Ribuan etnis Uzbek mengungsi

Ribuan wanita dan anak-anak etnis Uzbek mengungsi di perbatasan Kirgistan-Uzbekistan
Keterangan gambar, Ribuan wanita dan anak-anak etnis Uzbek mengungsi di perbatasan Kirgistan-Uzbekistan

Ribuan warga etnis Uzbek mengungsi di perbatasan negara tetangga, Uzbekistan, untuk menghindari tindak kerasan di Kirgistan yang menelan sedikitnya 138 korban jiwa.

Laporan-laporan menyebutkan Uzbekistan tengah mempertimbangkan untuk menutup perbatasannya, sementara jumlah pengungsi bertambah.

PBB meminta agar Uzbekistan tetap membuka perbatasan.

Amerika Serikat menyerukan ''reaksi internasional terkoordinasi'' atas tindak kekerasan di Kirgistan.

Sedikitnya 1.761 terluka dalam empat hari bentrokan.

Kerusuhan yang mulai pecah Kamis malam antara etnis Kirgis dan warga minoritas etnis Uzbek di kota Osh dan Jalalabad, di belahan selatan Kirgistan, tercatat sebagai kerusuhan antaretnis di Kirgistan dalam 20 tahun.

Bagian selatan Kyrgyzstan, negara bekas bagian Uni Soviet di Asia Tengah yang memiliki jumlah penduduk 5,5 juta jiwa, memiliki minoritas etnis Uzbek dengan jumlah sekitar 1 juta jiwa.

Pemicu tindak kekerasan masih tidak jelas. Peristiwa ini terjadi dua bulan setelah mantan presiden Kirgistan Kurmanbek Bakiyev digulingkan dalam pemberontakan yang diwarnai tindak kekerasan.

Kirgistan meminta Rusia memberikan dukungan militer, dan Dewan Keamanan PBB juga diberi laporan mengenai situasi, kata para pejabat.

Sementara itu, pihak berwenang Inggris menahan putra Bakiyev, yang dicari-cari oleh pemerintah sementara Kirgistan atas tuduhan korupsi.

Kamp pengungsi

Komite Palang Merah Internasional (ICRC) sebelumnya mengatakan sekitar 80.000 orang Uzbek telah menyeberang ke Uzbekistan dari Kirgistan, sedangkan 15.000 menunggu di perbatasan.

Beberapa kamp didirikan di Uzbekistan untuk menampung para pengungsi.

Kebanyakan dari mereka wanita, anak-anak, dan orang tua. Banyak dari mereka dilaporkan menderita luka tembak.

Badan pengungsi PBB, UNHCR, menyatakan memberikan bantuan untuk sekitar 75.000 warga.

Hari Senin, Ogranisasi Traktat Keamanan Kolektif (CSTO), kelompok regional negara-negara bekas Soviet, mencapai kesepakatan umum mengenai langkah untuk menanggapi krisis di Kirgistan.

Namun, rincian kesepakatan tersebut belum diumumkan, namun seorang pejabat Rusia mengatakan Moskow tidak menutup kemungkinan untuk mengirimkan pasukan penjaga perdamaian.

Kirgistan meminty Rusia mengirimkan pasukan, tapi negara itu menolak sejauh ini.

Para wartawan mengatakan Moskow enggap bertindak sepihak, meski telah mengirimkan sedikitnya 150 personel pasukan para untuk melindungi pasukan militernya di bagian utara Kirgistan.

Amerika dan Rusia sama-sama memiliki pangkalan militer di belahan utara Kirgistan, dan negara itu juga menjadi transit penting bagi pasukan Nato yang tengah dalam perjalanan ke Afghanistan.

Bakiyev, yang digulingkan bulan April, meminta CSTO mengirimkan pasukan, dan menyatakan pemerintah sementara Kirgistan tidak berjalan efektif.