Indonesia akan 'evaluasi' alutsista setelah jatuhnya pesawat TNI

Pesawat latihan tempur Super Tucano buatan Brasil. Indonesia telah memiliki 16 pesawat jenis ini, dan empat diantaranya akan tiba dari Brasil akhir Februari 2016.

Sumber gambar, AFP

Keterangan gambar, Pesawat latihan tempur Super Tucano buatan Brasil. Indonesia telah memiliki 16 pesawat jenis ini, dan empat diantaranya akan tiba dari Brasil akhir Februari 2016.
    • Penulis, Heyder Affan
    • Peranan, Wartawan BBC Indonesia
  • Waktu membaca: 2 menit

Pemerintah Indonesia mengatakan perlu mengevaluasi terhadap semua pesawat latih TNI AU menyusul jatuhnya dua pesawat serupa dalam dua bulan terakhir.

Sebelum <link type="page"><caption> pesawat latih TNI AU jenis Super Tucano -buatan Brasil- jatuh di Malang</caption><url href="http://www.bbc.com/indonesia/berita_indonesia/2016/02/160210_indonesia_pesawat_tni_jatuh" platform="highweb"/></link>, Rabu (10/02), <link type="page"><caption> pesawat jet latih tempur Jet T50 i Golden Eagle</caption><url href="http://www.bbc.com/indonesia/berita_indonesia/2015/12/151220_indonesia_pesawat" platform="highweb"/></link> -buatan Korea Selatan- jatuh dalam acara Gebyar Dirgantara di Bandara Adi Sucipto Yogyakarta, Minggu, 20 Desember 2015 lalu.

Sekretaris Kabinet, Pramono Anung, mengatakan pemerintah perlu melakukan evaluasi terhadap alat utama sistem persenjataan (alutsista) pesawat latih TNI AU karena insiden kecelakaan itu terjadi 'dalam waktu relatif pendek di Yogyakarta dan Malang'.

"Maka perlu ada evaluasi terhadap pesawat-pesawat yang dipergunakan latihan oleh (TNI) Angkatan udara," Kata Pramono di komplek Istana Merdeka, Rabu (10/02) siang.

Pesawat Super Tucano jatuh di perkampungan padat di wilayah Blimbing, kota Malang, dan menewaskan empat orang -termasuk pilot dan juru mesinnya.

Sumber gambar, Twitter Levels Brewhouse

Keterangan gambar, Pesawat Super Tucano jatuh di perkampungan padat di wilayah Blimbing, kota Malang, dan menewaskan empat orang -termasuk pilot dan juru mesinnya.

"Sebab, kalau dilihat penerbang (yang meninggal dunia dalam insiden pesawat jatuh) di Yogya maupun di Malang, adalah penerbang yang lulusan Akademi Angkatan Udara."

"Artinya adalah seseorang dengan kapasitas, kapabilitas, dan juga kemampuan yang mencukupi untuk menerbangkan pesawat," paparnya.

Pesawat 'cukup baik'

Pramono juga mengharapkan agar peristiwa seperti ini menjadi pembelajaran agar tidak lagi terulang.

"Perlu dilakukan perbaikan dalam proses latihan. Kalau dilihat secara awam, ada kemungkinan apakah itu technical error atau human error. Kami menduga ada sesuatu dalam pesawat tersebut," tambanya.

Menteri Pertahanan Ryamizard Ryacudu mengatakan pesawat yang jatuh di Malang dalam kondisi 'cukup baik'.
Keterangan gambar, Menteri Pertahanan Ryamizard Ryacudu mengatakan pesawat yang jatuh di Malang dalam kondisi 'cukup baik'.

Di tempat terpisah, Menteri Pertahanan Ryamizard Ryacudu, mengatakan pesawat yang jatuh di Malang dalam kondisi 'cukup baik'.

"Itu belum terlalu lama usianya," kata Ryamizard kepada para wartawan di Gedung DPR, Rabu (10/02).

Empat tahun lalu, TNI Angkatan Udara membeli 16 unit senilai US$ 143 juta atau Rp1,3 triliun.

Sumber gambar, AFP l Getty

Keterangan gambar, Empat tahun lalu, TNI Angkatan Udara membeli 16 unit senilai US$ 143 juta atau Rp1,3 triliun.

"Kondisinya baik. Kita lihat dulu itu kesalahan pesawat atau orang. Pesawat itu cukup baik," kata Ryamizard, yang meyakini kondisi pesawat masih layak untuk terbang.

Terkendala evakuasi

Dalam jumpa pers di kota Malang, Kepala Staf TNI Angkatan Udara (KSAU), Marsekal TNI Agus Supriatna, mengatakan pihaknya belum menemukan penyebab utama jatuhnya pesawat Super Tucano buatan Brasil itu.

Sampai Rabu (10/02), tim evakuasi masih terkendala lokasi jatuhnya pesawat di dalam perkampungan padat di wilayah Blimbing, kota Malang.

Pesawat jatuh menimpa sebuah rumah milik warga yang menyebabkan <link type="page"><caption> dua orang warga sipil meninggal, serta seorang pilot dan seorang lagi juru mesin pesawat</caption><url href="http://www.bbc.com/indonesia/berita_indonesia/2016/02/160210_indonesia_pesawat_juru_mesin" platform="highweb"/></link>.

"Apa penyebabnya? Ini saya minta doa dari teman-teman media agar pesawat ini segera diangkat," kata Agus Supriatna, Rabu (10/02) sore.

"Dengan diangkatnya pesawat, tim identifikasi sudah bisa melihat bagaimana propeller (baling-baling) sendiri, bagaimana enginenya (mesin)... Sehingga ada keterkaitan dari itu semua, dan ditemukannya video recorder. Nah, dengan itu ditemukan, kita bisa menentukan di mana masalah utamanya," ungkap KSAU.

Empat tahun lalu, TNI Angkatan Udara membeli 16 unit senilai US$ 143 juta atau Rp1,3 triliun namun empat unit diantaranya belum dikirim ke Indonesia.