Pencipta karakter Thanos menyebut Donald Trump 'orang bodoh nan sombong' gara-gara cuitan tentang Avengers

Donald Trump

Sumber gambar, Marvel/Trump War Room

Keterangan gambar, Cuitan tim kampanye Trump memajang foto Thanos yang bagian kepalanya diganti dengan foto kepala Donald Trump
    • Penulis, Paul Glynn
    • Peranan, Reporter hiburan dan seni
  • Waktu membaca: 3 menit

Ada pemeo yang menyebut imitasi adalah bentuk sanjungan yang paling jujur. Tapi lain halnya dengan mendaur ulang budaya pop untuk tujuan politik: bisa jadi bumerang.

Pada Selasa lalu (10/12), pencipta karakter Thanos menyebut Presiden AS Donald Trump sebagai "orang bodoh nan sombong" setelah tim kampanyenya menggunakan karakter penjahat super di jagat Marvel itu dalam sebuah video kampanye.

Sebuah cuplikan film Avengers yang sudah disunting menunjukkan sosok karakter Thanos dengan kepala Donald Trump.

Sosok separuh Thanos separuh Trump itu mengatakan bahwa terpilih kembalinya ia pada pilpres 2020 "tidak terhindarkan" (inevitable, red.), sambil menjentikkan jarinya untuk memusnahkan semua musuh politiknya.

"Setelah awalnya saya merasa (hak cipta saya) dilanggar, melihat orang bodoh nan sombong itu menggunakan karya saya untuk mengelus ego kekanak-kanakannya, akhirnya saya sadar bahwa pemimpin negara saya dan dunia bebas itu suka membandingkan dirinya dengan sosok pembunuh massal," kata Jim Starlin, yang memperkenalkan sosok Thanos pertama kali pada era 1970-an.

"Sangat memuakkan, 'kan? Ini adalah saat-saat menyedihkan dan aneh yang harus kita lalui. Untungnya, segala hal, bahkan mimpi buruk nasional sekalipun, pada akhirnya akan berakhir," ujarnya kepada The Hollywood Reporter.

Starlin awalnya menciptakan karakter penjahat super itu pada tahun 1973, ketika muncul pertama kalinya dalam buku cerita The Invincible Iron Man.

Cuitan dari akun Twitter Trump War Room, yang menyebutkan bahwa akun itu "dikelola oleh kampanye #TeamTrump 2020", memperlihatkan sosok Trump sebagai Thanos, melenyapkan sekelompok politikus Partai Demokrat yang menggelar konferensi pers untuk mengumumkan pasal-pasal pemakzulan terhadap sang presiden.

Hentikan X pesan, 1
Izinkan konten X?

Artikel ini memuat konten yang disediakan X. Kami meminta izin Anda sebelum ada yang dimunculkan mengingat situs itu mungkin menggunakan cookies dan teknologi lain. Anda dapat membaca X kebijakan cookie dan kebijakan privasi sebelum menerima. Untuk melihat konten ini, pilihlah 'terima dan lanjutkan'.

Peringatan: Konten pihak ketiga mungkin berisi iklan

Lompati X pesan, 1

Presentational white space

Adegan itu dicomot dari film Avengers: Endgame, ketika Thanos mengatakan "saya tidak terhindarkan" ("I am inevitable") dan menjentikkan jarinya untuk mencoba melenyapkan seluruh kehidupan di jagat raya, hingga kemudian menyadari bahwa sarung tangan 'ajaib'nya tak lagi memiliki kekuatan super.

Reaksi di Twitter muncul dari berbagai pihak, termasuk dari seorang sejarawan dan penulis buku, Kevin M Kruse, yang menuliskan: "Anda membuat Trump menjadi seorang penjahat super dan mengisahkan sosoknya pada adegan di mana rencananya untuk menghabisi semua orang di jagat raya gagal total akibat arogansi dan inkompetensinya."

Pengguna Twitter lain, Andrew Madsen, berkelakar: "Tak mungkin yang terlibat dalam pembuatan video ini menonton dua film Avengers terakhir."

Yang lain, dengan nama akun YGallanter, menunjukkan bahwa cuitan terakhir - seperti foto sebelumnya yang menempelkan kepala Trump di tubuh Rocky - adalah sebuah metode untuk "memancing amarah" para liberal.

