NU dan Hizbut Tahrir beda pendapat soal 'perbaikan materi sejarah Nabi'

Menteri Agama Lukman Hakim Saifuddin bersama Presiden Joko Widodo dalam acara NU di masjid Istiqlal, Jakarta, Minggu (14/06/2014).

Sumber gambar, AFP

Keterangan gambar, Menteri Agama Lukman Hakim Saifuddin bersama Presiden Joko Widodo dalam acara NU di masjid Istiqlal, Jakarta, Minggu (14/06/2014).
    • Penulis, Heyder Affan
    • Peranan, Wartawan BBC Indonesia

Rencana Kementerian Agama memperbaiki materi pelajaran sejarah Nabi Muhammad SAW di sekolah dasar dan menengah disikapi secara berbeda oleh ormas Islam Nahdlatul Ulama (NU) dan Hizbut Tahrir.

Perbaikan itu akan dilakukan Kementerian Agama karena materinya selama ini dianggap <link type="page"><caption> lebih didominasi sejarah peran Nabi dalam sejumlah peperangan</caption><url href="http://www.bbc.com/indonesia/berita_indonesia/2016/01/160110_indonesia_kemenag_sejarahnabi" platform="highweb"/></link>.

Sebaliknya, menurut Menteri Agama Lukman Hakim Saifuddin, praktik toleransi dan peran perdamaian yang dilakukan Nabi dianggap kurang mendapatkan tempat.

"Mengapa? Karena mungkin, boleh jadi, karena sejarah kita, kisah-kisah tentang Rasul, itu memang kaya sekali dengan cerita-cerita peperangan, karena memang realitasnya banyak sekali perang yang ada ketika itu," kata Lukman Hakim Saifuddin dalam wawancara dengan BBC Indonesia, Senin (11/01) malam.

Ormas Islam Nahdlatul Ulama mendukung ide penambahan tentang sifat Nabi Muhammad yang toleran dan cinta damai dalam materi sejarah Rasul.
Keterangan gambar, Ormas Islam Nahdlatul Ulama mendukung ide penambahan tentang sifat Nabi Muhammad yang toleran dan cinta damai dalam materi sejarah Rasul.

Ketua PBNU Marsudi Suud mengatakan, jika Kemenag berencana "menekankan" aspek peran toleransi dan perdamaian yang dilakukan Nabi, dia meminta agar ajaran Nabi Muhammad tentang akhlakul karimah (perilaku terpuji) ditekankan.

"Yang penting fondasi utamanya bahwa Nabi itu mengajarkan akhlakul karimah. Bagaimana berbahasa dengan baik sesama Islam dengan Islam, dan Islam dengan non-Islam, sesuai fakta Rasulullah di zaman dulu mempersaudarakan antar agama-agama," kata Marsudi Suud, Senin (11/01) sore.

Contoh toleran yang ditunjukkan Nabi itu, lanjutnya, sangat relevan untuk situasi sekarang.

"Itulah akhlakul karimah, agar bangsa ini bisa menjadi bangsa yang modern dan beradab," tegasnya.

'Seolah umat Islam salah'

Sementara itu, juru bicara organisasi Hizbut Tahrir Indonesia, Ismail Yusanto mengatakan rencana penambahan materi sejarah Nabi Muhammad itu harus jelas dulu apa tujuannya.

"Jadi, bukan soal apakah cerita Nabi selama ini menonjolkan perang atau tidak. Sebenarnya kita ini hendak membentuk Muslim seperti apa melalui cerita nabi ini," kata Ismail.

Hizbut Tahrir mempertanyakan klaim bahwa penambahan materi sejarah Nabi itu menjadi relevan di tengah radikalisasi di sebagian umat Islam di Indonesia.

Sumber gambar, Getty

Keterangan gambar, Hizbut Tahrir mempertanyakan klaim bahwa penambahan materi sejarah Nabi itu menjadi relevan di tengah radikalisasi di sebagian umat Islam di Indonesia.

Dia khawatir kalau tidak dilalui penjelasan utuh tentang tujuannya, dan sekedar menitikberatkan pada sisi mana yang perlu ditonjolkan dari Nabi, hal itu tidak akan menyelesaikan masalah.

"Misalnya sudah kita tulis, sisi humanisnya, nanti akan ada kritik lagi: kok nggak kelihatan sisi ibadahnya. Atau nanti akan ada kritik lagi: kok nggak ada sisi heroik, sisi keberaniannya," ujarnya.

Ismail juga mempertanyakan klaim bahwa penambahan materi sejarah Nabi itu menjadi relevan di tengah radikalisasi di sebagian umat Islam di Indonesia. "Seolah-olah ketika ada radikalisme, umat Islam itu salah," tandas Ismail.

Nabi Muhammad 'sangat toleran'

Dalam wawancara dengan BBC Indonesia, Menteri Agama Lukman Hakim Saifuddin mengatakan, sebagian besar siswa-siswi sekolah dan madrasah di Indonesia hanya <link type="page"><caption> mengenal Nabi Muhammad sebagai figur 'yang hari-harinya diisi dengan peperangan'</caption><url href="http://www.bbc.com/indonesia/berita_indonesia/2016/01/160111_indonesia_wwc_menag" platform="highweb"/></link>.

Lukman menganggap kesan seperti ini ada di benak siswa-siswi karena materi pelajaran sejarah Nabi Muhammad di sekolah dan madrasah yang disebutnya 'kaya sekali dengan cerita-cerita peperangan.'

Kementerian Agama ingin menambahkan materi tentang figur Nabi yang toleran dan penganjur perdamaian dalam materi pelajaran sejarah Nabi Muhammad di sekolah-sekolah.

Sumber gambar, AFP

Keterangan gambar, Kementerian Agama ingin menambahkan materi tentang figur Nabi yang toleran dan penganjur perdamaian dalam materi pelajaran sejarah Nabi Muhammad di sekolah-sekolah.

"Itu tidak salah. Tapi kita ingin melengkapi bahwa Rasulullah selain memimpin perang, beliau pun juga lemah-lembut, sangat santun, sangat toleran," kata Lukman Hakim.

Untuk itulah, Kementerian Agama ingin menambahkan materi tentang figur Nabi yang toleran dan penganjur perdamaian dalam materi pelajaran sejarah Nabi Muhammad di sekolah-sekolah.

Lukman tidak memungkiri penambahan materi itu sangat penting di tengah situasi sekarang, yang masih diwarnai konflik antara umat beragama.