Covid-19: Brasil mengeluarkan izin untuk vaksin AstraZeneca dan Sinovac di tengah gelombang kedua 'yang menghancurkan'

Seorang perawat di Brasil telah menerima dosis pertama program vaksinasi virus corona di negara itu, setelah regulator kesehatan setempat memberikan persetujuan darurat untuk dua jenis vaksin.

Regulator Anvisa mengeluarkan izin untuk vaksin buatan Oxford-AstraZeneca dan perusahaan China Sinovac, yang dosisnya akan didistribusikan ke 27 negara bagian.

Program vaksinasi Brasil dimulai lebih lambat daripada banyak negara lain di kawasan itu.

Ini terlepas dari parahnya epidemi di negara tersebut, yang mencatat jumlah kematian tertinggi kedua di dunia.

Presiden Brasil Jair Bolsonaro, yang sejak awal menyepelekan masalah pandemi, mendapat kecaman baru dalam beberapa bulan terakhir karena Brasil sedang dilanda gelombang kedua virus dengan dampak yang menghancurkan.

Pihak berwenang melaporkan 551 kematian pada hari Minggu (17/01), pertama kalinya dalam enam hari data kematian kurang dari 1.000 kematian.

Secara keseluruhan, Brasil telah mencatat lebih dari 209.000 kematian terkait Covid-19, angka tertinggi kedua di dunia setelah Amerika Serikat.

Sementara untuk jumlah kasus, sejauh ini lebih dari 8,4 juta dikonfirmasi sejak dimulainya pandemi - angka tertinggi ketiga di dunia.

Menteri Kesehatan Eduardo Pazuello mengatakan kepada wartawan bahwa program vaksinasi nasional di negara berpenduduk 211 juta orang itu akan dimulai dengan sungguh-sungguh dalam beberapa hari mendatang. Dua pusat biomedis Brasil yang telah diberi persetujuan untuk memproduksi jab akan sangat terlibat.

Tak lama setelah dewan Anvisa memberikan persetujuan darurat, Monica Calazans, perawat berusia 54 tahun di São Paulo, menjadi orang pertama yang diimunisasi dengan CoronaVac, yang dikembangkan oleh Sinovac.

Vaksinnya diberikan di bawah naungan pemerintah negara bagian São Paulo, yang dipimpin oleh saingan politik utama Bolsonaro, João Dória.

Ini adalah kabar baik yang jarang terjadi dewasa ini bagi warga Brasil, yang sedang dilanda gelombang kedua yang menghancurkan.

Dari tempat saya berada, kota Manaus, vaksinnya tidak terasa nyata. Orang-orang di sini mencoba memulihkan sistem kesehatan yang runtuh dan melakukan apa yang mereka bisa untuk menjaga agar kerabat mereka yang sakit tetap hidup.

Pandemi ini telah menjadi permasalahan yang sangat politis di Brasil. Presiden Bolsonaro terus menampilkan dirinya sebagai orang yang skeptis terhadap vaksin dan dia terutama tidak hadir saat vaksin itu disetujui. Sebaliknya, surat-surat kabar pada hari Senin pasti akan menampilkan gubernur São Paulo, João Dória, di halaman depan mereka.

Dia diharapkan mencalonkan diri dalam pemilihan presiden tahun depan dan telah mendukung vaksin Sinovac sejak awal. Dia pernah menjadi pendukung Bolsonaro dan sekarang menjadi penantangnya.

Tngkat efikasi

Sebelumnya, uji klinis terkini terhadap vaksin buatan Sinovac di Brasil menunjukkan tingkat khasiat atau efikasi sebesar 50,4%.

Temuan ini lebih rendah dibandingkan angka yang sebelumnya diumumkan dan berselisih tipis dari batas minimum 50% yang disyaratkan Organisasi Kesehatan Dunia (WHO).

Pekan lalu, para peneliti Butantan Institute yang menggelar uji klinis tahap tiga di Brasil, menyebut efikasi vaksin itu mencapai 78% terhadap kasus positif Covid-19 ringan hingga berat.

Namun, pada Selasa (12/01), mereka mengungkap kalkulasi itu tidak termasuk hasil uji terhadap infeksi Covid-19 yang tergolong sangat ringan atau orang-orang yang terjangkit tapi tak membutuhkan penanganan medis.

Setelah memasukkan data dari kelompok ini, tingkat efikasi vaksin buatan perusahaan asal China, Sinovac, itu diperbarui menjadi 50,4%.

Meski begitu, para peneliti di Butantan Institute menekankan bahwa vaksin itu 78% efektif mencegah kasus ringan yang membutuhkan tindakan medis.

Bahkan, kata mereka, vaksin ini 100% efektif menghentikan kasus Covid-19 yang tergolong sedang hingga berat.

Vaksin CoronaVac diuji di beberapa negara. Di Indonesia, menurut keterangan Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM), tingkat efikasi vaksin ini mencapai 65,3%. Sementara di Turki, hasil uji klinis tahap tiga menunjukkan tingkat efikasi sebesar 91,2%.

CoronaVac adalah vaksin dengan bahan dasar virus yang telah dilemahkan. Menurut para penelitinya, partikel virus yang dilemahkan itu akan memicu kekebalan tubuh terhadap virus corona tanpa menyebabkan penyakit serius

Selama ini muncul kritik terhadap uji klinik CoronaVac. Proses itu dianggap tidak memiliki standar pengawasan dan transparansi yang setara dengan uji klinis pembuat vaksin Covid-19 dari negara-negara Barat.

Pemerintah Brasil hingga saat ini belum mengeluarkan izin penggunaan darurat untuk CoronaVac. Hal serupa juga berlaku untuk vaksin buatan Universitas Oxford dan perusahaan farmasi AstraZeneca.

Jumlah kasus positif Covid-19 di Brasil belakangan terus melonjak. Brasil duduk di peringkat ketiga dalam daftar negara dengan jumlah kasus positif terbanyak, di bawah Amerika Serikat dan India.

Koresponden BBC untuk kawasan Amerika, Candace Piette, menyebut walau pandemi di Brasil merupakan salah satu yang terparah, belum ada kejelasan kapan vaksinasi akan mulai digelar.

Program vaksinasi yang masih belum jelas ini merupakan bagian dari penanganan pandemi yang serampangan dan silang kebijakan di internal pemerintah Brasil, kata Piette.5%.