Pembangunan markas Amazon: Pertarungan untuk menyelamatkan budaya Afrika Selatan melawan kepentingan bisnis

Ceremony

Masyarakat adat di Kota Cape Town, Afrika Selatan, berusaha untuk menghentikan pembangunan markas baru perusahaan raksasa Amazon di Afrika. Ini merupakan pertarungan antara kepentingan warisan budaya melawan kepentingan ekonomi, seperti ditulis reporter Vumani Mkhize.

Hari ini mendung di Cape Town, dan Table Mountain yang indah diselimuti kabut tipis yang perlahan turun menuju lereng hijau yang berbatu.

Di kaki gunung bersejarah ini, sejumlah aktivis dari komunitas Khoi dan San berkumpul dekat pintu masuk situs besar yang dikenal sebagai River Club.

Komunitas ini dianggap sebagai penghuni paling tua di Afrika bagian selatan.

Berpakaian tradisional dengan kulit binatang, para aktivis masyarakat adat membakar daun aromatik sage dan memanggil leluhur mereka untuk pembersihan dan perlindungan.

Mereka melantunkan mantera kuno saat asap pembakaran sage membumbung ke udara.

Someone burning sage

Ritual yang khas ini adalah upacara pembersihan di lahan sengketa.

Di seberang jalan dari situ, proyek pembangunan sedang berlangsung. Ritual adat ini tenggelam dari hiruk-pikuk mobil truk yang mengangkut tanah keluar dan masuk ke dalam area proyek. Sementara buldoser dan ekskavator terus bekerja menggerus tanah.

Baca juga:

Tahap pertama proyek pembangunan ini hampir mencapai US$300 juta (Rp4,27 triliun), termasuk kantor Amazon, yang direncanakan selesai dalam dua tahun. Namun, masyarakat adat Khoi dan San bertekad untuk menghentikannya.

Tauriq Jenkins dari Dewan Goringhaicona Khoena, kelompok Khoi, mengatakan lahan yang sedang dibangun ini punya nilai sejarah dan budaya terhadap masyarakat adat.

"Tempat ini, bagi kami adalah suci, karena berada di titik pertemuan sungai Liesbeek dan Black. Tanggul ini dikenal sebagai tempat lahirnya orang-orang Khoena [Khoi]," katanya kepada BBC.

Ini juga merupakan tempat penjajah pertama Eropa melakukan pertempuran pertama dengan penduduk asli Afrika Selatan, yang ditandai dengan plakat biru.

Proyek pembangunan seluas 150.000 meter persegi juga meliputi properti perumahan, dan pertokoan, serta perkantoran.

Perusahaan Amazon yang menjadi kunci bagi keberadaan perusahaan-perusahaan lainnya, akan menempati hampir setengah lahan proyek ini. Tempat di mana mereka menjalankan operasi borjuasinya di seluruh Afrika.

Raksasa ritel itu menunjuk langsung pengembang proyek, Liesbeek Leisure Properties Trust.

Lapangan kerja, lapangan kerja dan lapangan kerja

Jody Aufrichtig, kepala proyek pembangunan ini, mengatakan pembangunan akan memberikan dorongan besar bagi ekonomi yang selama ini bergantung pada pariwisata di Cape Town. Sebelumnya terpukul karena pandemi virus corona.

Dia mengatakan, proyek ini menciptakan 6.000 lapangan kerja baru selama pembangunan, dan 13.000 lapangan kerja tidak langsung.

"Ini sangat dibutuhkan, khususnya setelah pandemi, sejumlah kekacauan dan masalah sudah kami alami di Afrika Selatan.

"Ini akan memberikan harapan warga Cape Town dan Afrika Selatan, pembangunan ekonomi."

Perselisihan antara pengembang dan masyarakat adat Cape Town ini terjadi di tengah krisis pengangguran terbesar yang pernah terjadi di Afrika Selatan.

Building site
Keterangan gambar, Markas perusahaan ini berada di kaki Table Mountain yang terkenal di Cape Town.

Rasio pengangguran lebih dari 34% adalah yang terburuk dari 82 negara yang dipantau oleh kantor berita Bloomberg.

Tahun lalu, perekonomian terjun bebas hingga 7%, belum pernah terjadi sebelumnya. Meskipun saat ini mulai merangkak naik, persoalan penggangguran masih terjadi.

Dalam konteks inilah ekonom Ivan Turok, berpendapat bahwa proyek tersebut harus dilanjutkan. Ia menambahkan, ini akan meningkatkan tingkat kepercayaan investor terhadap negara.

