Marawi sudah bebas dari militan, tegas Presiden Duterte

Sumber gambar, AFP
Presiden Filipina Rodrigo Duterte menyatakan kota Marawi sudah 'dibebaskan' dari militan walau pertarungan dilaporkan masih terus berlangsung, Selasa (17/10).
Militer mengatakan perang tetap dilancarkan terhadap sekitar 30 militan yang masih berada di dalam kota yang menyandera 20 orang.
Selama lima bulan terakhir tentara Filipina berupaya menguasai kembali sepenuhnya kota yang sempat direbut militan Islam dan hingga saat ini jatuh korban 1.000 jiwa lebih, termasuk puluhan warga sipil.

Sumber gambar, AFP
Tampaknya tentara memang menghadapi kesulitan untuk mengusir total militan yang berkaitan dengan kelompok yang menamakan diri Negaras Islam atau ISIS, yang merebut Marawi, Mei lalu.
Namun sehari setelah tewasnya sosok yang disebut pemimpin ISIS di Asia Tenggara, Isnilon Hapsilon, Presiden Duterte -di hadapan para tentara di Marawi- mengumumkan, "Tuan dan Nona, dengan ini saya menyatakan Marawi dibebaskan dari para teroris."
Bagaimanapun suara tembakan dilaporkan masih terdengar hingga beberapa saat sebelum pengumuman Duterte tersebut.
________________________________________________________
Sekilas Isnilon Hapilon
- Pemimpin kelompok Abu Sayyaf, yang tersohor dengan penculikan untuk meminta tebusan, pembajakan kapal, dan juga memenggal sandera, termasuk sandera warga asing.
- Membentuk faksi yang bertujuan untuk menciptakan kekhalifahan Islam di Filipina selatan sementara beberapa militan lain memilih terlibat kegiatan kriminal.

Sumber gambar, Reuters
- Menyatakan kesetiaan kepada ISIS tahun 2014 dan ISIS kemudian mendesak semua umat Muslim di Asia Tenggara bersatu di bawah kepemimpinannya.
- Pemerintah Amerika Serikat menawarkan hadiah US$5 juta atau sekitar Rp67 miliar untuk informasi yang mengarah pada penangkapan pria berusia 51 tahun ini.
- Menjalin hubungan dengan kelompok Maute, yang juga melakukan pemberontakan di Filipina selatan dan menyatakan kesetiaan kepada ISIS
________________________________________________________
Walau militer menyatakan masih melakukan operasi untuk menyelamatkan sandera dan menghancurkan militan yang masih tersisa, mereka bukan dianggap ancaman lagi.
Juru bicara militer Restituto Padilla mengatakan kepada stasiun TV ANC bahwa para militan itu adalah 'orang-orang yang tertinggal barisan'.

Sumber gambar, EPA
Militer Filipina pada Senin (16/10) menyatakan selain Hapilon, juga berhasil dibunuh Omarkhayam Maute, salah seorang dari dua bersaudara pemimpin Maute.
Lebih 800 militan tewas dalam perang merebut kembali Marawi, ibu kota Provinsi Lanao del Sur, Pulau Mindanao, sementara di kubu pemerintah sedikitnya 150 tentara tewas.
Perang juga menyebabkan 50 warga sipil ikut terbunuh dan 400.000 jiwa mengungsi.
Para pengamat berpendapat serangan militan atas Marawi agaknya mencerminkan bahwa ideologi Islam radikal di Mindanao mengakar lebih kuat daripada yang diperkirakan sebelumnya.
Selain itu ada kekhwatiran militansi menyebar ke kawasan lain, dengan ditemukannya beberapa militan asing -termasuk dari Indonesia- yang ikut bergabung dengan kelompok militan di Mindanao.









