Menlu membenarkan tiga WNI diculik di perairan Sabah, Malaysia

"Penyandera kemudian dilaporkan membawa sandera ke arah perairan Tawi-Tawi di Filipina Selatan," kata Menlu Retno dalam jumpa pers, Senin (11/07) siang.

Sumber gambar, EPA

Keterangan gambar, "Penyandera kemudian dilaporkan membawa sandera ke arah perairan Tawi-Tawi di Filipina Selatan," kata Menlu Retno dalam jumpa pers, Senin (11/07) siang.

Menteri Luar Negeri Retno Marsudi membenarkan adanya penyanderaan tiga orang WNI dari kapal pukat penangkap ikan LLD113/5/F berbendera Malaysia di perairan wilayah Felda Sahabat, Lahat Datu, Malaysia, Sabtu (09/07).

"Penyandera kemudian dilaporkan membawa sandera ke arah perairan Tawi-Tawi di Filipina Selatan," kata Menlu Retno dalam jumpa pers, Senin (11/07) siang.

Kemenlu menerima informasi dari kepolisian Malaysia bahwa pelaku penyanderaan berjumlah lima orang bersenjata api yang menggunakan speedboat.

"Dari tujuh ABK kapal, tiga diculik, empat dibebaskan," ungkapnya, seperti dilaporkan wartawan BBC Indonesia, Isyana Artharini.

  • <link type="page"><caption> Tiga WNI diculik di wilayah perairan Sabah, Malaysia</caption><url href="http://www.bbc.com/indonesia/berita_indonesia/2016/07/160710_indonesia_penculikan_filipina" platform="highweb"/></link>
  • <link type="page"><caption> Tujuh awak kapal Indonesia 'disandera' anggota Abu Sayyaf</caption><url href="http://www.bbc.com/indonesia/berita_indonesia/2016/06/160623_indonesia_tujuh_abk_disandera" platform="highweb"/></link>
  • <paragraph> <link type="page"><caption> Empat warga Indonesia sandera Abu Sayyaf tiba di Jakarta</caption><url href="http://www.bbc.com/indonesia/berita_indonesia/2016/05/160513_indonesia_4sandera_mendarat" platform="highweb"/></link></paragraph>
14 pelaut Indonesia lainnya pernah disandera kelompok radikal Abu Sayyaf asal Filipina, dan sudah dibebaskan.

Sumber gambar, AFP

Keterangan gambar, 14 pelaut Indonesia lainnya pernah disandera kelompok radikal Abu Sayyaf asal Filipina, dan sudah dibebaskan.

Kelompok penyandera, menurutnya, telah menghubungi pemilik kapal di Lahat Datu melalui ABK yang disandera.

Libatkan Malaysia dan Filipina

Kemenlu sudah berkoordinasi dengan KBRI di Kuala Lumpur, KBRI di Manila, serta Konsulat Indonesia di Davao dan Tawau untuk "memantau lebih jauh tentang kasus ini".

"Konsulat Tawau sudah mengirimkan petugas teknis kepolisian untuk berkoordinasi dengan otoritas setempat dan pemilik kapal," ungkapnya.

Menurut Retno, dalam komunikasinya dengan Kementerian Luar Negeri Malaysia dan Filipina pagi ini, Indonesia meminta perhatian terhadap kasus baru ini.

Menurut Retno, dalam komunikasinya dengan Kementerian Luar Negeri Malaysia dan Filipina pagi ini, Indonesia meminta perhatian terhadap kasus baru ini.

Sumber gambar, EPA

Keterangan gambar, Menurut Retno, dalam komunikasinya dengan Kementerian Luar Negeri Malaysia dan Filipina pagi ini, Indonesia meminta perhatian terhadap kasus baru ini.

"Kejadian seperti ini merupakan kejadian yang sama sekali tidak dapat ditolerir," kata Retno.

Retno mengatakan, pemerintah Indonesia akan bekerja sama dengan Malaysia dan Filipina untuk menangani kasus ini dengan "serius dan segera".

Belum diketahui secara persis siapa pelaku penculikan, tetapi ini adalah kejadian penculikan kesekian kalinya yang sebelumnya dilakukan oleh oleh kelompok yang diduga terhubung dengan kelompok militan Abu Sayyaf di wilayah Filipina selatan.

Nasib tujuh WNI lainnya

Dalam kesempatan yang sama, Retno juga menyampaikan perkembangan penanganan tujuh sandera WNI sekaligus awak kapal TB Charles yang diculik pada akhir Juni lalu.

Penanganan pembebasan sandera dilakukan terpadu melalui crisis center di bawah Menkopolhukam. "Komunikasi dan koordinasi terus dilakukan termasuk dengan pihak penyandera," kata Retno.

"Ketujuh ABK walaupun terdengar lelah, tapi masih dalam kondisi baik," tambahnya.

Para sandera dilaporkan masih terus berpindah-pindah dalam dua kelompok, dan mereka diperkirakan 'selalu berada di sekitar Pulau Sulu'.

Selain itu, informasi dan latar belakang tentang kelompok penyandera 'sekarang menjadi lebih jelas’.

Pelakunya kelompok Abu Sayyaf?

Mengenai identitas penyandera dalam aksi penculikan pertama dan kedua, apakah mereka kelompok yang sama dan terkait Abu Sayyaf, jubir Kemenlu Arrmanatha Nasir mengatakan hal ini ’masih didalami’.

Ketika ditanya soal faktor yang menyebabkan penyanderaan dan penculikan WNI di jalur tersebut sering terjadi, Arrmanatha mengatakan:

Mengenai identitas penyandera dalam aksi penculikan pertama dan kedua, apakah mereka kelompok yang sama dan terkait Abu Sayyaf, jubir Kemenlu Arrmanatha Nasir mengatakan hal ini ’masih didalami’

Sumber gambar, ABU SAYYAF

Keterangan gambar, Mengenai identitas penyandera dalam aksi penculikan pertama dan kedua, apakah mereka kelompok yang sama dan terkait Abu Sayyaf, jubir Kemenlu Arrmanatha Nasir mengatakan hal ini ’masih didalami’

"Itu 'kan jalur perdagangan yang banyak dipakai oleh perusahaan-perusahaan Indonesia dari Indonesia ke Filipina, sehingga banyak warga Indonesia. Itulah makanya kita ingin pemerintah Filipina dan Malaysia untuk bekerjasama dalam menjaga perairan tersebut."

Sejauh ini, menurut Arrmanatha, pelibatan TNI baru dalam konteks patroli laut bersama Filipina dan Malaysia sesuai kesepakatan di Yogyakarta, yang kini SOP patroli tersebut "sedang dalam tahap final", belum dalam konteks pembebasan sandera.

Sebelumnya, 14 pelaut Indonesia lainnya pernah disandera kelompok radikal Abu Sayyaf asal Filipina, dan sudah dibebaskan.