Berakhirnya era mabuk-mabukan?

mabuk

Sumber gambar, Getty

Keterangan gambar, Menurunnya angka orang yang mabuk membantu mengurangi tingkat kriminalitas.
    • Penulis, Endang Nurdin
    • Peranan, Wartawan BBC Indonesia

Setiap kali berpapasan atau berada di dekat dengan orang yang sempoyongan dengan bau alkohol yang cukup menyengat, biasanya saya selalu pelan-pelan menghindar.

Ini pernah terjadi saat berjalan menuju kantor pagi hari di akhir pekan. Mungkin orang itu habis mabuk malam sebelumnya dan menunggu sampai agak tenang sebelum pulang walaupun terlihat masih sulit berdiri.

Pernah juga saya lihat orang yang tampak mabuk di pagi hari di kereta bawah tanah saat berangkat kerja.

Orang yang terlihat sempoyongan itu duduk sambil memegang kaleng bir di tangan dan bicara sendiri.

Biasanya penumpang lain agak menjauh juga, apalagi kalau bau alkohol cukup menyengat.

Namun orang yang mabuk pagi hari seperti tadi makin jarang ditemui.

Orang-orang yang menjauh ini tentu bisa dimengerti karena tingkat kekerasan oleh orang dengan pengaruh minuman beralkohol cukup tinggi di Inggris.

Menurut menteri yang mengurus upaya pencegahan kejahatan, Norman Baker, kekerasan yang terkait minuman beralkohol merugikan masyarakat sekitar £21 miliar untuk satu tahun saja.

Turunnya harga minuman

Penelitian yang baru-baru ini diterbitkan menyebutkan terjadi penurunan besar dalam jumlah orang yang mabuk-mabukan dan angka ini terkait dengan naiknya harga minuman beralkohol di supermarket ataupun di bar-bar.

Hasil penelitian menunjukkan jumlah orang yang memerlukan perawatan di gawat darurat karena diserang turun sebesar 12% dalam satu tahun.

Ini berjalan sebanding dengan turunnya jumlah minuman beralkohol yang dikonsumsi dalam lima tahun terakhir, dari 11 liter setahun pada 2008 menjadi hanya 7,7 liter pada 2013.

alkohol

Sumber gambar, PA

Keterangan gambar, Harga minuman beralkohol terus diturunkan sejak 2008.

Seorang peneliti dari Univesitas Cardiff, Profesor Jonathan Shepherd yang melakukan penelitian itu mengatakan mabuk-mabukan saat ini jauh berkurang.

Ini semua, menurut penelitian itu, akibat terus dinaikkannya harga minuman beralkohol sejak 2008.

Profesor Shepherd yang juga merupakan penasehat ilmiah Kementerian Dalam Negeri Inggris, memang melakukan penelitian khusus untuk melihat kaitan antara naiknya harga minuman beralkohol dan angka kekerasan di Inggris.

Jumlah anak yang minum alkohol turun

Hasil penelitian Shepherd juga menyebutkan jumlah anak muda yang tidak menenggak minuman beralkohol juga meningkat tajam.

Hasil ini sejalan dengan statistik dari NHS, badan kesehatan Inggris, bahwa remaja saat ini jauh lebih sehat dibandingkan generasi sebelumnya.

Angka konsumsi alkohol oleh anak berusia 11-15 tahun, hanya 12% pada 2011, turun dari 26% sepuluh tahun sebelumnya.

Pola yang sama juga terjadi pada mereka yang berusia 16-26 tahun, dengan angka penurunan dari 71% pada 1998 menjadi 48% pada 2010.

Temuan ini diperkirakan akan kembali memicu debat untuk penerapan harga minimun minuman beralkohol.

Debat untuk menetapkan harga minimum dibatalkan tahun lalu karena mendapatkan penentangan besar dari industri minuman beralkohol.

Anjloknya angka mabuk-mabukan dan juga serangan terkait alkohol jelas merupakan berita gembira bagi banyak warga Inggris.

Dengan menurunnya angka kekerasan akibat minuman beralkohol, tentunya akan semakin banyak orang yang lebih tenang dan tak perlu khawatir lagi bila melihat orang yang sempoyongan di jalan atau di kendaraan umum.