Pemilu Malaysia: Anwar Ibrahim disumpah menjadi Perdana Menteri ke-10

Sumber gambar, Getty Images
- Penulis, Rohmatin Bonasir
- Peranan, BBC News Indonesia, Kuala Lumpur
Pemimpin oposisi veteran Malaysia, Anwar Ibrahim, disumpah sebagai perdana menteri baru negara tersebut, setelah beberapa hari kebuntuan pasca-pemilu, Kamis sore (24/11).
Raja Malaysia Al-Sultan Abdullah Ri'ayatuddin Al-Mustafa Billah Shah menyetujui pengangkatan Anwar Ibrahim sebagai perdana menteri Malaysia ke-10.
Baik Anwar maupun kandidat lain, mantan PM Muhyiddin Yassin, tidak mendapatkan suara mayoritas yang dibutuhkan untuk membentuk pemerintahan.
Saat ini, masih belum jelas dengan siapa partai pimpinan Anwar akan berkoalisi.
"Setelah mempertimbangkan pandangan Yang Dipertuan Agung Pemimpin Malaysia, Raja telah memberikan persetujuannya untuk menunjuk Anwar Ibrahim sebagai Perdana Menteri Malaysia ke-10," sebut pernyataan dari Istana Negara pada Kamis.

Sumber gambar, HASNOOR HUSSAIN/Reuters
Koalisi Pakatan Harapan pimpinan Anwar Ibrahim memperoleh 82 kursi parlemen, disusul Perikatan Nasional 73 kursi, sedangkan Barisan Nasional yang berkuasa merosot ke peringkat tiga dengan 30 kursi parlemen. Masih ada satu daerah pemilihan yang belum dihitung.
Adapun mantan Perdana Menteri Mahathir Mohamad yang mencalonkan diri pada usia 97, gagal mempertahankan kursinya di daerah pemilihan Langkawi.
Jumlah kursi parlemen Malaysia yang diperebutkan dalam pemilu adalah 222. Namun pemilihan di satu daerah pemilihan ditunda ke tanggal 7 Desember menyusul kematian seorang kandidat. Dengan demikian total kursi parlemen yang diperebutkan kemarin adalah 221.
Koalisi parpol harus memenangkan setidaknya 112 kursi untuk membentuk pemerintah, dan menunjuk perdana menteri. Tapi karena ada penundaan di satu daerah pemilihan, maka koalisi minimal harus mendapat 111 kursi.
Dengan hasil itu, maka koalisi-koalisi yang unggul dalam perolehan suara harus berusaha menggandeng koalisi lain atau partai-partai lain.
Pemimpin oposisi Anwar Ibrahim mengaku koalisinya, Pakatan Harapan (PH), berhasil mengumpulkan cukup suara untuk membentuk pemerintah baru, tanpa menjabarkan siapa-siapa saja yang digandeng.
"Kita telah mencapai angka 111, 112," katanya dalam jumpa pers di Subang Jaya pada Minggu dini hari (20/11).

Sumber gambar, LAI SENG SIN/
Negosiasi alot berjalan selama lima hari, untuk mencapai kesepakatan tentang pemerintahan baru, di mana berbagai kombinasi partai dan bentuk aliansi dibahas, dan kemudian ditolak.
Banyak pemimpin politik memiliki perbedaan pribadi dan ideologis, sehingga sulit untuk menemukan satu suara.
Pada akhirnya keputusan diambil oleh Raja Abdullah, yang lalu memanggil semua pemimpin ke istana dan menemukan titik temu yang memadai.
Tidak jelas bentuk pemerintahan baru nanti; apakah koalisi formal partai, pemerintahan partai minoritas, atau pemerintahan yang menyatukan semua partai utama.
Muhyiddin Yassin tolak bekerja bersama Anwar
Perikatan Nasional (PN) merupakan aliansi baru antara Partai Bersatu pimpinan mantan Perdana Menteri Muhyiddin Yassin dan Partai Islam se-Malaysia (PAS). Koalisi itu menyasar pemilih Melayu Muslim.
Muhyiddin Yassin selaku pimpinan PN telah menyatakan tidak akan bekerja sama dengan PH.
"Untuk membentuk pemerintah pimpinan PN, saya akan berbicara dengan partai-partai di Sabah dan Sarawak," katanya.
Di Sarawak terdapat koalisi GPS yang memperoleh 22 kursi, di Sabah ada koalisi GRS dengan enam kursi dan Partai Warisan dengan tiga kursi.
Dengan demikian kunci ke Putrajaya terletak pada kemampuan PH atau PN untuk meraih dukungan dari koalisi-koalisi yang lain.
Hasil pemilu kali ini sesuai dengan perkiraan para analis bahwa kubu oposisi semakin terpecah belah dengan semakin banyaknya partai yang merebutkan lumbung suara yang sama.
Namun mereka pada umumnya tidak menyangka jika koalisi Barisan Nasional - yang berkuasa sejak Malaysia merdeka pada 1957, kecuali ketika dikalahkan oposisi pada 2018 walau hanya 22 bulan - akan terperosok seperti ini.
Dalam pemilu 2018, koalisi pimpinan UMNO itu mendapat 79 kursi parlemen. Sekarang BN hanya meraih 30 kursi.
Antrean pemilih
Data Suruhanjaya Pilihan Raya Malaysia (SPRM) — setara dengan KPU di Indonesia - menunjukkan jumlah pemilih terdaftar 21 juta orang, termasuk 6,23 juta pemilih baru.
Peningkatan jumlah pemilih dikarenakan adanya sistem pendaftaran otomatis bagi warga yang memenuhi syarat dan karena usia memilih diturunkan dari 21 menjadi 18 tahun untuk pertama kalinya.
Ada 1,4 juta pemilih golongan usia 18-20, yang dikenal dengan sebutan Undi18.

