Jamie Oliver, keluarga miskin, dan TV plasma

- Penulis, Mohamad Susilo
- Peranan, Wartawan BBC Indonesia
Jamie Oliver jelas bukan juru masak biasa. Ia juru masak yang ikut membantu merevolusi makanan untuk anak-anak sekolah di Inggris.
Berkat kampanye Oliver pemerintah menaikkan anggaran dana untuk makanan sehat di sekolah. Kampanyenya pun dipuji banyak kalangan.
Ia sering tampil di televisi, membawakan berbagai acara memasak, dan menulis banyak buku.
Tak mengherankan jika pernyataannya selalu menarik perhatian.
Kali ini soal makanan yang dikonsumsi warga yang masuk golongan miskin di Inggris.
Oliver kira-kira berbicara seperti ini, "Saya tak habis mengerti mengapa keluarga miskin makan kentang goreng (atau makanan sampah lain) sementara mereka memiliki tv plasma berukuran besar."
Sepertinya pesan yang ingin ia sampaikan adalah warga miskin harus pintar mengatur uang, uang jangan dihamburkan untuk membeli barang-barang mewah seperti tv plasma, sementara kebutuhan primer seperti makanan tidak diperhatikan kualitasnya.
Pahami persoalan
Uang yang didapat harus dikelola sedemikian rupa sehingga selalu ada yang disisihkan untuk membeli bahan makanan yang sehat, yang menurut Oliver, sebenarnya relatif terjangkau bagi keluarga miskin di Inggris.
Komentar yang sekilas bisa dimengerti. Seperti yang disampaikan Andrew Rosall di Manchester.
Melalui surat pembaca, Rossall menyayangkan keluarga-keluarga miskin yang punya tv layar datar berukuran besar, sepatu mahal, dan iPhone, sementara menu makanan di meja dapur tidak sehat sama sekali.
Rossall menduga gaya hidup ini adalah dampak langsung dari masyarakat yang makin rakus, yang diperlihatkan orang-orang kaya.
Tapi Jack Monroe, penulis dan ibu dari anak laki-laki berusia tiga tahun, sama sekali tidak setuju dengan komentar Oliver.
Poin pertama yang diangkat Monroe adalah, Oliver tak punya kapasitas untuk berbicara tentang kemiskinan. Keluarga miskin yang Oliver kutip dianggapnya tak mewakili keadaan yang sebenarnya.
Monroe lantas membagikan pengalamannya bagaimana ia terpaksa harus hidup dengan £10 per minggu atau sekitar Rp150.000 dengan kurs Rp15.000.
Terperangkap di permukaan

Monroe mengaku harus berjuang keras untuk bertahan hidup dengan anggaran sebesar ini. Ia harus mematikan lampu, lemari es, dan penghangat ruangan di musim dingin untuk menghemat.
Monroe mengatakan 13 juta warga miskin di Inggris saat ini adalah orang-orang yang suka bekerja keras, cuma persoalannya adalah mereka tak mendapatkan pendidikan yang memadai atau bekerja di sektor dengan gaji rendah.
Uang yang mereka dapatkan tak bisa mendukung mereka untuk hidup layak. Apalagi di era pengetatan anggaran dan ekonomi yang lesu seperti sekarang ini.
Jadi, kata Monroe, Oliver mestinya tidak terperangkap di permukaan dengan mengkontraskan antara tv plasma dan makanan sampah yang dikonsumsi keluarga miskin.
Oliver, dan juga pemerintah, seharusnya lebih memusatkan perhatian pada akar masalah, kata Monroe.
Apa sebenarnya penyebab kemiskinan ini dan bagaimana mengangkat warga dari kemiskinan tersebut?
Karena bagi mereka mengelola uang praktis tidak bisa dilakukan. Karena memang tidak ada uang untuk dikelola.









