Pemungutan suara UU antidiskriminasi LGBT di Swiss, komunitas LGBT harap dapat perlindungan hukum

    • Penulis, Imogen Foulkes
    • Peranan, BBC News

Warga Swiss melakukan pemungutan suara untuk memutuskan aturan tentang diskriminasi berdasarkan orientasi seksual.

Diskriminasi terhadap ras atau agama sudah ilegal di negara ini.

Kini, anggota komunitas LGBT di Swiss berharap mereka juga mendapat perlindungan hukum.

Namun, para penentang rancangan undang-undang baru ini berpendapat aturan tersebut bisa membatasi kebebasan berbicara.

"Banyak orang Swiss cenderung melebih-lebihkan seberapa modern negara kita," jelas Anna Rosenwasser dari Organisasi Lesbian Swiss.

Dia menunjukkan bahwa merujuk pada daftar negara-negara yang menghormati hak-hak LGBT, Swiss berada di peringkat ke-23.

"Itu mungkin bagus, tapi belum modern. Kami tidak memiliki undang-undang tentang diskriminasi publik berdasar orientasi seksual."

Dia menambahkan, kurangnya perlindungan hukum merugikan komunitas gay. Salah satu indikasinya, kata Rosenwasser, tingginya tingkat bunuh diri di kalangan LGBT.

"Di antara orang-orang homoseksual, itu [tingkat bunuh diri] lebih tinggi dibandingkan dengan orang-orang heteroseksual. Itu berarti sesuatu, itu menunjukkan bagaimana kita belum merasa aman."

Siapa saja yang menentangnya?

"Kami bahkan tidak tahu apakah lelucon tentang gay akan diizinkan," ujar Benjamin Fischer, politisi sayap kanan dari Partai Rakyat Swiss kepada televisi Swiss.

"Ada yang mengatakan ya, ada yang mengatakan tidak, mereka akan dihukum. Kami hidup di sebuah negara dengan kebebasan berekspresi, orang-orang harus diizinkan untuk berpikir dan mengatakan apa yang mereka sukai, bahkan jika itu sedikit bodoh atau hambar."

Ada juga pertentangan dari beberapa kelompok agama.

Meskipun gereja Swiss yang direformasi telah mendukung undang-undang yang baru, Aliansi Injili Swiss, yang memiliki dukungan signifikan di daerah pedesaan, ragu-ragu.

"Gereja kami memandang pernikahan antara seorang laki-laki dan perempuan sebagai satu-satunya pasangan yang ingin mereka nikahi," jelas sekretaris jenderal Aliansi Injili Swiss, Marc Jost.

"Kami hanya ingin bebas untuk mengatakan: 'Baik, kami ingin hak istimewa pernikahan pria dan perempuan.' Dan kami tidak ingin berada dalam risiko jika kami berbagi pendapat ini, dan memperlakukan pasangan lain dengan cara yang berbeda. "

Hubungan sesama jenis sudah legal di Swiss, dan RUU untuk melegalkan pernikahan sesama jenis sedang dalam proses melalui parlemen.

Marc Jost tidak nyaman dengan perkembangan ini, terlepas dari alasan keluarga yang mungkin mendorongnya ke sudut pandang yang berbeda.

"Ayah saya gay dan tinggal bersama pasangannya, dan tentu saja kami tidak sepakat dengan pertanyaan yang sangat pribadi," jelasnya.

"Tapi kami masih memiliki hubungan yang baik. Penting untuk menunjukkan bahwa mungkin untuk secara damai tidak setuju pada pertanyaan penting dalam hidup."

Seberapa buruk diskriminasi terhadap LGBT?

Pendukung aturan ini berpendapat bahwa tidak ada yang dituntut karena komentar pribadi, atau untuk kepercayaan agama. Namun, kata mereka, hukum harus melindungi komunitas LGBT dari diskriminasi publik dan serangan-serangan.

Anggota komunitas gay yang diwawancarai oleh harian Swiss, 20 Minuten, mengatakan mereka sering mendapat serangan fisik, beberapa bahkan dirawat di rumah sakit.

Kelompok pemuda heteroseksual mengatakan kepada koran yang sama mereka merasa tidak apa-apa untuk memukul pasangan gay, bahkan merasa mereka bisa "disembuhkan dengan beberapa pukulan".

Maka dari itu, ujar juru kampanye Jessica Zuber, argumen terkait kebebasan bereksporesi dianggap terlalu jauh.

"Kebebasan berekspresi dalam demokrasi liberal hanya berlaku sejauh hak individu atas martabat manusia dilindungi," katanya.

"Jika undang-undang ini disahkan, itu adalah pertanda kuat menuju penerimaan martabat manusia semua orang, apa pun orientasi seksual mereka."

Itu akan menjadi pertanda penting bagi Anna Rosenwasser, yang tahu bagaimana rasanya merasa tidak nyaman dalam mengekspresikan identitasnya.

"Saya sebenarnya berkencan dengan pria selama 10 tahun. Sekarang saya punya pacar perempuan, dan kami adalah pasangan yang suka berpelukan, kami berpegangan tangan. Tetapi ada situasi di mana kami tidak akan berpegangan tangan, agar merasa lebih aman.

"Aku tidak bisa mengingat situasi apa pun ketika aku bersama seorang pria di mana aku benar-benar melepaskan tangannya agar merasa lebih aman."