Terungkap, semua buoy untuk peringatan tsunami di Indonesia rusak

Warga Padang memadati jalan raya

Sumber gambar, Getty

Keterangan gambar, Warga Padang memadati jalan raya saat gempa terjadi 2 Maret 2016 lalu.
    • Penulis, Oki Budhi
    • Peranan, Wartawan BBC Indonesia

Sirene peringatan dini tsunami atau TEWS (Tsunami Early Warning System) tidak terdengar oleh warga Padang saat <link type="page"><caption> gempa berkekuatan 7,8 pada skala Richter mengguncang</caption><url href="http://www.bbc.com/indonesia/berita_indonesia/2016/03/160302_indonesia_gempa_mentawai" platform="highweb"/></link> kawasan Sumatera bagian barat, Rabu (02/03) malam.

Yanti, warga Padang Utara, yang tinggal di sekitar pantai, mengaku tidak mendengar sirene peringatan dini tsunami, saat gempa mengguncang, Rabu (02/03). Ia berlari ke tempat yang lebih aman setelah mendapat kabar dari suaminya, melalui telepon.

“Saya tidak dengar ada sirene peringatan tsunami, sirenenya kalau bisa lebih kencang, dan tidak hanya berbunyi di tempat tertentu. Petugas harus lebih cepat berkeliling sambil membunyikan sirene peringatan, karena banyak warga yang tidak mendengar sirine," ujarnya kepada wartawan BBC Indonesia, Oki Budhi.

Warga padang saat gempa 2 Maret

Sumber gambar, Reuters

Keterangan gambar, Warga Padang mencari lokasi yang lebih aman saat gempa mengguncang Rabu (02/03)

Lemahnya<link type="page"><caption> peringatan dini tsunami di Indonesia</caption><url href="http://www.bbc.com/indonesia/dunia/2010/10/101027_tsunamiwarning" platform="highweb"/></link> terkait dengan rusaknya peralatan peringatan dini tsunami, seperti <italic>buoy</italic> dan sirene.

Kepala Pusat Data dan Humas Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB), Sutopo Purwo Nugroho, menyatakan seluruh buoy untuk peringatan dini milik pemerintah Indonesia tidak berfungsi, padahal keberadaan buoy sangat penting untuk mendeteksi terjadinya tsunami.

“Semua buoy untuk mendeteksi dini terjadinya tsunami milik Indonesia yang terpasang di seluruh perairan Indonesia, tidak ada satupun yang berfungsi. Masih ada lima buoy milik negara tetangga, tapi lokasinya sangat jauh dari daerah yang rawan terkena tsunami di Indonesia“. ungkap Sutopo.

Sebuah buoy peringatan tsunami dihibahkan Lembaga Oseanografi dan Atmoster Amerika Serikat kepada Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi pada 2008.

Sumber gambar, AFP

Keterangan gambar, Sebuah buoy peringatan tsunami dihibahkan Lembaga Oseanografi dan Atmoster Amerika Serikat kepada Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi pada 2008.

Sutopo menambahkan, rusaknya seluruh buoy yang ada di perairan Indonesia sangat memengaruhi respons dan kecepatan peringatan dini tsunami di Indonesia.

“Kerusakan buoy sudah tentu memengaruhi akurasi dan kecepatan peringatan dini tsunami. Dengan adanya buoy, kita bisa secara tepat dan cepat menentukan ada tidaknya tsunami, kita juga bisa mengetahui daerah mana yang akan paling parah dihantam tsunami. Sehingga penanganan bencana pun bisa lebih fokus.“

Secara keseluruhan terdapat 22 buoy yang ditempatkan pemerintah Indonesia di lautan usai peristiwa gempa dan tsunami melanda Provinsi Aceh pada 2004 lalu. Jika berfungsi dengan baik, buoy bisa mengirimkan peringatan tsunami selang 10 menit setelah terjadinya gempa.

Namun, karena semua buoy rusak, pemerintah tidak bisa mendapat peringatan tsunami secara akurat. Konsekuensinya, pencabutan peringatan tsunami ditunda sampai beberapa jam.

Kondisi saat Mentawai dihantam Tsunami
Keterangan gambar, Kepulauan Mentawai merupakan salah satu kawasan yang pernah dihantam tsunami pada tahun 2010 lalu.

Warga Kepulauan Mentawai yang pernah <link type="page"><caption> dihantam tsunami pada tahun 2010 lalu </caption><url href="http://www.bbc.com/indonesia/berita_indonesia/2010/10/101027_mentawaideathtolls" platform="highweb"/></link>, meminta pemerintah menerapkan sistem peringatan dini yang cepat dan tepat. Zulharman, warga Muara Siberut, Kepulauan Mentawai, sempat mendengar suara sirene berulang kali saat gempa mengguncang Rabu (02/03) malam lalu.

Tapi suara sirene yang tidak dibarengi dengan pengarahan dari petugas, dan kurangnya latihan menghadapi bencana, justru membuat warga panik.

“Sirene justru membuat warga panik, karena bunyi sirene sering tidak akurat. Kami lebih percaya pada pengalaman kami saja. Kalau gempa terasa hebat, ada atau tidak ada sirene, kami langsung pergi ke dataran yang lebih tinggi,“ kata Zulharman.

Sutopo menyatakan sirine peringatan dini tsunami yang dimiliki Indonesia masih sangat minim. Indonesia seharusnya memiliki 1.000 sirene peringatan dini tsunami. Namun hingga kini, Indonesia baru memiliki sekitar 200 unit.