Covid-19 di Uttar Pradesh, India: 'Rumah sakit penuh, warga meninggal di ambulans, krematorium penuh dengan jenazah'

Sushil Kumar Srivastava

Sumber gambar, Sumit Kumar

Keterangan gambar, Sushil Kumar Srivastava, dengan tabung oksigen, dibawa ke beberapa rumah sakit di Lucknow. Ketika ditemukan rumah sakit yang bisa merawatnya, nyawanya tak bisa diselamatkan.

Gelombang kedua pandemi Covid-19 tengah mencengkeram India, ditandai dengan meroketnya angka kasus positif.

Dampak dari gelombang kedua pandemi paling terasa di negara bagian Uttar Pradesh, yang juga dikenal sebagai negara bagian dengan jumlah penduduk terbanyak.

Jumlah penduduknya mencapai 240 juta jiwa.

Jika Uttar Pradesh adalah negara, wilayah ini akan menjadi negara keempat dengan jumlah penduduk terbesar di dunia setelah China, India, Amerika Serikat dan Indonesia.

Dengan ukuran populasi di atas 240 juta, Uttar Pradesh lebih besar dibandingkan Pakistan dan Brasil.

Vimal Kapoor, seorang warga di Varanasi, salah satu kota di Uttar Pradesh, kehilangan sang ibu, yang meninggal dunia di rumah sakit setelah terkena virus corona.

Kapoor menggambarkan situasi di kotanya "menakutkan".

Dalam situasi normal, mendapatkan dokter dan ambulans bisa sangat sulit. Pandemi Covid-19 dan tekanan terhadap sistem kesehatan bisa dipastikan akan membuat warga makin kesulitan mendapatkan layanan dokter.

"Saya saksikan banyak orang meninggal di ambulans. Rumah-rumah sakit menolak pasien karena tidak ada lagi tempat bagi mereka ... obat-obatan dan pasok oksigen juga sangat minim," kata Kapoor.

Baca juga:

Kapoor mengungkapkan saat membawa jenazah ibunya untuk dikremasi, dirinya menyaksikan "tumpukan jenazah".

Antrean jenazah di satu krematorium di Lucknow

Sumber gambar, Sumit Kumar

Keterangan gambar, Antrean jenazah di satu krematorium di Lucknow. Pihak keluaga harus menunggu antara lima hingga enam jam untuk bisa mengkremasikan jenazah anggota keluarga.

Di mana-mana ambulans dan jenazah

Harga kayu yang dipakai untuk membakar jenazah naik tiga kali lipat dan waktu tunggu untuk mendapatkan tempat pembakaran jenazah makin lama.

Tadinya pihak keluarga menunggu antara 15 hingga 20 menit, namun sekarang harus menunggu hingga lima atau enam jam.

"Saya tak pernah menyaksikan situasi ini sebelumnya, di mana-mana ambulans dan jenazah," kata Kapoor.

Yang juga kehilangan anggota keluarga akibat Covid-19 adalah warga kota Kanpur, Kanwal Jeet Singh.

Ayahnya yang berusia 58 tahun, Niranjan Pal Singh, meninggal dunia di atas ambulans ketika berusaha mendapatkan tempat perawatan setelah sebelumnya ditolak oleh empat rumah sakit.

"Hati saya remuk," kata Singh. "Saya yakin, andai saja dia mendapatkan perawatan, nyawanya bisa diselamatkan. Namun [yang terjadi adalah], kami tak ada mendapatkan bantuan baik dari polisi, otoritas kesehatan, maupun dari pemerintah," jelasnya.

Sejauh ini, terdapat setidaknya 851.620 kasus positif dengan jumlah kematian 9.830 di Uttar Pradesh. Kasus harian bertambah ribuan, meski banyak yang meyakini angka sebenarnya jauh lebih tinggi.

Persiapan kremasi di Ghaziabad, Uttar Pradesh

Sumber gambar, Getty Images

Keterangan gambar, Persiapan kremasi jenazah warga yang meninngal akibat Covid-19 di Ghaziabad, Uttar Pradesh.

