Vaksin Covid: Setelah dua tahun, apa yang kita ketahui tentang keampuhan dan efek sampingnya?

Vaccine being applied in an unidentified person

Sumber gambar, Getty Images

Keterangan gambar, Lebih dari 13 miliar dosis vaksin Covid-19 telah diberikan di seluruh dunia.
    • Penulis, André Biernath
    • Peranan, BBC News Brasil

Sebuah pameran baru di Museum Sains, London, mengeksplorasi skala epik pengembangan dan distribusi vaksin untuk melawan Covid-19.

Salah satu rak menampilkan jarum suntik, ampul, dan baki karton.

Alat-alat itu digunakan pada 8 Desember 2020, ketika seorang perempuan Inggris berusia 90 tahun, yang bernama Margaret Keenan, menjadi orang pertama di dunia yang mendapatkan vaksin Covid di luar studi klinis.

Sejak saat itu, 13 miliar dosis vaksin telah diberikan di seluruh dunia, termasuk booster dan imunisasi terbaru, yang melindungi dari varian terbaru virus corona.

Apa yang telah kita pelajari dalam dua tahun ini? Bagaimana data-data mengungkap efektivitas vaksin? Dan apa yang diketahui tentang efek sampingnya?

Singkatnya, penelitian menunjukkan bahwa fungsi utama vaksin Covid adalah untuk menekan angka rawat inap dan kematian di seluruh dunia.

Tanpa itu, jumlah orang yang terkena krisis kesehatan akan jauh lebih tinggi.

Baca juga:

Selain itu, institusi kesehatan masyarakat menyebut efek samping yang paling serius dianggap jarang terjadi.

Sekarang mari kita bahas hal-hal di balik pernyataan itu.

Kegunaan vaksin

Sejak vaksin mulai menjangkau populasi besar, angka rawat inap dan kematian terkait virus corona menurun drastis di seluruh dunia.

Bahkan dengan lonjakan varian yang lebih mudah menular seperti Omicron, vaksinasi menjamin bahwa kebanyakan orang yang terinfeksi tidak menjadi sakit parah atau meninggal.

Dalam survei yang diterbitkan pada 13 Desember, Commonwealth Fund mengundang para ilmuwan di School of Public Health di Yale University, Amerika Serikat, untuk menjawab pertanyaan krusial: "Apa yang akan terjadi jika kita tidak memiliki vaksin untuk melawan Covid-19?"

Hasilnya menunjukkan bahwa AS sendiri akan menghadapi 18,5 juta rawat inap dan 3,2 juta kematian tambahan akibat Covid dalam dua tahun terakhir.

Dari segi finansial, ini menunjukkan bahwa program vaksinasi Amerika bisa menghemat biaya medis hingga mencapai US$1,15 triliun (senilai Rp17.940 triliun). Artinya, AS bakal menghabiskan uang sebanyak itu untuk pengobatan infeksi pada kasus tambahan, andai saja tidak ada vaksin.

Sejak 12 Desember 2020, sebanyak 82 juta infeksi, 4,8 juta rawat inap, dan 798.000 kematian telah dilaporkan di AS.

Dengan kata lain, tanpa vaksinasi, AS akan mengalami infeksi 1,5 kali lebih banyak, rawat inap 3,8 kali lebih banyak, dan kematian 4,1 kali lebih banyak ," kata para penulis.

"Vaksinasi Covid membuat membuat banyak orang bisa bertahan hidup," kata Dr Isabella Ballalai, wakil presiden Masyarakat Imunisasi Brasil (SBIM).

Tray, syringe and vaccine
Keterangan gambar, Alat-alat yang digunakan dalam vaksinasi pertama melawan Covid-19 di luar studi klinis dipajang di Museum Sains, London.

Negara asal Dr Ballalai, Brasil, adalah salah satu yang paling merasakan dampak virus dan merupakan contoh yang baik untuk melihat cara kerja vaksin.

Ketika vaksinasi pertama disetujui, pada Januari 2021, Brasil mencapai momen paling dramatis sejak awal pandemi.

Antara akhir Maret dan awal April tahun lalu, rata-rata kematian harian akibat Covid melampaui 3.000, sementara infeksi baru mencapai 72.000 per hari, menurut Sekretaris Dewan Kesehatan Nasional.

Seiring berjalannya minggu - dan persentase orang Brasil yang divaksinasi meningkat - jumlah kematian mulai turun drastis.

Angka tersebut mulai naik lagi pada Januari 2022, ketika varian Omicron muncul. Namun, puncak gelombang baru ini mencatat 950 kematian setiap hari - kurang dari sepertiga dari rekor sebelumnya.

