Maraton di Korea Utara: Mengapa jumlah pelari asing merosot jauh?

Maraton di Korea Utara

Sumber gambar, AFP/Getty

Keterangan gambar, Warga Korea Utara menyemangati para peserta lomba lari di Pyongyang.

Ratusan pelari dari negara-negara asing turut berkompetisi dalam ajang lari maraton di Pyongyang, namun jumlah peserta turun sekitar setengahnya dari tahun lalu.

Perlombaan lari tahunan ini merupakan bagian dari perayaan untuk menandai hari lahir pendiri Korea Utara, Kim Il-sung pada tahun 1912.

Larangan perjalanan yang dikeluarkan pemerintah AS dan kekhawatiran perang nuklir tampaknya menjadi faktor menurunnya jumlah peserta. Padahal perhelatan langka ini biasanya menjadi saat-saat paling ramai bagi kunjungan para wisatawan Barat.

Ada 429 warga asing yang ikut berlomba pada hari Minggu (8/4), jumlah ini turun bila dibandingkan dengan tahun 2017 yang diikuti oleh lebih dari 1.000 pelari.

Sebelum ini lebih dari 5.000 wisatawan Barat dilaporkan melakukan perjalanan ke Korea Utara setiap tahun, seperlimanya adalah warga Amerika.

Namun tahun lalu AS memberlakukan larangan perjalanan ke Korea Utara setelah kematian Otto Warmbier, seorang warga Amerika yang sedang liburan di sana ditangkap dan ditahan di Korea Utara selama 17 bulan. Dia kembali ke Amerika pada bulan Juni 2017 dalam keadaan koma dan meninggal tak lama kemudian.

Lomba lari maraton ini dimulai di stadion Kim Il-sung sebelum mengarah ke tempat-tempat penting di ibukota Korea Utara, seperti Alun-alun Kim Il-sung dan proyek pembangunan jalan baru, Mirae.

Pelari asal Korea Utara, Ri Kang-bom menjuarai kategori maraton penuh untuk pria dalam waktu 2 jam 12 menit dan 53 detik.

"Saya senang bahwa saya bisa memenuhi harapan rakyat," kata Ri.

Para pelari profesional, termasuk 13 peserta dari negara-negara Afrika, masuk dalam kategori elit ini.

Sedangkan kategori maraton penuh untuk perempuan dimenangkan oleh Kim Hye-gyong dari Korea Utara dengan waktu 02:27:24. Saudara kembarnya, Kim Hye-song, menyusul beberapa detik kemudian.

Kim Hye Gyong

Sumber gambar, AFP/Getty

Keterangan gambar, Kim Hye-gyong, kanan, mengalahkan saudara kembarnya secara telak Kim Hye-song dalam lomba maraton profesional wanita.

Kompetisi ini secara resmi diberi nama Mangyongdae Prize International Marathon.

Asosiasi Maraton dan Lari Jarak Jauh Internasional serta Federasi Atletik Internasional memberi akreditasi pada perlombaan lari tahun ini, dan memberi status Bronze Label Road Race.

Pyongyang mulai mengizinkan para pelari asing untuk mengikuti perlombaan lari pada tahun 2014, dan acara tersebut telah meningkatkan pariwisata.

Pelari asing

Sumber gambar, AFP/Getty

Keterangan gambar, Ada 429 pelari asing yang yang berkompetisi dalam maraton tahunan Pyongyang tahun 2018, jumlah ini turun setengahnya dari tahun lalu.

Ketegangan antara AS dan Korea Utara tampaknya telah membebani pikiran para pendatang. Namun berbagai langkah terbaru yang dilakukan oleh pemimpin Korea Utara, Kim Jong-un seakan menenangkan situasi di semenanjung Korea - terutama sejak Olimpiade Musim Dingin di Korea Selatan pada bulan Februari - dan tampaknya cukup memupus kekhawatiran para atlit.

Agen-agen perjalanan menyebutkan terjadi peningkatan minat maraton dari para wisatawan dalam beberapa bulan terakhir.

Matt Kulesza dari Young Pioneer Tours, yang membawa Otto Warmbier ke Korea Utara, mengatakan meskipun jumlah wisatawan untuk maraton turun dibandingkan tahun lalu, jumlah wisatawan keseluruhan untuk 2018 tetap sesuai target.

"Dengan begitu banyak pembicaraan positif tentang Korea Utara di media, mungkin aura misteri itu, aura bahaya akan nyaris tak nampak," katanya.

Arch of Triumph

Sumber gambar, AFP/Getty

Keterangan gambar, Para peserta berlari melewati Arch of Triumph Pyongyang mendekati garis finish.

Tetapi mahasiswa Inggris Callum McCulloch, yang ikut lari separuh maraton, mengatakan kepada kantor berita AFP bahwa dia mendapat "hak untuk menepuk dada" dengan melakukan hal yang bertentangan dengan anjuran pemerintah tentang bepergian ke Korea Utara.

Mahasiswa berusia 23-tahun itu menggambarkan Pyongyang "seperti set film Wes Anderson."

"Jika ada yang menganjurkan kita untuk tidak pergi ke suatu tempat atau tidak melakukan sesuatu, tentunya itu membuat kita justru menjadi lebih ingin pergi ke sana."