Rasisme: Nisan seorang pria Afrika korban perbudakan abad 18 'dirusak' - apa motif di balik perusakan?

Vandalised gravestone

Sumber gambar, Iwona Barbaszynska

Keterangan gambar, Batu nisan di atas kuburan Scipio Africanus, yang tinggali di Bristol pada abad 18, dirusak sekelompok orang

Warga di sebuah kota di Inggris menggalang dana untuk memperbaiki sebuah nisan milik seorang pria Afrika, korban perbudakan abad ke-18, yang dirusak oleh sekelompok orang.

Nisan untuk mengenang sosok Scipio Africanus, yang tinggal di kota Bristol, Inggris, di abad ke-18, luluh-lantak dan ada pesan tertulis di dekatnya.

Kepolisian setempat tengah menyelidiki serangan terhadap nisan itu, yang diperkirakan terjadi pada Selasa (16/06) atau Rabu (17/06) lalu

Pada Jumat lalu, penggalangan dana melalui situs JustGiving yang menargetkan dana sekitar £1,000 atau sekitar Rp17 juta untuk memperbaikin nisan itu, berhasil mengumpulkan lebih dari £3,400 atau sekitar Rp59 juta.

Arkeolog Richard Osgood, yang menggalang dana, mengatakan dia ingin "memastikan nisan itu dipulihkan".

"Apa pun pilihan politik seseorang, tindakan perusakan kuburan, tempat peristirahatan terakhir bagi orang yang tidak bersalah, sangatlah menjijikkan," ujarnya.

"Tolong, mari kita tunjukkan sisi kemanusiaan kita dan kebaikan masyarakat di negara ini."

Graffiti in graveyard
Keterangan gambar, Sebuah pesan tertulis yang menggunakan kapur menyerukan agar patung pedagang budak Edward Colston "dikembalikan"

Batu nisan di atas kuburan Scipo Africanus terdaftar sebagai salah-satu bangunan cagar budaya yang harus dilindungi.

Dia meninggal dunia pada usia 18 tahun pada 1720, dan dimakamkan di halaman gereja St Mary di Henbury, Bristol.

Para sejarawan meyakini Scipio Africanus kemungkinan lahir dari keluarga Earl of Suffolk ke-7, Charles Howard, dan merupakan anak seorang perempuan Afrika yang dijadikan budak, demikian menurut Local Democracy Reporting Service.

Dia dinamai oleh "pemiliknya" berdasarkan sosok jenderal Romawi terkenal, Publius Cornelius Scipio Africanus.

Colston statue lowered into Bristol harbour

Sumber gambar, PA Media

Keterangan gambar, Pengunjuk rasa antirasisme di Bristol, Inggris, menumbangkan patung Edward Colston, seorang tokoh kontroversial sekaligus pedagang budak.

Pesan tertulis - yang menggunakan kapur tulis - menyerukan agar patung pedagang budak, Edward Colston, yang dirobohkan saat aksi protes Black Lives Matter, dikembalikan.

Patung itu telah dibuang di perairan di pelabuhan Bristol saat protes antirasisme awal bulan ini.

Dalam perkembangannya, patung itu kemudian diselamatkan dari dasar laut dan diharapkan dapat ditampilkan di museum setempat, disertai berbagai poster selama protes itu.

Selama unjuk rasa antirasisme, sebagian pemrotes menyerukan agar patung dan monumen yang merayakan sosok tokoh kontroversial di Inggris agar diturunkan atau diubah.

Salah-satu diantaranya adalah patung Cecil Rhodes, di kompleks kampus Oxford. Sebanyak 26 anggota dewan menuntut patung yang disebut sebagai imperialis "Cecil Rhodes" diturunkan dari kawasan kampus Oxford.

Ini adalah patung kedua yang diturunkan di Inggris, setelah pengunjuk rasa anti-rasisme di Bristol menumbangkan patung Edward Colston, seorang tokoh kontroversial sekaligus pedagang budak.