You’re viewing a text-only version of this website that uses less data. View the main version of the website including all images and videos.
Penembakan di Denmark: Tersangka dengan 'gangguan jiwa' didakwa pembunuhan, 'tak ada unsur teror' dalam serangan
- Penulis, Matt Murphy & Patrick Jackson
- Peranan, BBC News
Seorang pria berusia 22 tahun yang diduga menewaskan tiga orang di pertokoan di ibu kota Denmark, Kopenhagen, dikenakan dakwaan pembunuhan di pengadilan Senin (04/07).
Dua warga Denmark, keduanya berusia 17 tahun serta warga Rusia berusia 47 tahun, meninggal dalam penembakan pada Minggu (03/07).
Tersangka pria itu diduga memiliki gangguan kejiwaan dan tak ada indikasi serangan itu bermotif teror, kata polisi.
Pria itu tambil di pengadilan dengan mengenakan kaos biru dan didampingi tiga aparat bersenjata lengkap, menurut media Denmark.
Kuasa hukum tersangka menolak mengajukan pembelaan untuk terdakwa dalam persidangan yang dihadiri media. Hakim memerintahkan sisa persidangan untuk dilakukan secara tertutup. Hakim juga memberlakukan larangan mengungkap nama tersangka dan korban.
Tersangka akan ditahan di bangsal tertutup rumah sakit jiwa selama 24 hari, kata pihak berwenang.
Pria itu memiliki senjata dan pisau dan sasaran penembakan dilakukan secara acak "tidak ada motivasi gender atau yang lain," kata polisi.
Kepala Polisi Soeren Thomassen mengatakan mereka yakin tersangka yang digambarkan sebagai "orang Denmark" bertindak sendiri dan dibantu oleh orang lain.
Thomassen menambahkan tersangka dikenal secara selintas oleh polisi.
Kepolisian juga tengah menyelidiki video seorang pria muda dengan senjata yang beredar di media sosial sejak Minggu (03/07) dan diyakini video otentik.
Selain korban meninggal, empat orang luka-luka dalam serangan itu.
Dua warga Denmark, perempuan berusia 40 tahun dan 19 tahun serta dua warga Swedia, pria tengah baya dan seorang remaja perempuan.
Satu orang di antaranya masih dalam kondisi kritis kata dokter di salah satu rumah sakit yang merawat korban tanpa rincian lebih lanjut.
Saat ditangkap, pria yang diduga pelaku penembakan memiliki senapan dan amunisi.
Para pemilik toko di mal diminta untuk menyimpan rekaman video CCTV.
Pusat perbelanjaan Field's merupakan pusat perbelanjaan mal terbesar di Denmark, yang memiliki lebih dari 140 toko dan restoran. Mal bertingkat ini terletak di pinggiran Kopenhagen, tepat di seberang jalur kereta bawah tanah yang terhubung ke pusat kota.
Baca juga:
Perdana Menteri Denmark, Mette Frederiksen, mengatakan Denmark mengalami serangan yang kejam.
Frederiksen menyatakan turut berbelasungkawa kepada mereka yang kehilangan orang-orang yang dicintai dalam kejadian ini. Dia berkata ingin mengajak warga Denmark untuk berdiri bersama dan saling mendukung di masa sulit ini.
"Denmark dilanda serangan kejam pada Minggu malam," katanya. "Beberapa orang tewas. Bahkan lebih banyak lagi yang terluka. Keluarga-keluarga yang tak bersalah sedang berbelanja atau makan di luar. Anak-anak, remaja, dan orang dewasa."
"Kota kami yang biasanya indah dan sangat aman berubah dalam hitungan detik," ujarnya.
Keluarga Kerajaan Denmark juga mengucapkan "duka terdalam" untuk" para korban, kerabat mereka, dan semua orang yang terkena dampak tragedi itu".
"Kami belum mengetahui sepenuhnya tragedi itu, tetapi sudah jelas bahwa banyak orang kehilangan nyawa dan lebih banyak lagi yang terluka," kata Ratu Margrethe, Putra Mahkota Frederik, dan Putri Mahkota Mary, dalam keterangan pers.
