Belitung berbenah jelang Gerhana Matahari Total

Gerhana Matahari

Sumber gambar, AFP

    • Penulis, Ging Ginanjar
    • Peranan, Wartawan BBC Indonesia melaporkan dari Pulau Belitung

Hari-hari ini Belitung tak seperti biasanya karena ramai dengan umbul-umbul, poster raksasa, maupun spanduk yang bertema tunggal: Gerhana Matahari Total.

Pulau di lepas pantai Sumatra ini menjadi salah satu tujuan utama wisatawan yang melancong untuk menikmati GMT pada 9 Maret mendatang.

Tanpa GMT saja Belitung sebenarnya sudah menjadi salah satu tujuan wisata di Indonesia dan gejala alam tersebut akan membuatnya menyambut lebih banyak wisatawan lagi.

Dan GMT ini yang dimanfaatkan oleh Li Pang dan Marsha, sepasang pengantin baru dari Jakarta, untuk memilih Belitung sebagai tempat bulan madu.

"Kebetulan, waktunya pas dengan Gerhana Matahari Total, ya cocok sekali, jadi, kami memutuskan ke Belitung saja," kata Li Pang.

  • <link type="page"><caption> Belitung berbenah jelang Gerhana Matahari Total</caption><url href="http://www.bbc.com/indonesia/berita_indonesia/2016/03/160307_indonesia_gerhana" platform="highweb"/></link><link type="page"><caption> </caption><url href="http://www.bbc.com/indonesia/berita_indonesia/2016/03/160306_indonesia_gerhana" platform="highweb"/></link>
  • <link type="page"><caption> Tujuh hal seputar Gerhana Matahari Total; selfie dan kebutaan</caption><url href="http://www.bbc.com/indonesia/berita_indonesia/2016/03/160306_indonesia_gerhana" platform="highweb"/></link>

Seluruhnya terdapat 12 titik pengamatan GMT di Pulau Belitung namun Li Pang dan Marsha belum memutuskan pilihannya.

"Belum jelas, apa mau ke pantai atau ke gunung. Mungkin ke pantai, tapi katanya Pantai Kelayang ramai, karena Jokowi mau datang. Jadi nggak tahu deh, lihat saja nanti," kata Marsha.

Swadaya untuk fasilitas umum

Pantai memang menjadi salah satu titik pengamatan favorit namun Pulau Belitung menawarkan sejumlah titik pengamatan di perbukitan, antara lain Bukit Batu Titi, Bukit Paramon, Bukit Tambali, Bukit Limau, dan Bukit Samak.

Gerhana

Sumber gambar, Reuters

Keterangan gambar, Para siswa di Pulau Ternate -yang juga akan menghadapi GMT- mencoba kaca mata pelindung buata sendiri.

Namun Bukit Batu Titi, di desa Pelepak Pute, yang menjadi tempat paling dekat ke lintasan gerhana matahari, yang untuk Belitung akan berlangsung sekitar dua menit 11 detik.

Letaknya sekitar satu jam perjalanan dari ibukota Tanjung Pandan dan karena di puncak bukit batu, jelas tak mudah juga untuk menjangkaunya.

"Saya jelaskan dalam sosialisasi kepada warga, lalu warga spontan bergotong royong menyiapkan fasilitas-fasilitas untuk mempermudah para wisatawan dan pengamat yang mau melihat GMT di Bukit Batu Titi," jelas Kepala Desa Pelepak Pute, Anang Jaelani.

Dia menambahkan warga berhasil mengumpulkan dana swadaya hingga sekitar Rp60 juta rupiah untuk mermbangun berbagai fasilitas sederhana, antara lain memasang tali tambang untuk pegangan guna mempermudah pendakian, membangun undakan-undakan, maupun bangku-bangku kayu tempat duduk di puncak Bukit Batu Titi.

"Kami juga menyiapkan lapangan di kaki bukit, sekitar seluas lapangan bola untuk beristirahat sekaligus menyelenggarakan pesta rakyat menyambut gerhana," jelasnya Anang Djaelani.

Salah satu yang ikut membantu persiapan adalah Apriani, yang sejak beberapa hari lalu ikut berpartisipasi membersihkan lapangan.

Di lapangan itu mulai Selasa 8 Maret akan digelar berbagai permainan dan pertunjukan rakyat, seperti pertunjukan musik dan tari-tari Melayu dari kalangan seniman dan kelompok-kelompok seni beberapa sekolah di Tanjung Pandan.

Hari Nyepi

Dari 1.757 warga desa Pelepak Pute, 731 di antaranya tak akan turut menyaksikan GMT maupun meramaikan pesta rakyat Rabu 9 Maret karena para warga dusun Balitung merupakan komunitas warga Bali yang betransmigrasi.

Gerhana Matahari

Sumber gambar, AFP

Keterangan gambar, Di Pulau Belitung, GMT akan berlangsung selama dua menit 11 detik pada Rabu 9 Maret.

Dan mereka harus menjalani ibadah Nyepi pada hari GMT tersebut.

"Jadi, karena tanggal sembilan Nyepi, maka mereka tanggal delapan melakukan berbagai acara. Antara lain arak-arakan Ogoh-ogoh, yaitu boneka raksasa tradisi Bali. Nah, kami meminta mereka membawa arak-arakan Ogoh-ogoh itu ke sini, ke lapangan di kaki bukit Tiiti Batu," jelas Anang Djaelani.

"Jadi nanti akan ada atraksi Ogoh-ogoh yang meriah, karena juga mereka tanggal Selasa malam akan mengarak berjalan kaki dengan obor."

Di Bukit Batu Titi, saya juga bersua dengan tiga pemuda dari Tanjung Pandan, yang datang dengan dua sepeda motor.

"Kami mau lihat dulu, lokasi pengamatan ini," kata Nando, salah seorang dari mereka.

"Kalau pantai, sudah bosan. Jadi setelah mendengar berita tentang titik pengamatan ini, ya kami ke sini dulu, meninjau istilahnya."

Dan Nando beserta kedua temannya merasa cocok.

"Kami positif, akan ke sini nanti. Mungkin rombongan sepuluhan orang. Dengan bawa kamera video, foto, macam-macam."

Nando mengaku cukup puas dengan fasilitas yang disiapkan di sana.

"Ya sederhana, sih. Tapi di bukit batu seperti ini, mau berharap seperti apa lagi? Hahaha."