Serangan Jakarta merupakan 'pukulan besar' bagi pemerintah

Presiden Joko Widodo

Sumber gambar, EPA

Keterangan gambar, Presiden Joko Widodo mengunjungi lokasi serangan.

Mantan Kepala BNPT, Ansyaad Mbai, berpendapat bahwa serangan yang berlangsung di pusat kota Jakarta dan dekat dengan Istana Negara merupakan serangan yang simbolik.

"Itu kan di pusat kota Jakartra, dekat Istana Negara. Itu saya kira memang merupakan by design itu, mereka memilih target seperti itu," jelasnya kepada wartawan BBC Indonesia, Liston Siregar.

Dengan target yang simbolik, <link type="page"><caption> serangan yang menewaskan tujuh orang tersebut -termasuk lima pelakunya-</caption><url href="http://www.bbc.com/indonesia/berita_indonesia/2016/01/160114_indonesia_jumlah_korban" platform="highweb"/></link> bisa juga dilihat sebagai pukulan cukup besar bagi aparat keamanan.

"Bukan saja aparat keamanan bagi pemerintah Indonesia secara keseluruhan, ini adalah pukulan yang cukup besar," tambah Mbai, yang saat ini menjadi konsultan di HSC, Hendropriyono Strategic Consulting.

Serangan di Sarinah juga bisa dikatakan memiliki 'gaya serangan' <link type="page"><caption> yang sama dengan di Paris pada November lalu -yang menewaskan 130 orang-</caption><url href="http://www.bbc.com/indonesia/dunia/2015/11/151114_dunia_paris" platform="highweb"/></link> dengan mengkombinasikan serangan bersenjata dan serangan bom, yang merupakan gaya serangan pertama di Indonesia.

Jakarta

Sumber gambar, Reuters

Keterangan gambar, Serangan di Sarinah dilihat mirip dengan serangan di Paris, November tahun lalu.

Walau belum ada pihak yang mengaku bertanggung jawab, Wakil Kepala Kepolisian RI, Budi Gunawan, menyatakan bahwa serangan di Sarinah -yang sejauh ini menewaskan tujuh orang- terkait dengan kelompok militan Negara Islam atau ISIS.

Ancaman 'alumni ISIS' di Indonesia

Menurut Mbai, jelas bahwa ada kaitan antara serangan Jakarta dan serangan Paris.

"Para pelaku di Paris itu, mereka sudah pernah dilatih di Suriah. Sedangan di teroris di Indonesia sudah banyak yang ke sana dan dari para jihadis WNI yang dari Suriah dan Irak sudah banyak yang kembali sekarang di Indonesia," kata Ansyaad Mbai.

Ditambahkan bahwa hingga saat ini baru 11 jihadis yang kembali dari Suriah dan Irak yang sudah diadili sedangkan sisanya masih belum diketahui keberadaannya, yang membuat potensi ancaman di masa depan masih ada.

"Semua jihadis yang kembali dari Suriah dan Irak mestinya dikenakan tindakan. Harus ada ketegasan di situ. Kalau membiarkan mereka, kita akan menunggu terjadi seperti ini."

Kepolisian Indonesia pada November 2015 lalu mencatat 384 warga negara Indonesia sudah terkonfirmasi bergabung dengan ISIS di Irak dan Suriah dengan sekitar 46 sudah kembali ke Indonesia.