'Dia menembaki kerumunan'
Saksi mata menceritakan para pengunjung mal panik saat tembakan terdengar.
Seorang saksi bernama Emilie Jeppesen mengatakan kepada surat kabar Jyllands-Posten, "Tidak tahu apa yang terjadi. Tiba-tiba saja ada kekacauan di mana-mana."
Lisbeth, saksi mata lain, berkata dia bersembunyi di sebuah toko saat terjadi penembakan.
"Kami mendengar tembakan dari sisi lain, dua atau tiga kali tembakan, dan kemudian orang-orang panik dan mulai berlari menuju pintu keluar," katanya.
"Orang-orang masuk ke toko dan pagar etalase ditutup. Kami bersembunyi di belakangnya."
Saksi lainnya, Rikke Levandovski, mengatakan kepada penyiar televisi TV2 bahwa dia bersembunyi di belakang kasir di dalam salah satu toko di pusat perbelanjaan setelah mendengar suara tembakan.
"Orang-orang awalnya mengira itu pencuri, lalu tiba-tiba saya mendengar suara tembakan dan berlindung di belakang kasir di dalam toko," kata Rikke.
"Dia menembaki kerumunan, bukan ke langit-langit atau ke lantai," tambahnya.
Saksi lainnya, Mahdi Al-Wazni, mengatakan kepada TV2 bahwa penembak membawa "senapan yang biasanya digunakan untuk berburu".
Konser Harry Styles dibatalkan
Konser penyanyi asal Inggris, Harry Styles, awalnya dijadwalkan digelar di Copenhagen's Royal Arena, sekitar satu kilometer dari tempat kejadian. Namun pertunjukan itu dibatalkan.
Ribuan penonton konser sudah berada di dalam arena konser dan menunggu Harry Styles naik ke panggung ketika berita tentang penembakan fatal itu menyebar.
Pada pukul 20.00 waktu setempat, penggemar diberitahu bahwa konser akan ditunda selama satu jam karena pihak penyelenggara sedang berdiskusi dengan polisi.
Namun, 90 menit kemudian kerumunan 17.000 orang itu diberitahu bahwa pertunjukan telah dibatalkan karena "masalah keamanan".
Para kru pun langsung mengemasi panggung. Polisi mengarahkan para penonton konser menuju metro dan transportasi umum yang tetap beroperasi.
Tempat parkir mobil terdekat ditutup dan hotel-hotel di area tersebut juga tidak dapat diakses oleh pengunjung.
Styles menulis sebuah pernyataan di akun Snapchat-nya: "Saya dan tim berdoa untuk semua orang yang terdampak dalam penembakan di pusat perbelanjaan Kopenhagen. Saya terkejut."
Tak lama setelah penembakan, keluarga kerajaan Denmark mengumumkan acara perjamuan yang akan diselenggarakan oleh Putra Mahkota Frederik juga dibatalkan. Acara tersebut tadinya diselenggarakan untuk merayakan terpilihnya Denmark menjadi tuan rumah tiga tahap pertama Tour de France.
Beberapa pemimpin negara tetangga mengatakan bahwa penembakan itu mengerikan dan menyampaikan belasungkawa kepada keluarga yang terkena dampak.
Perdana Menteri Finlandia, Sanna Marin, mengutuk "tindakan kekerasan yang mengejutkan" itu. Perdana Menteri Irlandia, Michael Martin, juga menyampaikan "simpati terdalamnya kepada keluarga dan teman-teman dari korban yang terbunuh dan terluka".
Adapun, pemimpin Norwegia, Jonas Gahr Store, mengatakan "pikirannya tertuju pada para korban dan kerabat mereka dan kepada regu penolong yang saat ini bekerja menyelamatkan nyawa".
Peristiwa teror besar terakhir kali terjadi di Denmark pada 2015, ketika dua orang tewas dan enam petugas polisi terluka dalam serangan di pusat budaya dan sinagoga di Kopenhagen.
Laki-laki bersenjata yang mendalangi serangan itu kemudian tewas dalam baku tembak dengan polisi.