Sumber gambar, FAZRY ISMAIL/EPA
Suruhanjaya Pilihan Raya Malaysia mengatakan jumlah pemilih yang menggunakan hak suara mencapai 73% atau meningkat 3,2 juta orang dibanding pemilu 2018.
Menurut pengamat politik dari Universitas Teknologi Mara, Mujibu Abdul Muis, pemilu kali ini amat tenang tapi sambutannya hangat.
"Persentase pemilih sejauh ini dilihat meningkat berbanding pemilu lalu. Tetapi saingan blok Pakatan sekarang dua yang dominan, mungkin menjadikan tidak ada partai yang akan sampai ke angka 112," jelasnya kepada BBC News Indonesia.

Sumber gambar, HASNOOR HUSSAIN/Reuter
Antusiasme warga Malaysia tampak dari antrean di tempat-tempat pemungutan suara pada Sabtu (19/11).
Hujan sempat turun di sebagian wilayah pada pagi hari, tetapi kemudian banyak pemilih harus berdiri dalam antrean di tengah terik matahari sebelum masuk ke TPS. Sebagian TPS berada di sekolah-sekolah yang libur pada hari Sabtu.
Salah seorang pemilih di daerah pemilihan Gombak, Selangor, menceritakan dia mulai mengantre pukul 10.00 sesuai dengan rekomendasi waktu dalam kartu memilihnya.
"Tapi saya mesti menunggu sampai dua jam sebelum masuk ke bilik pengundi karena banyak orang. Orang-orang tua juga sama, harus menunggu walau mereka dialokasikan waktu paling awal," kata Ahmad kepada BBC News Indonesia.
Lima kandidat bertarung di dapil Gombak, termasuk petahana Azmin Ali dan Menteri Besar Selangor Amirudin Shari.

Sumber gambar, HASNOOR HUSSAIN
Seorang pemilih lain, Grace mengaku telah mengantre selama satu setengah jam di sebuah TPS Petaling Jaya.
"Orang ramai sekali, tampak bersemangat. Saya mau perubahan di Malaysia," katanya seraya menambahkan dia mendukung koalisi oposisi.

Sumber gambar, SPRM
Sistem pemilihan umum di Malaysia mengadopsi model parlementer Inggris setelah merdeka pada tahun 1957.
Baca juga:
Indera Ikmalrudin Ishak selaku Sekretaris Suruhanjaya Pilihan Raya Malaysia (SPRM) mengatakan tempat pemungutan suara yang disediakan mencapai 8.958 unit.
Dikatakan TPS dibuka dari pukul 08.00 hingga 18.00 untuk wilayah Semenanjung, dan pukul 07.30 sampai 17.30 untuk wilayah Sabah dan Sarawak.

Sumber gambar, HASNOOR HUSSAIN/Reuters
Sebelum pencoblosan dimulai, jumlah lembaga telah mengeluarkan proyeksi hasil pemilihan berdasarkan survei sebelum pencoblosan.
Sebagian menempatkan koalisi Pakatan Harapan pimpinan sosok oposisi Anwar Ibrahim unggul dalam perolehan suara. Sebagian lagi memproyeksikan koalisi yang akan unggul adalah Barisan Nasional di bawah partai utama UMNO.

Sumber gambar, Rohmatin Bonasir/BBC News Indonesia
Ada pula yang memproyeksikan Perikatan Nasional, dengan partai utama Bersatu dan PAS, bisa unggul dalam perolehan suara.
Walaupun proyeksi mereka berbeda-beda, ada satu kesamaan dari hasil survei berbagai lembaga itu. Tak satu pun koalisi diperkirakan akan bisa mengumpulkan cukup suara untuk membentuk pemerintahan sendiri, tanpa harus menggandeng koalisi lain.
Pemilu dipercepat sembilan bulan dari tenggat waktu. Perdana Menteri Ismail Sabri Yaakob mendapat tekanan dari faksi-faksi di partainya, UMNO, untuk menggelar pemilu ini.
Lihat video:











