Jelang hadapi Spanyol: Apakah Rusia bakal tampil menakjubkan seperti tim era Soviet?

Timnas Rusia

Sumber gambar, Getty Images

Keterangan gambar, Apakah timnas Rusia sekarang lebih hebat ketimbang era Lev Yashin dkk? Tim Rusia saat menghadapi Mesir di penyisihan grup.

Timnas Rusia akan menghadapi Spanyol pada babak 16 besar pada Minggu (01/07) malam WIB. Apakah timnas Rusia sekarang lebih hebat ketimbang era Lev Yashin dkk?

Uang kertas seratus rubel Rusia (setara Rp22 ribu) bergambar Lev Yashin beredar selama Piala Dunia. Di permukaan uang tersebut ada anak berkaus jersey menatap kagum 'si Laba-Laba Hitam' yang tengah menyelamatkan gawangnya.

''Lev Yashin," ungkap Daniil Rubin, pria Rusia berusia 20 tahun, "adalah legenda sepak bola Uni Soviet yang paling dirayakan di Rusia, sampai sekarang.''

''Dia pahlawan sepak bola kami,'' tambahnya agak bersemangat, saat ditemui di sekitar Jalan Nikolskaya, Moskow, tempat berkumpul para suporter sepak bola dari berbagai negara — termasuk warga Rusia yang mendukung tim tuan rumah.

Lev Yashin

Sumber gambar, Hulton Archive

Keterangan gambar, 'Si laba-laba hitam' Lev Yashin, legenda sepak bola Rusia di era Soviet di tahun 1960an.

Di tahun 1963, Yashin pernah meraih penghargaan bergengsi Ballon d'Or — penghargaan untuk kiper terbaik di jagad raya. Kemudian tiga tahun berikutnya, timnas Uni Soviet sampai ke perempat final Piala Dunia dan duduk di posisi ke empat pada laga yang berlangsung di Inggris.

''Di masa itu, sepak bola Uni Soviet di zaman keemasannya,'' ujar Daniil kepada warga Indonesia yang tinggal di Moskow, Clara Rondonuwu, untuk BBC News Indonesia.

Sepak bola mulai populer di era Uni Soviet sekitar dekade 1920-an. Klub sepakbola tertua yaitu CSKA Moskow, yang berdiri pada 1911 dan merupakan tim sepak bola resmi tentara Soviet. Di wilayah lainnya, klub Dinamo Moskow lahir dan menjadi klub bagi pegawai Kementerian Dalam Negeri dan Cheka — pendahulu dinas intelijen Uni Soviet KGB.

Tim Soviet

Sumber gambar, Hulton Archive

Keterangan gambar, Timnas Rusia (dulu masih timnas Soviet) di Piala Dunia 1966 di Inggris. Berkaos gelap adalah kiper legendaris negara itu, Lev Yashin.

Dari tim-tim yang umumnya dikelola oleh agen pemerintah tersebut, lahirlah Spartak Moskow. Klub yang satu ini dibentuk organisasi serikat perdagangan publik di tahun 1922. Inilah ''Tim Rakyat'' di zaman Uni Soviet, yang didanai oleh sejumlah badan sipil.

Sepak bola kemudian masuk masa keemasan di pengujung 1940-an dan 1950-an. Ketika itu, timnas Rusia menyabet emas di Olimpiade Melbourne 1956. Atlet terkenal muncul, di antaranya Vsevolof Bobrov. Tapi nama-nama tersebut tidak secemerlang Lev Yashin yang membawa nama Uni Soviet di pertandingan internasional.

Kiprah tim sepak bola Rusia di era Soviet ini terus hidup sampai sekarang. Itulah sebabnya, penggemar timnas Rusia, Aleksander Pashkov, mengatakan ''permainan sepak bola zaman Uni Soviet lebih baik dan lebih kuat dari tim Rusia sekarang''.

Istri Lev Yashin

Sumber gambar, Getty Images

Keterangan gambar, Istri Lev Yashin, Valentina, saat mengikuti acara peluncuran poster resmi Piala Dunia 2018 pada akhir November 2017 lalu. Poster itu memperlihatkan Lev Yashin tengah menerkam bola.

