Vaksin Covid: Tiada kematian dalam sehari di Israel, negara dengan tingkat vaksinasi tertinggi di dunia

israel

Sumber gambar, Reuters

Keterangan gambar, Seorang perempuan menerima suntikan vaksinasi Covid-19 di Israel, Februari lalu. Tingkat vaksinasi Covid-19 di Israel adalah yang tertinggi di dunia. Pada Kamis (22/04), negara itu mencapai lima juta vaksinasi.
    • Penulis, Rachel Schraer
    • Peranan, Wartawan kesehatan

Israel mencatat tiada orang yang meninggal dalam sehari akibat Covid-19—yang pertama kalinya selama 10 bulan terakhir.

Sebagaimana dilaporkan Kementerian Kesehatan Israel, jumlah kematian akibat Covid-19 tetap 6.346 orang pada Kamis (22/04).

Kejadian ini adalah yang pertama sejak akhir Juni tahun lalu setelah negara tersebut menerapkan karantina wilayah alias lockdown guna menahan laju gelombang pertama penularan.

Wabah Covid-19 di Israel melambat setelah mencapai puncaknya pada Januari tahun ini. Sebulan kemudian pemerintah Israel melonggarkan atuan lockdown di tengah upaya menggencarkan vaksinasi.

Tingkat vaksinasi Covid-19 di Israel adalah yang tertinggi di dunia. Pada Kamis (22/04), negara itu mencapai lima juta vaksinasi.

Menurut data Kemenkes Israel, lebih dari 53% dari sembilan juta penduduk negara itu telah dua kali disuntik vaksin.

"Ini pencapaian luar biasa bagi sistem kesehatan dan penduduk Israel. Bersama kami membasmi virus corona," sebut Menteri Kesehatan Yuli Edelstein, Jumat (23/04).

Sejauh ini Israel hanya mengandalkan vaksin Pfizer-BioNTech.

Pada Februari, Kemenkes Israel mengungkap bahwa berdasarkan kajian, risiko penyakit yang disebabkan virus corona merosot hingga 95,8% di antara orang-orang yang telah menerima dua dosis vaksin Pfizer.

Akan tetapi, selagi Israel unggul dalam program vaksinasi, Palestina ketinggalan jauh.

Pada Maret lalu, Palestina baru menerima pengiriman 60.000 vaksin melalui skema berbagi vaksin Covax.

Warga menyeberang jalan, covid-19, israel

Sumber gambar, Getty Images

Beberapa waktu lalu, seorang dokter terkemuka Israel, Profesor Eyal Leshem, meyakini negaranya mungkin hampir mencapai "kekebalan kolektif".

Kekebalan kolektif atau herd immunity terjadi jika jumlah penduduk yang terlindungi dari infeksi sudah mencukupi sehingga dapat mencegah penularan - dan bahkan orang yang belum mempunyai kekebalan sendiri secara tidak langsung juga turut terlindungi.

Untuk penyakit Covid-19, batas minimal yang diperlukan untuk mewujudkan kekebalan kolektif setidaknya 65%-70% dari keseluruhan penduduk.

Mencapai target kekebalan kelektif adalah langkah penting melindungi warga yang tidak bisa divaksinasi atau yang sistem kekebalannya terlalu lemah untuk menghasilkan perlindungan yang bagus.

Dengan program vaksinasi yang tercepat di dunia, lebih dari 50% penduduk (5,3 juta jiwa) Israel sudah diberi vaksin dan 830.000 warga telah dinyatakan positif virus corona sebelumnya sehingga mereka mestinya sudah mempunyai kekebalan alami.

Dengan demikian sekitar 68% dari total penduduk Israel sudah mempunyai antibodi dalam darah mereka untuk melawan virus.

Profesor Eyal Leshem, direktur rumah sakit terbesar di Israel, Sheba Medical Center, mengatakan kekebalan kolektif adalah "satu-satunya penjelasan" mengapa jumlah kasus virus corona terus menurun padahal semakin banyak pembatasan yang dicabut.