Presiden AS itu bukanlah politikus pertama - dan yang jelas, bukan yang terakhir - yang mengadaptasi budaya pop untuk kepentingan sendiri dalam upaya untuk membuat sosoknya terasa relevan dan 'nyambung' dengan masyarakat pemilik hak suara, dan membuatnya viral di era media sosial seperti sekarang ini.

Meski demikian, mempolitisir karakter, film, lagu atau game yang dicintai masyarakat, berisiko mengundang reaksi negatif.

Awal pekan ini, Perdana Menteri Inggris Boris Johnson mereplika adegan film komedi romantis Richard Curtis, Love Actually, untuk menyampaikan pesannya tentang Brexit.

Hentikan X pesan, 2
Izinkan konten X?

Artikel ini memuat konten yang disediakan X. Kami meminta izin Anda sebelum ada yang dimunculkan mengingat situs itu mungkin menggunakan cookies dan teknologi lain. Anda dapat membaca X kebijakan cookie dan kebijakan privasi sebelum menerima. Untuk melihat konten ini, pilihlah 'terima dan lanjutkan'.

Peringatan: Konten pihak ketiga mungkin berisi iklan

Lompati X pesan, 2

Presentational white space

Jika Anda membaca balasan-balasan komentar cuitannya, Anda bisa melihat begitu banyak yang tidak senang dengan penggunaan referensi film itu untuk kepentingan politiknya.

Sementara itu, pemimpin Partai Buruh, Jeremy Corbyn, juga melakukan hal serupa di hari yang sama.

Cuitan Kejam Bersama (Mean Tweets With) Jeremy Corbyn, di mana ia membacakan cuitan para pengguna Twitter yang paling kejam tentangnya, menyontek salah satu segmen acara bincang-bincang populer AS, Jimmy Kimmel Live, di mana para selebriti yang biasanya duduk di kursi panas, alih-alih politikus.

Hentikan X pesan, 3
Izinkan konten X?

Artikel ini memuat konten yang disediakan X. Kami meminta izin Anda sebelum ada yang dimunculkan mengingat situs itu mungkin menggunakan cookies dan teknologi lain. Anda dapat membaca X kebijakan cookie dan kebijakan privasi sebelum menerima. Untuk melihat konten ini, pilihlah 'terima dan lanjutkan'.

Peringatan: Konten pihak ketiga mungkin berisi iklan

Lompati X pesan, 3

Apa boleh politikus 'meminjam ide' dari film dan acara TV?

Martin Kretschmer, profesor hukum kekayaan intelektual di Universitas Glasgow, mengatakan kepada BBC News bahwa video yang dibuat Trump dan Johnson "sangatlah berbeda" dalam kaitannya dengan hukum hak cipta.

"Parodi Love Actually yang dilakukan Boris Johnson bukanlah bentuk pelanggaran hak cipta," jelasnya.

"Ia mengimitasi sebuah gaya, sebuah format. Tidak ada bagian substantif dari film Love Actually yang diambil.

"Berbeda dengan video Twitter Trump, yang memodifikasi adegan dari film Avengers: Endgame. Di sini, sebuah bagian substantif dari film itu disalin. Jadi ini mungkin menjadi bentuk pelanggaran hak cipta kecuali terdapat pembelaan atau pengecualian."

Di samping perbedaan yang jelas dalam hal gaya dan produksi, juga terdapat perbedaan dalam hukum hak cipta di AS dan Inggris, ungkapnya.

"Hak cipta merupakan hak teritorial, dan di setiap negara hasil penilaiannya akan berbeda-beda. Di AS, terdapat hak Amandemen Pertama yang sangat kuat yang melindungi kebebasan berbicara dan pembelaan 'penggunaan (konten) secukupnya' yang fleksibel dari (tuntutan) pelanggaran hak cipta.

"Trump dapat mengklaim bahwa video Twitternya merupakan sebuah parodi, dan termasuk ke dalam pengecualian dengan alasan 'penggunaan (konten) secukupnya'."

Lebih jauh, katanya, ada "perbedaan penting" secara hukum antara "parodi dengan target" - yang mengolok-olok karya berhak cipta, seperti film atau karya seni - dan "parodi sebagai senjata", yang menggunakan karya untuk menyampaikan pesan berbeda yang tidak berhubungan dengan karya sebenarnya.

"Adaptasi Avengers yang dilakukan Trump termasuk kategori kedua, dan untuk itu menjadi lebih problematik," kata Kretschmer.