Inggris menuju Piala Dunia yang kering?

Bendera St George
Keterangan gambar, Bendera St George mungkin diturunkan dari rumah-rumah jika Inggris tersingkir.
    • Penulis, Liston P Siregar
    • Peranan, Wartawan BBC Indonesia

Sekitar dua jam sebelum pertandingan Inggris-Uruguay, saya ngobrol sebentar dengan tetangga yang kebetulan sedang membersihkan halaman belakangnya.

Kamis petang 19 Juni itu, dengan dipisahkan pagar setinggi dada apa lagi yang dibicarakan kalau bukan Timnas Inggris.

Cuma rasanya saya yang lebih bersemangat mendukung Inggris dibanding dia, yang 'cuma suam-suam suku' atau ya hangat doang nggak sampai panas.

"Inggris sudah sering mengecewakan," katanya. "Saya kira mereka akan bermain seri."

Dalam hati saya sebenarnya rada setuju juga karena rasanya hampir semua orang tahu bahwa peluang Inggris merebut Piala Dunia Brasil bisa dibilang amat sangat kecil sekali.

Di turnamen besar seperti Piala Eropa dan Piala Dunia, sejak merebut Piala Dunia 1966, Timnas Inggris paling top masuk semi final Piala Dunia 1990 dan dua kali semi final Piala Eropa, tahun 1968 dan 1996.

Hasil yang 'mengecewakan' tadi itu mengingat Liga Primer Inggris salah satu liga utama dunia dengan para pemain bintang kelas dunia.

Dukungan dan pengertian

Saya belum bertemu lagi dengan Pak Andrew, tetangga saya tadi, karena sebagai pensiunan dia tidak perlu bangun pagi untuk berangkat kerja.

Luis Suarez

Sumber gambar, Getty

Keterangan gambar, Ada yang mengatakan Suarez yang sebenarnya mengalahkan Inggris, bukan Uruguay.

Jelas kalau ketemu akan menanyakan pendapatnya.

Dari berita di beberapa koran, sebenarnya masih tetap ada semangat untuk mendukung Timnas Inggris.

Yang 'sopan' misalnya mengatakan, "Inggris sebenarnya sudah bermain bagus tapi masih belum cukup".

Beberapa komentator berpendapat permainan Uruguay tak lebih baik dari Inggris, tapi ada Luis Suarez, yang disebut world class finisher atau penyelesai kelas dunia: di kaki dan kepalanya, bola-bola biasa bisa diubah menjadi gol.

Ada yang mengatakan yang mengalahkan Inggris sebenarnya bukan Uruguay tapi Luis Suarez, rekan satu tim kapten Steven Gerrard di Liverpool.

Tapi ada pula yang mengecam keras.

Mantan pemain Timnas Inggris, Trevor Steven, misalnya, menulis kolom yang berpendapat hasil itu memang ya layak bagi manajer Roy Hodgson karena menurunkan tim yang -menurutnya- bergerak lamban dan tidak melakukan operan-operan yang baik, juga tidak ngotot mempertahankan penguasaan bola.

Pendukung Inggris

Sumber gambar, Getty

Keterangan gambar, Ada kemungkinan pendukung Inggris akan menyaksikan Piala Dunia tanpa emosi tinggi lagi.

Kalau membaca kolom lengkapnya, saya mendapat kesan Steven sebenarnya mengatakan "ya rasain".

Bendera St George

Kecil peluang Inggris untuk lolos dari Grup D karena banyak sekali faktor yang dibutuhkan, antara lain Italia harus mengalahkan Kosta Rika dan Uruguai.

Itu pun masih tergantung selisih gol lagi, kalau memang Inggris bisa mengalahkan Kosta Rika.

Dan saya pun harus bersiap untuk kehilangan suasana Piala Dunia di kampung kami, di salah satu pinggiran London.

Bendera-bendera St George-nya Timnas Inggris sampai tadi pagi masih berkibar di jendela-jendela rumah dan mobil yang berlalu lalang mengibarkan bendera kecil.

Bahkan ada yang sengaja memasang tali di antara kedua tiang listrik untuk menggantung bendera besar berkibar di atas jalan.

Tak enak juga rasanya kalau kemeriahan di jalanan kampung saya itu kelak menghilang ketika demam Piala Dunia belum berakhir.

Jelas orang Inggris tetap seru nonton Piala Dunia, tapi rasanya jadi sama saja menonton di tempat-tempat dunia lain yang menyaksikan Piala Dunia tanpa emosi tinggi.