"Terjadi penurunan terus-menerus meskipun kondisi kembali hampir normal," jelasnya.

"Hal ini berarti bahwa sekalipun jika seseorang tertular, sebagian besar orang yang berada di sekelilingnya tidak akan tertulari dari orang itu."

Dan kasus-kasus menurun di semua kelompok umur termasuk anak-anak, meskipun mereka yang berada di bawah usia 16 tahun pada umumnya tidak divaksinasi.

Bagaimana cara kerja kekebalan kolektif?

Para ahli berpendapat tanpa pemberlakuan pembatasan, seseorang yang terinfeksi dengan galur asli virus yang menyebabkan Covid-19, akan menularkannya kepada rata-rata tiga hingga empat orang.

Jika tiga orang, maka teorinya adalah begitu dua pertiga jumlah penduduk sudah kebal terhadap virus, orang yang tertular rata-rata akan menularkannya kepada satu orang saja.

Itu cukup untuk membuat virus menyebar tetapi tidak sampai membuatnya berkembang pesat.

Vaksinasi di Israel

Sumber gambar, Reuters

Keterangan gambar, Salah satu vaksin yang digunakan di Israel, Pfizer, didatang sejak awal.

Dengan demikian, dua dari tiga orang yang berada di rantai penularan ini sudah tereliminasi.

Gambaran ini tampak sederhana di atas kertas. Namun dalam kenyataannya lebih rumit.

Vaksin yang ada tidak manjur 100%, dan sekalipun vaksin mencegah seseorang jatuh sakit, vaksin tidak sepenuhnya mencegah penularan pada setiap orang.

Artinya, sebagian orang yang sudah divaksinasi mungkin saja masih bisa menularkan virus.

Tidak semua orang yang pernah tertular Covid mempunyai kekebalan tubuh yang kuat atau kekebalan alami yang bertahan lama, dan varian baru virus corona lebih mudah menular.

Artinya, lebih banyak penduduk perlu divaksinasi sebelum dicapai ambang batas yang diperlukan.

Namun tak semuanya buruk. "Saya berpendapat kita tidak seharusnya mencapai 'kekebalan kolektif' semata sebagai petunjuk bahwa kita bisa mencabut semua protokol kesehatan yang diterapkan di masyarakat dan kembali ke kehidupan 'normal'," kata Dr Sarah Pitt, pakar virologi dari Universitas Brighton, Inggris.

"Sebaliknya kita harus mencapai konsistensi tingkat rendah penularan Covid-19 ".

Sesudah kekebalan kelompok tercapai, apa langkah selanjutnya?

Sejauh ini, varian baru tampaknya tidak kebal terhadap vaksin.

Tetapi menurut Profesor Leshem, kemunculan varian baru di masa yang akan datang yang benar-benar tahan terhadap vaksin akan membuat orang kurang terlindungi dan Israel bisa masuk ke jurang ambang batas kekebalan kolektif.

Vaksinasi di Israel

Sumber gambar, Reuters

Keterangan gambar, Program vaksinasi Covid-19 di Israel tercatat yang paling cepat di dunia.

Persoalan itu bisa diatasi, yakni dengan cara memodifikasi vaksin seperti yang dilakukan pada vaksin tahunan untuk flu.

Kendati demikian persoalan itu menjadi pengingat bahwa sekali pun Israel telah mencapai kekebalan kolektif, bukan berarti keadaan itu berlaku selamanya.

Kondisi itu terjadi dalam kasus campak selama beberapa tahun terakhir.

Virus itu dianggap sudah berhasil dihilangkan di Inggris, tetapi Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) mencabut status itu pada tahun 2019 sesudah terjadi "peningkatan signifikan" kasus campak karena proporsi jumlah penduduk yang divaksinasi berkurang.

Campak sangat mudah menular - setiap orang yang terinfeksi dapat menularkan ke sekitar 15 orang lainnya - sehingga cakupan vaksinasi perlu mencapai 90% dari total penduduk untuk mencegah wabah.