Darah segar bagi pemilik toko tradisional

High Street
Keterangan gambar, Makin banyak toko dan restoran di pusat keramaian yang tutup dalam beberapa tahun ini.
    • Penulis, Mohamad Susilo
    • Peranan, Wartawan BBC Indonesia

Ada pemandangan yang nyaris sama di pusat keramaian di sejumlah kota di Inggris dalam beberapa tahun terakhir: berkurangnya toko atau restoran kecil dan menengah.

Saat meliput ke kota Wolverhampton sekitar empat tahun lalu, saya melihat lebih dari lima toko gulung tikar di satu ruas jalan yang sama.

Pemandangan yang sama juga saya jumpai di beberapa daerah di pinggiran London.

Sepertinya makin banyak toko-toko yang berubah fungsi atau dibiarkan kosong begitu saja.

Serbuan toko online dituding sebagai salah satu sebab matinya usaha kecil, menengah, bahkan besar.

Toko online memiliki banyak kelebihan yang pada akhirnya mampu menawarkan harga miring -sering kali jauh lebih miring- dari barang yang sama yang ditawarkan toko tradisional, di Inggris biasa disebut High Street.

Untuk persoalan harga, toko tradisional jelas tidak bisa bersaing dengan toko online.

Pajak

Pemerintah Inggris memberlakukan skema pajak yang berbeda, yang menyebabkan toko-toko tradisional tidak bisa menawarkan diskon.

Di sisi lain, pajak untuk perusahaan atau toko online jauh lebih kecil, yang membuat pengusaha online punya ruang yang lebih leluasa untuk menetapkan harga yang kompetitif.

Sebagai gambaran, berdasarkan riset BBC, pendapatan toko serba ada Harrods dan toko pakaian online Asos sama-sama di kisaran £700 juta.

Tapi Harrods -toko mewah di kawasan Knightsbridge, London- harus membayar pajak (business rate) ke pemerintah sebesar £11,5 juta untuk tahun anggaran sekarang.

High Street
Keterangan gambar, Inggris menerapkan besaran pajak yang berbeda untuk toko online dan toko tradisional.

Asos di sisi lain hanya membayar pajak £935.000. Sangat jauh bedanya.

Di Inggris business rate didasarkan pada nilai sewa properti yang dipakai untuk usaha.

Berdasarkan perhitungan ini, Harrods jelas harus mengeluarkan biaya tinggi untuk pajak, karena properti yang mereka pakai untuk usaha punya nilai sewa yang sangat tinggi.

Reformasi

Asos, seperti halnya perusahaan online lain, lebih sering menyewa tempat yang lebih kecil di tempat-tempat yang tidak strategis, yang memiliki nilai sewa kecil.

Bagi Asos mereka tidak perlu punya toko di kawasan Knightsbridge atau Oxford Street di pusat kota London.

Situasi inilah yang dicoba diubah oleh pemerintah. Menteri Keuangan George Osborne mengatakan sistem pajak usaha, yang sudah berlaku sejak 1601, akan direformasi dengan tujuan membantu pemilik usaha di High Street.

Reformasi ini diharapkan akan menurunkan pajak yang pada gilirannya akan memungkinkan pemilik toko bisa bersaing dengan toko-toko online dalam menawarkan harga yang kompetitif.

Sebagai konsumen, saya tentu senang dengan rencana perubahan ini.

Siapa yang tidak senang mendapatkan barang atau jasa yang lebih murah?