Perang Ukraina: Ratusan transpuan gagal melarikan diri dan 'terjebak' di tengah konflik

Transgender Ukraina

Sumber gambar, Handout

Keterangan gambar, Seorang transpuan di Ukraina bernama Nikita, 29, kini terjebak di tempat penampungan karena gagal melarikan diri dari negaranya.
    • Penulis, Josh Parry
    • Peranan, LGBT+ producer, BBC News

Ratusan transpuan Ukraina terjebak karena ditolak di perbatasan ketika berusaha melarikan diri dari negara yang tengah dilanda perang akibat invasi Rusia itu.

Sejumlah badan amal mengatakan kepada BBC bahwa 90% transpuan yang mereka bantu untuk mengungsi gagal keluar dari negara itu.

Di tengah invasi Rusia, laki-laki berusia 18-60 tahun dilarang meninggalkan Ukraina, tetapi banyak transgender masih menggunakan identitas dan jenis kelamin ketika lahir di dalam dokumen mereka.

Hal ini memaksa sejumlah transgender berpura-pura kehilangan paspor dan melarikan diri melalui rute ilegal.

Sedangkan yang lainnya, seperti Nikita yang berusia 29 tahun, kini terjebak dan merasa dirinya berada dalam kondisi rentan.

Baca juga:

Seperti banyak transgender Ukraina, Nikita belum mengubah nama dan jenis kelamin di paspornya. Sebab proses itu memerlukan pemeriksaan medis dan psikiatri yang intens.

Itu berarti dokumen-dokumennya mencantumkan identitas gender Nikita sebagai laki-laki.

Setelah melarikan diri dari rumahnya di Chernihiv, Nikita berusaha menyeberangi perbatasan Moldova, namun dia mengaku menjadi sasaran "lelucon transfobia" oleh petugas perbatasan dan akhirnya memilih kembali.

Unggahan media sosialnya beberapa hari sebelum invasi Rusia memperlihatkan Nikita sebagai sosok perempuan muda yang percaya diri dan ceria, mengenakan riasan warna-warni, serta gemar menyanyi dan menari.

Tetapi ketika dia bercerita dari tempat penampungan di Turnipol, Nikita menjadi sosok yang pendiam, cenderung menarik diri, dan mengatakan dia merasa seperti "menjadi orang lain".

Transgender Ukraina

Sumber gambar, Nikita

Keterangan gambar, Nikita mengaku dia merasa tidak aman di tempat penampungan, sehingga dia memilih menggunakan pakaian yang "maskulin".

Nikita hanya membawa barang bawaan yang muat di dalam sebuah ransel kecil. Dia menyembunyikan rambut panjangnya, tidak menggunakan riasan wajah, dan mengganti penampilannya dengan yang pakaian "maskulin".

Dia mengatakan, "rasanya saya seperti dipenjara sebagai seorang transpuan, karena paspor saya menyatakan saya adalah laki-laki."

Meski LGBT+ tidak dilarang untuk bergabung dengan militer Ukraina, namun Nikita merasa tidak aman untuk melakukan itu dan yakin akan ditolak karena identitas gendernya.

Dia menuturkan, "Saya tidak yakin militer akan memahami saya, saya juga tidak tahu bagaimana reaksi mereka apabila mengetahui saya seorang transpuan. Tidak aman bagi saya untuk bergabung."

Salah satu ketua organisasi transgender Ukraina, Cohort, Anastasiia Domani, mengatakan mayoritas transgender yang dia bantu belum mengganti identitas gender mereka.

Penangguhan beberapa layanan medis selama perang pun membuat transgender tidak bisa mengakses layanan untuk mengganti identitas gender mereka.

Transgender Ukraina

Sumber gambar, Olena Shevchenko

Keterangan gambar, Olena Shevchenko membantu mendistribusikan hormon kepada transgender yang kesulitan mengaksesnya.

"Untuk saat ini, kami menyarankan para transgender yang masih memiliki identitas seperti saat lahir, tidak datang ke wilayah perbatasan," kata dia.

"Sekitar 90% atau bahkan lebih dari perempuan yang kami bantu ditolak di perbatasan karena identitas gender di paspor mereka berbeda."

Sejak invasi Rusia dimulai, muncul gerakan di kalangan aktivis LGBT+ dan badan amal yang menawarkan bantuan dan dukungan. Banyak dari mereka memilih bertahan di Ukraina dan mengkoordinasikan bantuan-bantuan itu.

Anastasiia sendiri telah mengubah identitasnya sebagai seorang transpuan. Dia bisa melintasi perbatasan dengan aman, namun memilih untuk tetap tinggal di Kyiv.

Setelah membantu mantan istri serta putrinya untuk mengungsi dengan aman, Anastasiia juga menjadikan apartemennya sebagai basis untuk membantu para transgender di Ukraina.

Dia juga memberi masukan pada orang-orang yang ingin melintasi perbatasan, memilah dan mendistribusikan obat-obatan, hingga mengirim uang kepada mereka yang tinggal di tempat penampungan agar bisa membeli makanan dan pulsa telepon seluler. Dengan demikian, mereka tetap dapat berkomunikasi dengan keluarga dan teman.

Transgender Ukraina

Sumber gambar, Insight Ukraine

Keterangan gambar, Olena Shevchenko telah menjadi aktivis LGBT+ di Ukraina sejak 2008.

Olena Shevchenko adalah ketua dari Insight Ukraina, sebuah badan amal LGBT+ yang mendirikan tempat penampungan khusus di Lviv dan Chernivstsi untuk orang-orang LGBT+ yang terpaksa mengungsi.

Insight Ukraina menawarkan dukungan psikologis, konseling, serta mendistribusikan obat-obatan seperti hormon untuk transgender yang kesulitan mengaksesnya dan terjebak di Ukraina.

Sejak kabar mengenai tempat penampungan itu menyebar, mereka pun dibanjiri permohonan bantuan.

"Hampir setiap hari saya menerima lebih dari 50 email yang meminta bantuan, hari terasa begitu panjang," kata Olena,

"Ketika kami membantu lesbian, prosesnya cukup mudah. Mereka melintasi perbatasan dan kami menerima pesan yang membuat kami senang, bahwa mereka bisa menyeberang dengan selamat."

"Tetapi situasi yang dihadapi transgender betul-betul berbeda. Kami tidak pernah tahu apakah upaya ini akan berhasil atau tidak, dan kami tidak tahu harus bilang apa ke mereka."