikat dan Prancis sementara kawasan Afrika Utara adalah tujuan wisata favorit bagi para pejabat tinggi Prancis.









