Perang di Ukraina: Anak-anak menjadi korban serangan Rusia di Mariupol, 'saya melihat cucu perempuan saya, kepalanya benar-benar hancur'

Keterangan video, Anak-anak yang selamat dari pemboman Rusia di Kota Mariupol dirawat di dekat kota Zaporizhzhia
    • Penulis, Wyre Davies
    • Peranan, BBC News, Zaporizhzhia

Dari ranjang di sebuah rumah sakit di Ukraina, seorang anak kecil bernama Artem menatap ke langit. Dia mencengkeram mainan traktor berwarna kuning dan membisu ketika seorang perawat memeriksa kondisinya.

Pecahan peluru dari sebuah ledakan serangan Rusia mengenai perut Artem, juga orang tua dan kakek-neneknya ketika mereka mencoba melarikan diri dari Kota Mariupol, sebuah kota di pesisir selatan Ukraina yang telah dikepung Rusia. Artem menjadi korban perang Putin di saat usianya bahkan belum mencapai tiga tahun.

Di ranjang rumah sakit di sebelah Artem, berbaring seorang gadis berusia 15 tahun bernama Masha, yang juga berasal dari sekitar Mariupol. Kaki kanannya diamputasi setelah terkena ledakan dari serangan Rusia pada Selasa lalu (15/3).

Dampak terburuk dari perang Putin dan bombardir tanpa henti pasukan Rusia terhadap orang-orang yang terperangkap di Mariupol terlihat jelas di Rumah Sakit Anak di kota terdekatnya, Zaporizhzhia.

Ukraina, Rusia
Keterangan gambar, Masha adalah satu dari ratusan warga sipil Rusia yang menjadi korban serangan Rusia dalam kurun tiga pekan terakhir.

Ratusan orang telah dievakuasi ke Rumah Sakit Anak Zaporizhzhia. Luka fisik mereka terlihat jelas dan suatu saat mungkin akan sembuh. Tetapi trauma psikis yang mereka alami mungkin akan bertahan selama mereka hidup.

Baca juga:

Dokter dan kerabat dari anak-anak yang masih hidup meminta BBC untuk menyebarkan kisah mereka, di antaranya Kepala Rumah Sakit Anak, dr Yuri Borzenko. Dr Borzenko tidak bisa menyembunyikan kemarahannya atas apa yang telah dilakukan Rusia.

"Saya benci Rusia," kata Borzenko. "Gadis yang kehilangan kakinya (Masha) sangat trauma sehingga dia tidak mau makan atau minum berhari-hari. Secara mental, dia tidak sanggup menghadapi apa yang telah terjadi. Kami harus memberinya makan melalui infus."

"Anak laki-laki lainnya yang berusia enam tahun, dengan pecahan peluru di bagian tengkoraknya -tanpa air mata maupun emosi—menyaksikan ibunya terbakar sampai meninggal di mobil mereka setelah kena serangan. Dua hari kemudian, anak itu mengatakan 'Ayah, carikan aku ibu baru, aku butuh seseorang untuk mengantarku ke sekolah'."

Apa yang terjadi di Mariupol adalah bencana kemanusiaan, bahkan mungkin bisa disebut sebagai kejahatan perang. Diperkirakan sebanyak 90% bangunan kota diperkirakan telah rusak atau hancur.

Pekan lalu, sebuah teater yang menjadi tempat berlindung sekitar 1.000 orang telah diserang. Kemudian pada Minggu (20/3) sebuah sekolah seni dengan sekitar 400 orang di dalamnya juga telah diserang.

Korban perang Rusia-Ukraina
Keterangan gambar, Dokter Yuri Borzenko kini menjalankan rumah sakit anak-anak di tengah perang.

Mereka yang berhasil melarikan diri dari Mariupol juga menceritakan kengerian yang tidak terbayangkan, seperti mayat-mayat tergeletak di jalanan, dan rumah-rumah hancur.

Di sebuah kafe di pusat kota Dnipro, yang juga telah diserang Rusia, kami bertemu Oksana Gusak. Oksana melarikan diri dari Mariupol pada pekan lalu bersama suaminya, Andrii serta orang tuanya. Mereka melalui jalan-jalan beranjau serta banyak pos pemeriksaan tentara Rusia.

Bagi Oksana, meminum segelas air saja sudah terasa bagai kemewahan, setelah mereka kehabisan segalanya di Mariupol.

Mereka menolak dengan sopan tawaran kopi dari kami, sebab itu dianggap akan menyinggung anggota keluarga mereka yang masih terjebak di Mariupol.

Andrii bercerita bahwa di Mariupol tidak ada pasokan air, listrik, dan pemanas juga tidak menyala. Selain itu, akses komunikasi pun tidak ada sehingga satu-satunya pilihan adalah pergi meninggalkan kota itu.

Korban perang Rusia-Ukraina
Keterangan gambar, Oksana Gusak dan keluarganya adalah satu di antara 35.000 orang yang melarikan diri dari Mariupol.

"Tentu saja kami mengambil risiko, tetapi pada saat itu saya tidak peduli apakah saya akan mati di Mariupol atau mati saat mencoba keluar dari kota itu," kata Oksana.

"Kami tahu ada peluang, kami akan menjadi sasaran tapi kami menyadari bahwa kami harus mengambil kesempatan itu. Apabila kami bertahan (di Mariupol), peluang untuk hidup akan menjadi nol."

Andrii dan Oksana beruntung bisa melarikan diri tanpa cedera dan tetap bersama. Mereka menyadari keberuntungan itu.

Di Rumah Sakit Anak Zaporizhzhia, saya bertemu seorang pria yang berduka karena keluarganya hancur berantakan akibat perang ini.

Putrinya yang berusia 26 tahun, Natasha, beserta cucu perempuannya yang berusia 4 tahun, Dominica, terbunuh ketika terjadi serangan Rusia di sekitar tempat mereka berlindung di Mariupol.

"Saya melihat ke tanah dan di sana terbaring cucu perempuan saya, kepalanya benar-benar hancur," kata Vladimir. "Dia tergeletak di sana tanpa napas dan tepat di sebelahnya, terbaring putri saya dengan kaki patah."

Korban perang Rusia-Ukraina

Sumber gambar, Family handout/BBC

Keterangan gambar, Vladimir dan keluarganya sebelum perang akibat invasi Rusia.

Dominica tewas seketika, sedangkan ibunya meninggal karena luka-luka itu keesokan harinya.

Meski hatinya hancur, Vladimir berusaha tetap kuat demi putri keduanya bernama Diana, yang juga terluka parah dalam ledakan itu. Diana akan menjalani operasi darurat.

Namun Vladimir tidak bisa menyembunyikan rasa sakitnya. "Ya Tuhan, mengapa Engkau memberi cobaan ini kepada saya? Tidak seharusnya saya menguburkan anak-anak saya. Gadis-gadis manisku, saya gagal melindungi kalian."

line