Bagaimana dengan efek sampingnya?

"Seiring berjalannya waktu dan semakin banyak dosis vaksin Covid yang diberikan, semakin kami yakin dengan profil keamanannya," kata Dr Ballalai.

Dalam dua tahun terakhir, badan pembuat aturan dan lembaga kesehatan masyarakat telah melakukan upaya besar untuk memantau dan menyelidiki setiap kasus kemungkinan efek samping pasca vaksinasi.

Layanan Kesehatan Nasional Inggris (NHS) menekankan bahwa "efek samping yang serius sangat jarang terjadi".

Mereka menyoroti beberapa efek samping yang paling umum yang diderita seseorang setelah vaksinasi:

  • Nyeri di tempat suntikan;
  • Kelelahan;
  • Sakit kepala;
  • Sekujur badan terasa sakit;
  • Demam;
  • Merasa tidak enak badan atau sakit.
Tray, syringe and vaccine
Keterangan gambar, Alat-alat yang digunakan dalam vaksinasi pertama melawan Covid-19 di luar studi klinis dipajang di Museum Sains, London.

Pemerintah Inggris menambahkan, "sebagian besar efek samping ini ringan dan berlangsung kurang dari seminggu".

Namun, bagaimana dengan efek samping yang serius? Apa yang diungkap data terbaru?

Catatan terbaru dari statistik semacam itu diterbitkan oleh Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit (CDC) AS.

Menurut CDC, ini adalah jumlah proporsional kasus efek samping paling serius yang diketahui sejauh ini:

  • Anafilaksis (reaksi alergi parah setelah vaksinasi): lima kasus per satu juta dosis yang diberikan;
  • Trombosis terkait vaksin Janssen: empat kasus per satu juta dosis yang diberikan;
  • Sindrom Guillain-Barré terkait dengan vaksin Janssen: tidak ada angka resmi , tetapi ada "peningkatan kecil" pada pria di atas 50 tahun yang menggunakan vaksin ini, dibandingkan dengan mereka yang menerima dosis Pfizer;
  • Miokarditis dan perikarditis (radang jantung) pada orang muda yang telah menggunakan vaksin Pfizer: dari usia 12-15 tahun: 70,7 kasus per satu juta dosis yang diberikan; dari usia 16-17 tahun: 105,9 kasus per satu juta dosis yang diberikan; dari 18 hingga 24 tahun: 52,4 kasus per satu juta dosis yang diberikan.

CDC melaporkan "sebagian besar pasien dengan miokarditis atau perikarditis, yang mendapat perawatan obat-obatan dan istirahat dengan baik merasa kondisinya membaik dengan cepat".

CDC melanjutkan: "beberapa studi dan tinjauan data dari sistem pemantauan keamanan terus menunjukkan bahwa vaksin itu aman".

Dalam hal kematian, catatan di AS menunjukkan, dari 657 juta dosis yang diberikan di negara tersebut hingga 7 Desember 2022, ada 17.800 kematian teridentifikasi setelah vaksinasi (atau 0,0027% dari total), bahkan jika pemberian vaksin tidak diidentifikasi sebagai penyebab langsung dari hal ini.

Investigasi terhadap semua kasus tersebut melalui analisis rekam medis dan otopsi hanya menemukan sembilan kematian yang terkait dengan penggunaan vaksin Janssen.

Dr Ballalai menekankan bahwa tidak ada obat, vaksin, atau prosedur yang bebas risiko.

"Semua angka ini menunjukkan bahwa efektivitas biaya vaksinasi jauh lebih besar daripada masalah yang jarang terjadi," katanya.

Apa yang akan terjadi selanjutnya?

Dua tahun setelah vaksin pertama Covid-19 tersedia, masih banyak tantangan yang harus dihada[i sampai pada akhirnya virus corona dapat dikendalikan secara efektif.

"Dari sudut pandang global, masih ada negara-negara yang tertinggal jauh dalam hal vaksinasi," kata ahli epidemiologi André Ribas Freitas.

Di Haiti, misalnya, hanya 2% populasi yang sudah mendapatkan dua dosis awal. Jumlah vaksinasi juga rendah di negara-negara seperti Aljazair (15%), Mali (12%), Kongo (4%), dan Yaman (2%).

"Ini merupakan masalah yang sangat besar, karena transmisi virus yang intens, yang dibiarkan terus menerus, merupakan risiko munculnya varian yang lebih menular atau patogen", katanya memperingatkan.