Palestina-Israel: Umat Muslim dunia rayakan Idul Fitri, warga Gaza terancam 'perang dalam skala penuh'

Sumber gambar, Getty Images
Pada saat jutaan umat Muslim dunia merayakan Idul Fitri, warga Palestina dan Israel justru harus berlindung di tengah saling serang antara kelompok Palestina dan tentara Israel.
Di Gaza - sasaran pengeboman serangan udara Israel - hanya sejumlah orang yang melakukan salat Idul Fitri di luar, dengan latar belakang gedung yang hancur.
Saling serang tetap berlangsung pada Idul Fitri dan warga mengatakan lebaran kali ini mereka hadapi di tengah "ketakutan."
"Idul Fitri kali ini berbeda. Idul Fitri terjadi di tengah pemboman, ketakutan dan kesedihan," kata Fahd Ramadan, seorang warga berusia 44 tahun di kota Khan Younis.
Banyak jalan yang biasanya penuh dengan orang, kosong.
"Tak ada Idul Fitri, dan tak ada pekerjaan karena perang dan rudal," kata Khamees al-Jabri, seorang pemuda berusia 19 tahun yang biasanya menawarkan kudanya untuk ditumpangi anak-anak pada perayaan seperti lebaran, lapor kantor berita Reuters.

Sumber gambar, EPA
Sementara seorang, warga negara Indonesia yang tinggal di Gaza, Husen, juga mengatakan "tak ada Lebaran bagi kami" tahun ini di tengah dentuman bom.
"Yang pasti tampaknya tahun ini tak ada Lebaran di Gaza. Warga Palestina terpaksa menerima kondisi ini." kata Husen, aktivis kemanusiaan dan wartawan yang pernah merasakan tiga kali agresi militer Israel.
Sementara di kompleks masjid al-Aqsa - tempat bermulanya konflik akibat bentrokan antara polisi Israel dan warga Palestina - warga Yerusalem dapat melakukan salat.

Sumber gambar, Reuters

Sumber gambar, Reuters

Sumber gambar, Reuters

Sumber gambar, Reuters

Sumber gambar, Reuters
PBB memperingatkan potensinya terjadi "perang dalam skala penuh" karena meningkatnya kekerasan ini.
Baca juga:
Presiden Palestina Mahmoud Abbas memutuskan tidak ada perayaan Idul Fitri dan mengimbau warga hanya menjalankan ibadah saja sambil mendoakan mereka yang meninggal akibat serangan udara Israel serta menurunkan bendera Palestina setengah tiang sebagai tanda berkabung.
Kekerasan ini - terburuk sejak 2018 - menyebabkan paling tidak 65 orang Palestina meninggal akibat serangan udara Israel. Sebanyak 14 di antara mereka adalah anak-anak.

Sumber gambar, AFP/Getty Images
Kementerian Kesehatan yang dikelola kelompok Hamas di Gaza mengatakan lebih dari 360 orang mengalami cedera.

Sumber gambar, AFP/Getty Images
Adapun di pihak Israel, sebanyak tujuh orang telah tewas akibat gempuran kelompok Palestina.

Sumber gambar, Getty Images

Sumber gambar, Getty Images

Sumber gambar, AFP/Getty Images
Perdana Menteri Israel, Benjamin Netanyahu, mengatakan pihaknya akan mengerahkan semua kekuatan untuk melindungi Israel dari musuh-musuh di luar dan perusuh di dalam wilayahnya.
Militer Israel (IDF) menyebut bahwa serangan ke Gaza adalah yang terbesar sejak konflik pada 2014.
Namun, dalam sebuah cuitan, Otoritas Palestina mengecam "agresi militer" Israel seraya menyebut aksi tersebut "membuat trauma dan mempersulit populasi sebanyak dua juta orang".

Sumber gambar, Reuters

Sumber gambar, AFP/Getty Images
Hamas - yang menguasai Gaza - mengatakan mereka melakukan serangan untuk mempertahankan masjid al-Aqsa dari "agresi dan terorisme Israel" setelah terjadi bentrokan antara polisi Israel dan warga Palestina Senin lalu yang menyebabkan ratusan orang terluka.
Insiden ini terjadi setelah kerusuhan berhari-hari menyusul ancaman pengusiran terhadap warga Palestina dari wilayah mereka yang diklaim oleh para pemukim Yahudi.

Sumber gambar, EPA

Sumber gambar, EPA

Sumber gambar, AFP/Getty Images