"Bahkan tim nasional Rusia sepuluh tahun yang lalu lebih baik daripada tim sekarang. Saat itu pelatih kami Guus Hiddink," tandasnya.

"Permainan bagus, kiper dan pemain lainnya sama-sama kuat, sebab pelatihnya sangat bagus,'' ungkap pria yang juga pengajar di Institut Pushkin Moskow ini.

Puncak kejayaan tim Soviet: Piala Dunia 1966

Adapun, puncak permainan timnas Uni Soviet adalah Piala Eropa 1966. Sesudah itu, hingga saat Uni Soviet pecah di 1991, prestasi sepak bolanya terus merosot. Terus-terusan Rusia gagal mencetak prestasi dan acap gagal tampil di laga-laga besar.

Saat tampil pertama kali sebagai negara independen Rusia di Piala Dunia Amerika 1994, timnas Rusia berhasil lolos dari putaran kualifikasi. Mereka berada di urutan kedua sesudah Yunani.

Stanislav Cherchesov

Sumber gambar, Getty Images

Keterangan gambar, Kiper Rusia, Stanislav Cherchesov (kini menjadi pelatih timnas Rusia), duel dengan penyerang Kamerun dalam Piala Dunia 1994 di Amerika Serikat.

Manajer tim saat itu Pavel Sadyrin menurunkan Stanislav Cherchesov sebagai kiper (kini pelatih timnas Rusia), pemain tengah Valeri Karpin dan Aleksander Mostovoi, serta penyerang Oleg Salenko yang tampil sebagai pencetak gol terbanyak dalam kejuaraan itu.

Di turnamen tersebut, Rusia bertemu Tim Samba Brazil yang sudah tiga kali menyabet juara dunia. Hadirnya pemain-pemain seperti Dunga, Bebeto, dan Romario, membuat Brazil terlampau kuat bagi anak-anak asuhan Sadyrin.

Kekalahan Rusia diikuti dengan kekalahan 3-1 atas Swedia, yang kemudian jadi penentu nasib Rusia. Tak diharapkan lagi, tim Rusia bermain lepas dan akhirnya menundukkan Kamerun 6-1.

Rusia 2018 dan sosok Cherchesov

Lalu, sanggupkah Rusia - sebagai tuan rumah - menggapai tiket ke babak perempat final, semi final dan bahkan final?

Selama laga uji coba Piala Dunia, Rusia tidak pernah menang. Tim ini hanya menduduki posisi 70 FIFA dan menjadikan Rusia menjadi tim tuan rumah dengan ranking terendah yang bermain di Piala Dunia.

Mulai dari fan, wartawan, hingga komentator sepak bola mengkritik habis-habisan strategi yang diambil pelatih timnas Rusia Stanislav Cherchesov.

Stanislav Cherchesov.

Sumber gambar, Getty Images

Keterangan gambar, Stanislav Cherchesov, pelatih timnas Rusia, bersama sebagian pemainnya dalam sesi latihan jelang lawan Spanyol di babak 16 besar.

"Orang ini egonya sebesar jembatan ke Krimea. Strategi sepakbolanya benar-benar kosong dan membosankan," ungkap Yury Dud, salah satu blogger dan editor di situs Sports.ru, pada malam menjelang turnamen pembuka Piala Dunia.

Itu sebabnya, tidak ada yang menyangka tatkala timnas Rusia mampu melenggang ke akhir babak 16 besar dengan dua kemenangan sempurna di laga Arab Saudi (5-0) dan Mesir (3-1) — dan di laga terakhir mereka digulung Uruguay 0-3, tetapi tetap lolos.

Cherchesov pun banjir pujian dari publik Rusia. Wajahnya dijadikan topping pizza, seperti diperlihatkan dalam unggahan akun @abushkin.

Sedangkan akun @Kostya_Belyukov membagikan foto mural wajah Cherchesov di St Petersburg yang dibuat pasca kemenangan Rusia atas Arab Saudi.

