Polisi korban bom Thamrin: "Peluru itu menembus perut saya"
Serangan bom di kawasan Thamrin, Jakarta Pusat 14 Januari lalu, sedikitnya 27 orang menjadi korban luka dalam peristiwa tersebut dan tujuh orang tewas, empat diantaranya pelaku.
Tak hanya meledakkan bom, empat pelaku juga melakukan serangan senjata, salah satunya seorang polisi yang baru tiba di lokasi yaitu Aiptu Budiono. Dia merupakan salah satu dari empat polisi yang terluka dalam serangan itu.
Budiono ketika itu bertugas di Balaikota, dan begitu mengetahui ada ledakan bom di kawasan Thamrin, dia pun mengendarai motornya ke lokasi tersebut.
Sesampainya di lokasi dia menghampiri mobil hitam yang merupakan kendaraan dinas Kapolres Jakarta Pusat.
"Saya pikir ada pimpinan saya ( kapolres Jakarta Pusat) disitu , saya langsung mendekat, ternyata pelaku memutari mobil, saya baru turun kunci kontak masih di motor, helm masih saya pakai, deng deng dua kali, saya merasa ditembak dia dua kali," jelas Budiono, di kediamannya di Jakarta Timur.
"Astaghfirullah saya terhuyung gini, cuma saya tidak jatuh, saya kemudian berjalan dan di depan hotel Sari Pan Pasifik saya duduk, " jelas Budiono.
Peluru menembus dari perut ke bagian belakang tubuh Budiono, dan hampir mengenai paru-paru.

Sumber gambar, TEMPO I Aditia Noviansyah
“Setelah menembak pelaku langsung berjalan ke arah perempatan, dan tidak mengambil pistol saya. Wajahnya tanpa ekspresi, saya pikir awalnya dia merupakan salah satu petugas polisi berpakaian preman,” jelas Budiono, yang sempat tak sadarkan diri ketika di rumah sakit, akibat peluru yang menembus perut dan nyaris mengenai paru-parunya.
“Saya tak sempat melakukan perlawanan, karena kejadiannya saya baru saja memarkir motor saya, kuncinya bahkan masih tergantung di motor, tiba-tiba pelaku muncul dari balik mobil dan langsung menembak,” kata Budiono yang masih menjalani perawatan.

Sumber gambar, BBC INDONESIA
Tak lama duduk dia pun dilarikan ke RS Budi Kemuliaan, kemudian dibawa ke RSPAD Gatot Subroto untuk menjalani operasi. Budiono sempat tidak sadar selama empat hari.
Selama kariernya sebagai polisi sejak 1993 lalu, Budiono mengaku pertama kali tertembak.
"Alhamdulillah ini yang pertama, semoga yang terakhir," kata dia.
Budiono mengatakan tidak mengalami rasa takut atau trauma setelah peristiwa tersebut, tetapi kejadian itu membuatnya lebih waspada.
"Ini memang risiko tugas saya," kata dia ,"Kalau ada kejadian lagi saya akan lebih berhati-hati jadi tak langsung ke lokasi dengan peralatan yang seadanya dan tanpa alat pelindung seperti rompi anti peluru."
Dia mengaku mengetahui jika polisi seringkali dijadikan sasaran dalam aksi terorisme, "Tetapi itu merupakan bagian dari risiko pekerjaan," kata Budiono.