Pemerintah mengatakan "situasinya dapat dikendalikan", namun lokasi-lokasi tes Covid-19 penuh sesak, rumah-rumah sakit kewalahan dan menolak pasien, sementara kayu-kayu yang membakar jenazah di tempat-tempat kremasi seakan tak pernah padam selama 24 jam.

Situasi ini terjadi di kota-kota besar di Uttar Pradesh seperti Varanasi, Kanpur dan Allahabad.

1px transparent line
Data kasus dan kematian di Uttar Pradesh

Pusat-pusat kesehatan yang tak bisa lagi menampung pasien membuat warga sangat khawatir.

Seorang perempuan muda di Kanpur, dalam rekaman video, tampak menangis karena dua rumah sakit menolak merawat ibunya.

"Mereka mengatakan tak ada lagi tempat tidur pasien. Kalau tak ada lagi tempat tidur, ya letakkan saja di atas lantai, setidaknya dengan berada di rumah sakit, ibu saya akan mendapatkan perawatan. Ada banyak pasien yang bernasib sama dengan ibu saya, ditolak di mana-mana," kata perempuan muda ini.

"Menteri utama mengatakan tempat tidur di rumah sakit cukup, mana buktinya? Tolong rawat ibu saya," katanya sambil menangis.

'Tak ada petugas yang datang'

Situasi di ibu kota negara bagian, Lucknow, juga sangat mengenaskan.

Tes Covid-19
Keterangan gambar, Warga antre untuk mengikuti tes Covid-19.

Warga di kota ini, Sushil Kumar Srivastava, difoto berada di dalam mobil dengan tabung oksigen. Pihak keluarganya membawanya ke beberapa rumah sakit karena ia sangat membutuhkan perawatan.

Saat keluarganya menemukan rumah sakit, semuanya sudah terlambat. Ia meninggal dunia.

Pensiunan hakim, Ramesh Chandra, dan istrinya terkena Covid-19 dan meminta bantuan pemerintah.

"Saya menelepon nomor bantuan pemerintah setidaknya 50 kali. Tak satu pun petugas yang datang baik untuk mengirim obat ataupun membawa kami ke rumah sakit," kata Chandra dalam satu tulisan tangan yang viral di media sosial.

"Karena keruwetan administrasi ... istri saya meninggal dunia pagi tadi," katanya.

Dosis vaksin per negara bagian di India
1px transparent line
Krematorium di Lucknow

Sumber gambar, Sumit Kumar

Keterangan gambar, Api di salah satu krematorium di Lucknow ini hampir tak pernah padam.

Pada hari Minggu (18/04), jumlah kasus positif mencapai 30.596, rekor harian tertinggi sejak pandemi Maret tahun lalu.

Aktivis dan politisi oposisi meyakini angka tersebut bukan angka yang sebenarnya dan mengeklaim angka sebenarnya lebih tinggi lagi.

Mereka mengatakan tidak semua angka kasus dan kematin dicatat oleh pemerintah. Klaim ini bisa jadi ada benarnya.

Singh yang meninggal di Kanpur dan ibu Kapoor yang meninggal di Varanasi tidak dimasukkan ke dalam data pemerintah. Akta kematian yang diterima pihak keluarga tidak menyebutkan bahwa keduanya meninggal karena Covid-19.

Anshuman Rai, direktur Rumah Sakit Heritage, kelompok swasta yang mengelola sekolah kedokteraan dan rumah sakit pemerintah di Uttar Pradesh mengatakan negara bagian kewalahan karena banyak tenaga kesehatan yang jatuh sakit.

Dalam situasi pandemi, kerja sistem kesehatan idealnya ditingkatkan dua kali lipat. "Saat ini kami tak bisa bekerja 100% karena sektor kesehatan sangat tergantung dengan ketersediaan sumber daya manusia," katanya.

Para pengkritik menuduh pemerintah pusat dan negara bagian gagal mengantisipasi datanganya gelombang kedua.

Mereka mengatakan, ketika angka kasus melandai antara September 2020 hingga Februari 2021, mestinya pemerintah mendirikan gudang-gudang tabung oksigen dan menambah pasok obat.

Namun kesempatan, kata mereka, dilewatkan.

Laporan oleh Geeta Pandey, analisis data oleh Shadab Nazmi