"Ini akan membantu mendorong investor asing lainnya masuk ke negara ini dengan alasan negara ini stabil. Negara ini punya basis keterampilan yang baik, dan ini adalah tempat untuk masa depan," katanya.

Tauriq Jenkins
BBC
This very place is where land was stolen for the first time in South Africa"
Tauriq Jenkins
Goringhaicona Khoena Council
1px transparent line

Sementara, keuntungan ekonomi dari proyek ini mungkin akan menarik, tapi bagi komunitas adat masalahnya lebih besar dari itu.

Situs yang menjadi area pembangunan ini adalah tempat pertama kali konflik antara masyarakat adat dan kolonial Belanda yang terjadi pada 1659.

"Ini merupakan lokasi di mana lahan dirampas untuk pertama kalinya di Afrika Selatan," kata Jenkins.

Perampasan tanah masyarakat adat Khoi dan San pertama kali telah memicu perampasan lahan-lahan lainnya di seluruh negeri selama berabad-abad. Masalah kepemilikan lahan, kekurangan lahan, masih menjadi persoalan yang pelik.

Dua puluh tujuh tahun sejak berakhirnya apartheid, yang melegalkan rasisme, banyak lahan di Afrika Selatan masih dimiliki oleh minoritas kulit putih.

Pembagian lahan bergerak seperti siput, ketidaksetaraan tetap meradang.

Jenkins dan anggota komunitas Khoi dan San masih tak bergeming dengan argumentasi pembangunan baru yang akan menciptakan lapangan pekerjaan.

"Alasan kenapa pembangunan sangat mahal adalah karena berada di dataran rendah.

"Jika Amazon dan pengembang punya uangnya, dan membangun proyek skala yang sama dari dataran rawan banjir ini. Anda akan menemukan ukuran pembangunan tiga hingga empat kali lebih besar [di tempat lain] yang berarti Anda bisa membuka lebih banyak lagi orang-orang untuk bekerja."

Tapi tidak semua anggota Khoi dan San menentang proyek pembangunan ini.

'Zona bebas'

Kelompok yang mengklaim dirinya sebagai Kolektif Bangsa Pertama ikut mendukung proyek ini.

Untuk menghormati warisan budaya Khoi dan San, pengembang berencana untuk membangun pusat media, taman budaya, dan ampiteater. Jalan-jalan di dalamnya juga akan diberikan label menurut nama-nama pimpinan adat.

Ini akan menciptakan "sebuah zona bebas, di mana kita dapat terlibat lebih dalam lagi pada perjuangan untuk pengakuan, ganti rugi dan pemulihan orang-orang pertama Afrika Selatan," kata juru bicara Kolektif Bangsa Pertama, Zenzile Khoisan kepada stasiun radio lokal.

Man in traditional dress standing in front of some water
Keterangan gambar, Masyarakat adat masih terus berjuang sampai ke pengadilan.

Pemerintah Provinsi Western Cape juga menjadi pendukung utama dalam proyek tersebut, yang memberikan lampu hijau pada April 2021. Dan ini juga didukung oleh wali kota.

Dalam sebuah pernyataan Wali Kota Dan Plato mengakui bahwa ada persoalan warisan budaya yang harus dipertimbangkan.

Tapi dia menambahkan, bahwa ini "jelas dengan pembangunan akan memperoleh banyak keuntungan ekonomi, sosial, dan lingkungan bagi daerah tersebut."

Bagi Jenkins dan kelompoknya, yang menolak proyek pembangunan ini, perjuangan masih belum berakhir.

Menurutnya, Amazon tak akan membuat pembangunan di situs bersejarah di Amerika Serikat, seperti Lincoln Memorial di Washington DC. "Jadi kenapa mereka akan melakukan itu pada kita?" katanya bertanya-tanya.

Dia mengatakan, kelompoknya telah mengumpulkan lebih dari 50.000 tanda tangan dari anggota komunitas yang menolak pembangunan.

Dewan Goringhaicona Khoena merupakan bagian yang menuntut hal ini ke Pengadilan Tinggi Cape Town. Tujuannya, agar pengadilan meninjau ulang keputusan wali kota yang memberikan izin pembangunan. Mereka juga telah mengajukan surat-surat untuk menghentikan konstruksi di situs River Club.

Sejauh ini jadwal persidangan belum ada, namun, masing-masing pihak bersiap-siap untuk pertempuran hukum yang panjang. Ini semua akan berdampak besar kepada warisan budaya dan ekonomi Cape Town.