Jakarta beberapa saat setelah serangan bom

    • Penulis, Rafki Hidayat
    • Peranan, Wartawan BBC Indonesia

Jakarta terasa berbeda pada sore hari setelah serangan teroris di kawasan Sarinah, Thamrin, Jakarta Pusat -seperti direkam wartawan BBC Rafki Hidayat.

Ini dimulai ketika saya meninggalkan kantor di Bundaran HI menuju ke tempat kejadian perkara (TKP) yang berjarak tidak sampai satu kilometer.

Sumber gambar, BBC INDONESIA

Jumlah mobil yang lalu-lalang di ikon kota itu, tidak sebanyak biasanya. Padahal pada pukul 18.00, biasanya jalanan sudah ramai karena karyawan dari berbagai kantor yang berada di sepanjang jalan Thamrin dan Sudirman, pulang.

Saya berasumsi, mungkin sejumlah kantor sudah memulangkan karyawannya lebih awal. Misalnya, Gedung Sinarmas yang tampak sepi dengan pagar dipasang berlapis.

Sumber gambar, BBC INDONESIA

Tapi saya tidak sepenuhnya benar, karena banyak juga karyawan yang baru keluar dari kantornya pada waktu itu.

Di pandangan saya, ekspresi mereka tidak memperlihatkan kecemasan berlebih. Namun, jelas dari percakapan yang sayup terdengar, mereka membicarakan serangan teroris yang berjarak tak sampai 200 hingga 300 meter dari tempat mereka bekerja.

Sumber gambar, BBC INDONESIA

Semakin mendekati Sarinah, suasana pengamanan dari aparat semakin terasa. Kendaran barakuda berjejer di jalur TransJakarta (busway). Polisi berjaga-jaga. Tentara banyak bersiaga.

Sumber gambar, BBC INDONESIA

Namun yang tidak saya duga adalah suasana di TKP, di Sarinah.

Karena Bundaran HI sepi, saya kira Sarinah akan lebih sepi, karena di sanalah terjadi serangan bom bunuh diri dan penembakan yang menewaskan tujuh orang dan melukai belasan orang.

Sumber gambar, BBC INDONESIA

Jalanan di depan Sarinah malah sangat padat dengan kendaraan. Tidak hanya itu manusia pun memenuhi jalanan di depan pusat perbelanjaan tertua di Jakarta itu. Malah lebih ramai dari hari biasanya.

Sumber gambar, BBC INDONESIA

Selain para pencari berita, media onlice, cetak, radio dan televisi berikut mobil satelit, kamera dan krunya, TKP 'dibanjiri' orang-orang yang ingin melihat langsung lokasi serangan teroris.

Sumber gambar, BBC INDONESIA

Keramaian bahkan berpusat di pos polisi Sarinah, tempat dua pelaku meledakkan diri.

Masyarakat menyemut, bahkan ada yang tampak menginjak bekas lokasi jenazah yang sudah digarisi kapur tapi masih berdarah, dengan 'santainya'.

Sumber gambar, BBC INDONESIA

Tentu tidak bisa terlalu mengomentari orang-orang itu, karena memang tidak terlihat ada garis batas polisi yang terpasang. Orang-orang juga bahkan bebas keluar masuk ke dalam pos polisi yang telah porak poranda.

Sumber gambar, BBC INDONESIA

Namun, di tengah situasi itu, pikiran saya tergelitik melihat seorang ibu yang membuka 'lapak dagangannya', hanya beberapa meter dari pos polisi.

"Udah dari tadi siang Mas, ramai terus," kata Ibu penjual air minum, yang menjajakan dagangannya di sepeda itu.

Sumber gambar, BBC INDONESIA

Belum sempat saya berbicara panjang dengannya, padangan saya beralih melihat seorang lelaki yang mengambil foto diri (selfie) di depan TKP. Berbagai gaya dicobanya.

Melihat itu, di pikiran saya terbersit, bagaimanapun situasinya, apapun keadaannya, orang Indonesia tetaplah orang Indonesia dengan 'ciri khasnya' yang tak bisa dilepaskan. Di dalam hati saya tergelitik ironi.

Sumber gambar, BBC INDONESIA

Mendekati pukul tujuh, saya berjalan pulang, kembali menuju ke arah bundaran HI. Dari keramaian, suasana kembali sepi. Sepinya lebih terasa karena langit sudah gelap.

Alasan lengangnya malam di kawasan itu, sedikit terjawab ketika melihat bahwa pusat perbelanjaan Grand Indonesia dan Plaza Indonesia ternyata telah ditutup sejak sore. Ini mengingat di media sosial banyak beredar bahwa teroris 'akan menyerang toko-toko asing'.

Saya pun berjalan menuju kaki lima di antara kedua mall, yang biasanya sangat padat dengan pengunjung yang 'wisata kuliner', mobil serta motor yang lalu lalang. Kini, warung-warung itu sepi.

"Aduh Mas, sepi. Saya baru balik dari kampung, tahu-tahunya sepi. Kalau tahu ada bom, saya mending nggak buka," ungkap pak Suwandi ketika warungnya saya datangi.

"Saya satu deh Pak, buat penglaris," kata saya kepadanya. Warung bakso itu bisa disebut 'yang paling laris' di sana. Namun, sekarang tidak ada satu pun pembeli.

Sumber gambar, BBC INDONESIA

Kamis, 14 Januari ini mungkin menjadi yang hari yang absurd bagi sejumlah warga Jakarta, warga Indonesia. Mungkin tidak ada yang tidak terguncang melihat apa yang beredar di media sosial dan yang tayang di televisi.

Saya pun begitu, dan rasanya, bertemu dan mulai bercengkrama santai dengan pak Suwandi sambil makan baksonya, adalah cara yang terasa paling logis untuk menutup hari di Jakarta yang terasa tak biasa ini.