Cherchesov

Sumber gambar, Getty Images

Keterangan gambar, ''Dia (Cherchesov) salah satu pelatih terbaik yang dimiliki Rusia,'' puji Daniil Rubin. ''Para pemain berkembang di bawah asuhan pelatih sekarang."

Tagar #pereobuvayemsa pun berkibar di media sosial. Jika diterjemahkan, tagar tersebut berbunyi ''Sekarang, kami ganti sepatu''. Ini semacam idiom Rusia saat seseorang berubah pikiran dengan cepat.

''Dia salah satu pelatih terbaik yang dimiliki Rusia,'' puji Daniil Rubin. ''Para pemain berkembang di bawah asuhan pelatih sekarang."

"Seandainya cara permainan dipertahankan seperti laga pertama dan kedua, saya membayangkan Rusia menang saat menghadapi tim kuat seperti Spanyol,'' katanya, kemudian menyanyikan lagu patriotisme ''Katyusha'' dengan semangat.

''Ini lagu patriotis yang sering dinyanyikan, karena mengingatkan kami akan kemenangan Rusia di Perang Dunia II," ujarnya. "Ini lagu pembangkit spirit buat orang Rusia, bahwa tim kami bisa menang."

Cherchesov

Sumber gambar, Getty Images

Keterangan gambar, Cherchesov (tengah) bersama sejumlah pemain timnas Rusia dalam latihan jelang lawan Spanyol di babak 16 besar.

Adapun, Katyusha juga nama pelucur roket yang dipakai oleh Tentara Merah di masa Perang Dunia II.

''Kalau mau lihat yang realitis, baik atau buruk mereka sudah bermain luar biasa. Apapun, saya tetap berharap Rusia lolos ke final.''

'Impian bertanding lawan Spanyol'

Sementara itu, Aleksander Pashkov mengatakan Spanyol bukan tim terbaik saat ini. Dan, Rusia berpeluang untuk menang pada laga Minggu, 1 Juli.

''Menurut saya Spanyol bukan tim terbaik saat ini. Tadinya saya pikir Jerman tim yang kuat. Tapi kemarin Jerman pulang. Spanyol dulunya tim kuat, itu 10 tahun yang lalu. Sekarang Spanyol tidak sekuat dulu. Saya berharap Rusia bisa menang,'' ujarnya.

Golovin dan Isco

Sumber gambar, AFP

Keterangan gambar, Duel di lapangan tengah antara Isco (kiri) dan Aleksandr Golovin akan terjadi saat laga Rusia lawan Spanyol di babak 16 besar.

''Rusia di final, itu mimpi saya. Kami orang Rusia menyukai sepak bola dan senang menang. Tapi tentu saja itu tidak realistis, kami tidak akan menjadi tim nomor satu. Apapun jika Rusia menang dalam pertandingan berikut maka itu sudah sangat bagus buat sejarah dan skenario persepakbolaan Rusia.''

''Bertanding melawan Spanyol saja sudah menjadi impian kami. Itu bisa dibilang mimpi setiap laki-laki Rusia,'' kata Pashkov, kemudian menambahkan bahwa sepak bola belum begitu populer di kalangan perempuan.

Walau banyak yang menilai penentu tim sekarang adalah Cherchesov, namun menurut Paskhov yang utama adalah Aleksander Golovin.

Golovin

Sumber gambar, Getty Images

Keterangan gambar, Aleksander Golovin, pemain tengah Rusia, yang diharapkan mampu memainkan perannya secara maksimal saat menghadapi Spanyol.

''Dia adalah pesepakbola profesional Rusia yang bermain sebagai pemain tengah untuk CSKA Moskow dan tim nasional rusia. Golovin akan pergi ke Italia dan bergabung dengan Juventus setelah Piala Dunia berakhir,'' ungkapnya.

''Dia salah seorang pemain terkenal dan masih muda. Dia pemain terbaik di tim Rusia.''

Jadi, apakah timnas Rusia bakal mampu menggulung Spanyol, sehingga kiprahnya terus meroket dan mampu menyamai rekor timnas mereka di era Soviet? Waktu yang akan menjawabnya.