Ditemukan 'bom siap ledak sebesar kaleng biskuit'

Sumber gambar, BBC Indonesia
Serangkaian serangan tembakan dan bom di Jakarta diawali serangan bom bunuh diri di kafe Starbuck, kemudian dilanjutkan penembakan di luar kafe dan diakhiri serangan bom bunuh diri di pos polisi di dekat gedung Sarinah, demikian kronologi versi kepolisian.
Hal ini diungkapkan Kapolda Metro Jaya Inspektur Jenderal Tito Karnavian dalam jumpa pers di Kantor Kepresidenan. Dia didampingi Menko Polhukkam, Luhut Panjaitan, dan Sekretaris Kabinet, Pramono Anung, Kamis (14/01) sore.

Sumber gambar, BBC Indonesia
Menurut Tito, para pelaku mulai melakukan serangan tembakan dan bom antara pukul 10.50 dan 10.55 WIB. "Ada ledakan dan kemudian kontak senjata dengan anggota Polda Metro Jaya," ungkapnya.
Kontak senjata antara pelaku anggota kepolisian itu berlangsung sekitar 30 menit. "Dan kemudian dapat kita kuasai dalam waktu 30 menit," katanya.
Serangan bersenjata itu, ungkapnya, diawali serangan di Starbuck yang terletak di lantai dasar gedung Skyline di dekat Sarinah, Jakarta Pusat.

Sumber gambar, BBC Indonesia
"Yaitu masuknya satu orang pelaku dan menggunakan bom bunuh diri," kata Tito.
Serangan di luar kafe Starbuck
Akibat serangan itu, sejumlah orang pengunjung kafe itu mengalami luka-luka, dan pengunjung yang selamat berhamburan keluar.
Pada saat yang hampir bersamaan, di luar kafe Starbuck, ada dua orang lagi terduga teroris yang sudah menunggu.

Sumber gambar, BBC Indonesia
"Mereka melakukan penembakan kepada dua orang warga asing. Satu orang warga Kanada, yang meninggal dunia , dan satu lagi dalam keadaan hidup," paparnya.
Ketika serangan itu terjadi, lanjutnya, ada dua orang terduga teroris "menyerang pos polisi lalu lintas di simpang Sarinah."

Sumber gambar, BBC Indonesia
"Ada satu anggota polisi Polsek diserang dengan bom bunuh diri sehingga terluka. Kemudian pelakunya meninggal dunia serta satu anggota masyarakat terkena pecahan dan meninggal dunia," jelasnya.
Kontak tembak
Saat pelaku menyerang pos polisi tersebut, menurut Tito, ada rombongan personel Polda Metro Jaya kebetulan tengah melaju menuju Monas untuk mengamankan demonstrasi di Monas.

Sumber gambar, BBC Indonesia
"Dan langsung berhenti dan kemudian mendengar ledakan dan turun dan diserang dengan tembakan dan lemparan bom rakitan yang mirip granat," kata Tito.
Kemudian terjadi kontak tembak antara rombongan personel Polda Metro Jaya -yang dibantu petugas kepolisian di lokasi- dan pelaku serangan. "Sehingga empat anggota kepolisian Polres Jakarta Pusat terkena tembakan di kaki dan perut," tambahnya.
Menurut Tito, aparat kepolisian berhasil melumpuhkan pelaku serangan dalam kontak tembak yang disebutnya berlangsung sekitar 15 menit.
"Dua pelaku berhasil ditembak mati," tegasnya.
Bom sebesar kaleng biskuit
Setelah meringkus pelaku serangan, tim melakukan penyisiran di kafe Starbuck, pos polisi, serta sejumlah gedung di dekat lokasi kejadian untuk memastikan apakah ada pelaku lain serta apakah ada bom lainnya.
"Ternyata tidak ada pelaku lain," kata Tito Karnavian.

Sumber gambar, BBC Indonesia
Namun demikian, pihaknya menemukan enam bom yang siap diledakkan. "Ada lima bom kecil sebesar kepalan tangan yaitu granat tangan rakitan dan satu lagi bom lumayan besar yaitu sebesar kaleng biskuit," tambahnya.
Kepolisian juga menemukan senjata api FN rakitan yang diduga milik pelaku.
Mengejar jaringan pelaku teror
Tito Karnavian kemudian memastikan bahwa semua pelaku serangan -yang berjumlah lima orang- dipastikan meninggal dunia. "Semuanya kita lumpuhkan," katanya.

Sumber gambar, BBC Indonesia
Adapun korban yang meninggal dunia berjumlah dua orang, yaitu satu orang warga negara Kanada dan satu orang warga Indonesia yang belum diketahui identitasnya, ungkapnya.
"Kemudian jumlah korban luka-luka ringan dan berat ada 15 orang luka. Sementara, ada lima anggota polisi yang terkena tembakan dan pecahan bom yang dilemparkan," ungkapnya.
Kepada wartawan, Tito Karnavian kemudian mengatakan pihaknya sedang mengejar jaringan pelaku teror tersebut yang disebutnya berhubungan dengan kelompok Negara Islam atau ISIS di Raqqa, Suriah.









