Kota 'eksploitasi seks' di Inggris

rotherham

Sumber gambar, BBC World Service

Keterangan gambar, Temuan Profesor Alexis Jay menyebutkan terdapat lebih 1.400 kasus eksploitasi seks.
    • Penulis, Endang Nurdin
    • Peranan, Wartawan BBC Indonesia

Berita yang muncul tentang kejadian di Rotherham, kota di South Yorkshire, mengejutkan seluruh Inggris.

Lebih dari 1.400 anak menjadi korban eksploitasi seksual dari 1997 sampai 2013 dan tidak ditangani secara serius oleh pihak berwenang.

Di Rotherham sendiri, banyak yang terpukul dan merasa jijik mendengar skala eksploitasi yang begitu besarnya serta sangat khawatir atas keamanan mereka.

Kasus eksploitasi seksual ini terungkap dalam laporan Proefessor Alexis Jay, yang memang ditugaskan oleh dewan pemerintahan daerah untuk memimpin penyelidikan independen masalah ini sejak tahun lalu.

Dalam laporan Jay disebutkan 'mayoritas pelaku digambarkan sebagai orang Asia' oleh korban.

Sebutan 'orang Asia' di Inggris mengacu kepada komunitas Asia selatan.

Sebagian besar korban kasus yang telah diperiksa sejauh ini adalah perempuan kulit putih, namun laporan menyebutkan kemungkinan korban perempuan dari komunitas Asia selatan sendiri tidak melapor.

Salah seorang korban bercerita kepada BBC Radio 4, ia mulai 'disiapkan' untuk menjadi korban sejak usia 12 tahun dan diperkosa 'sekali seminggu, setiap hari' sampai ia berusia 15 tahun.

Menurut 'Emma' (bukan nama sesungguhnya) yang kini berusia 24 tahun, barang bukti berupa baju yang ia berikan ke polisi hilang.

Awalnya, masih menurut Emma, ia didekati oleh sejumlah pria muda yang menurutnya 'masih pada usia sekolah' dan mulai berteman.

Apa yang tidak disadarinya, saat itu ia mulai diincar dan disiapkan untuk dijadikan korban eksploitasi seksual.

Setelah satu tahun masa perkenalan, Emma mulai diperkenalkan ke 'pria dewasa'.

"Saya sudah menaruh kepercayaan kepada mereka, saya anggap mereka teman saya, sampai suatu malam, satu orang memperkosa saya secara brutal di depan sejumlah orang. Mulai saat itu, saya diperkosa satu kali seminggu, setiap minggu," tutur Emma.

Barang bukti 'hilang'

rotherham stasiun

Sumber gambar, BBC World Service

Keterangan gambar, Banyak yang mengatakan mereka tidak aman lagi di kota Rotherham.

Upaya melapor ke polisi tidak bisa dilanjutkan ke proses hukum selanjutnya karena menurut polisi barang bukti, baju, yang diberikan Emma hilang.

"Orang tua saya berusaha melapor ke instansi terkait lain dan ke orang-orang yang seharusnya membantu, karena sebagai keluarga, kami tidak dapat menghentikan orang-orang ini," tambah Emma.

Keluarganya juga mendapatkan ancaman.

Emma merupakan satu dari banyak lainnya yang mulai maju dan mengungkapkan apa yang mereka alami setelah laporan Profesor Jay dikeluarkan.

Isu eksploitasi seksual di Rotherham ini pertama mengemuka empat tahun lalu saat lima pria dari kawasan komunitas Asia selatan dipenjara karena kasus pelecehan seksual terhadap anak di bawah umur.

Saat itu sudah banyak yang curiga bahwa masalah kota ini sebenarnya jauh lebih besar skalanya.

Dua tahun setelah kasus lima pria itu, pada September 2012, wartawan harian The Times, Andrew Norfolk menerbitkan penyelidikan yang mengangkat laporan rahasia polisi yang berisi peringatan bahwa kejahatan seperti ini berjumlah ribuan dan dilakukan di South Yorkshire setiap tahun oleh jaringan geng Asia selatan.

Walaupun ada laporan ini, tetap saja tidak ada tuntutan lain terkait eksploitasi seks terhadap anak di Rotherham.

Mengapa tak terungkap?

pasar

Sumber gambar, BBC World Service

Keterangan gambar, Warga Rotherham juga khawatir tentang masa depan kota itu.

Dalam laporannya, Profesor Jay menyebutkan masalah ras termasuk salah satu alasan yang mempengaruhi langkah pihak berwenang untuk mengambil tindakan.

Polisi dan pihak pemerintah daerah disebutkan khawatir akan dianggap rasis bila bertindak.

Mayoritas penduduk kota berjumlah sekitar 257.000 jiwa ini adalah kulit putih.

Namun Rotherham bukanlah satu-satunya tempat terungkapnya kasus pelecehan seksual di kawasan Utara dan Midlands Inggris.

Penahanan dan tuntutan terhadap geng kejahatan seksual komunitas Asia selatan juga terjadi di 11 kota lain termasuk Rochdale dan Derby yang letaknya tak jauh dari Rotherham.

Akibatnya, banyak pihak yang marah dengan alasan rasisisme sebagai salah satu penghambat langkah mengambil tindakan.

Dalam laporan Profesor Jay juga ditekankan bahwa "tidak ada kaitan antara ras dan eksploitasi seksual terhadap anak, dan di seluruh Inggris, sebagian besar pelaku eksploitasi seksual adalah pria kulit putih".

Sejauh ini, kepolisian South Yorkshire mengatakan 29 orang dikenai dakwaan eksploitasi sekual di Rotherham namun polisi tidak bisa menyebutkan berapa orang yang telah divonis.

Apa pun perdebatan itu, lebih dari 1.400 anak telah menjadi korban.

Eksploitasi seksual dalam skala besar ini BUKAN terjadi di daerah terpencil di negara berkembang.

Namun di satu kota di Inggris, negara dengan sistem hukum dan pengawasan yang sudah mapan.

Jadi sampai saat ini, sangat sulit bagi saya untuk percaya, eksploitasi seksual terhadap anak, terjadi di kota itu dan diabaikan dalam rentang waktu sangat lama, 16 tahun.