Pemakaman tokoh supremasi dijaga ketat

Eugene Terreblance
Keterangan gambar, Tiga ribu orang mengenang Eugene Terreblance yang kontroversial

Operasi keamanan besar-besaran diberlakukan untuk pemakaman tokoh supremasi kulit putih Afrika Selatan, Eugene Terreblanche, yang tewas dibunuh di tanah pertaniannya pada hari Sabtu.

Beberapa polisi dan satuan-satuan tentara ditempatkan untuk mencegah kemungkinan bentrokan antara pendukung Terreblance dan penduduk kulit hitam setempat.

Sekitar tiga ribu orang hadir dalam acara mengenang tokoh yang kontroversial di kota Ventersdorp di daerah pedesaan barat laut negara itu.

Terreblance memimpin gerakan Perlawanan Afrikaner, AWB.

Upacara pemakaman di Gereja Protestan Afrikaner berakhir dengan beberapa pelayat memberikan hormat gaya Nazi, kata wartawan BBC Pumza Fihlani di Ventersdorp.

Setelah upacara para pelayat membawa peti mati Terreblanche ke tanah pertaniannya sekitar 10 kilometer dari gereja.

Wartawan BBC Karen Allen mengatakan ribuan pendukung AWB berkumpul di kota itu dan orang yang melayat termasuk para pria bersenjata yang mengenakan baju tentara tempur dan anak-anak.

Federasi Serikat buruh Afrika Selatan, Cosatu, mengadakan rapat besar di bagian lain kota.

Wartawan BBC mengatakan hasil pertemuan yang diselenggarakan untuk membicarakan kekerasan di tanah-tanah pertanian belakangan ini, belum jelas.

Dakwaan pembunuhan

Wartawan BBC mengatakan di satu pihak, rapat ini menjadi sarana untuk mengalihkan beberapa pekerja pertanian kulit hitam agar tidak datang ke pemakaman namun juga bisa dilihat sebagai pertanda provokasi karena pemilihan waktunya.

Sebagian besar jemaah gereja tempat upacara diselenggarakan adalah warga kulit putih Afrika Selatan.

Beberapa pelayat datang dari luar kota untuk mengikuti pemakaman.

Sebagai pertanda mengajak rukun, para tokoh kulit hitam setempat diundang untuk menghadiri upacara pemakaman namun wartawan kami mengatakan hanya sedikit yang mungkin memenuhi undangan itu.

Dua pekerja Terreblance sudah dikenai dakwaan pembunuhan tokoh itu.

Meskipun pemerintah menekankan kasus pembunuhan ini lebih disebabkan oleh masalah uang dari pada politik, peristiwa ini meningkatkan ketegangan rasial.

Kelompok-kelompok kulit putih menyalahkan seorang pejabat ANC, Julius Malema, karena menyanyikan lagu jaman apartheid yang liriknya antara lain berbunyi "tembak orang Boer (kulit putih Afrika Selatan)" dalam rapat-rapat besar.

ANC menyangkal ada kaitan antara kedua hal itu namun mengakui bahwa lagu dan perdebatan diseputarnya menyebabkan masyarakat terpecah.

Partai itu sekarang memerintahkan anggotanya untuk tidak lagi menggunakan lagu tersebut.