Biden sebut orang-orang Armenia mengalami 'genosida' pada masa Kekaisaran Ottoman, apa reaksi Turki?

Keterangan video, Armenia's mass killings - explained in 60 seconds

Joe Biden menjadi Presiden Amerika Serikat (AS) pertama yang mengeluarkan pernyataan resmi bahwa pembantaian orang-orang Armenia pada tahun 1915 sebagai genosida.

Pembunuhan itu terjadi pada masa-masa memudarnya Kekaisaran Ottoman, cikal bakal berdirinya Turki modern.

Tetapi persoalannya menjadi sangat sensitif, karena Turki mengakui adanya kekejaman, namun menolak istilah "genosida".

Menteri Luar Negeri Turki, Mevlut Cavusoglu, mengatakan pada Sabtu bahwa Turki "sepenuhnya menolak" keputusan AS.

"Kami tidak akan mengambil pelajaran dari siapa pun perihal sejarah kami," katanya dalam cuitan Twitternya.

Orang-orang Armenia

Sumber gambar, Getty Images

Keterangan gambar, Orang-orang Armenia, terutama kaum perempuan dan anak-anak, mengungsi setelah terjadi pembunuhan massal pada 1915. Mereka sedang berada di atas kapal milik Prancis.

Belakangan Kementerian Luar Negeri Turki mengatakan telah memanggil duta besar AS untuk menyampaikan "reaksi keras" Ankara.

Pemerintah AS belum pernah menggunakan istilah genosida dalam pernyataan resmi di tengah kekhawatiran hal itu akan merusak hubungan dengan Turki, sekutu NATO.

Apa yang terjadi pada 1915?

Kekaisaran Ottoman (Kekhalifahan Utsmaniyah) menuduh orang-orang Armenia yang beragama Kristen berkhianat setelah menderita kekalahan telak di tangan pasukan Rusia.

Mereka kemudian mulai mendeportasi orang-orang Armenia secara massal ke gurun Suriah dan tempat lainnya.

Ratusan ribu orang-orang Armenia dibantai atau meninggal karena kelaparan atau didera penyakit.

Praktik kekejaman itu dicatat secara luas pada saat itu oleh para saksi, termasuk jurnalis, misionaris, dan para diplomat.

People take part in a commemorative ceremony for 1.5 million Armenians killed in the Ottoman-era slaughter at the Tsitsernakaberd Armenian Genocide Memorial complex in Yerevan, Armenia, 24 April 2021

Sumber gambar, EPA

Keterangan gambar, Armenia menggelar peringatan ke-106 peristiwa pembunuhan massal dalam sebuah upacara di ibu kota Yerevan pada Sabtu.

Jumlah orang Armenia yang tewas selalu menjadi perdebatan. Orang Armenia mengatakan sekitar 1,5 juta orang tewas.

Adapun Turki memperkirakan total yang meninggal mendekati 300.000 jiwa. Menurut International Association of Genocide Scholars (IAGS), jumlah korban tewas "lebih dari satu juta".

Walaupun para pejabat Turki telah menerima bahwa kekejaman telah terjadi, mereka berpendapat tidak ada upaya sistematis untuk menghabisi orang-orang Kristen Armenia.

Turki mengatakan banyak Muslim Turki juga tewas dalam kekacauan selama Perang Dunia Pertama.

Apa yang Biden katakan?

Pernyataan Biden, yang dirilis ketika Armenia memperingati dimulainya peristiwa pembunuhan massal, mengatakan:

"Kami ingat kehidupan semua orang yang tewas dalam genosida terhadap orang-orang Armenia pada era Ottoman dan kembali berkomitmen untuk mencegah kekejaman seperti itu terjadi lagi.

"Dan kami ingat agar kami tetap waspada terhadap pengaruh korosif dari kebencian dalam segala bentuknya."

Biden mengatakan dia bermaksud "bukan untuk menyalahkan tetapi untuk memastikan bahwa apa yang terjadi tidak pernah terulang".

Armenia

Sumber gambar, OZAN KOSE/AFP

Keterangan gambar, Foto ilustrasi: Seorang warga Armenia-Turki menunjukkan foto-foto keluarganya.

Dia sebelumnya menyambut baik langkah DPR AS, yang pada 2019 memberikan suara terbanyak untuk mengakui peristiwa pembunuhan massal sebagai genosida.

Seorang staf Biden mengatakan kepada wartawan bahwa keputusan untuk secara resmi menggunakan istilah tersebut karena pemerintah mengalihkan fokusnya kepada hak asasi manusia.

Pada 1981, Presiden saat itu Ronald Reagan merujuk pada "genosida terhadap orang-orang Armenia" dalam acara peringatan Holocaust, namun presiden AS lainnya menghindar dari penggunaan istilah tersebut sejak itu.

Presiden AS sebelumnya, Donald Trump tidak menganggap pembunuhan itu sebagai genosida. Trump malah menyebutnya sebagai "salah satu kekejaman massal terburuk di abad ke-20".

Apa reaksi Turki dan Armenia?

Perdana Menteri (PM) Armenia, Nikol Pashinyan, mengatakan ucapan Biden merupakan "penghormatan atas memori" terhadap mereka yang sudah meninggal.

Dalam cuitannya di Twitter, dia menulis: "AS sekali lagi menunjukkan komitmennya yang teguh untuk melindungi hak asasi manusia dan nilai-nilai universal."

Tetapi Kementerian Luar Negeri Turki menanggapinya dengan amarah, dengan mengatakan dalam sebuah pernyataan bahwa mereka "menolak dan mencela istilah dalam pernyataan itu", dengan mengatakan hal itu "dibuat di bawah tekanan lingkaran orang-orang Armenia yang radikal dan kelompok anti-Turki".

Dia memperingatkan bahwa langkah itu akan "membuka luka yang dalam yang dapat merusak rasa saling percaya dan persahabatan kita".