Mengapa peringatan kelahiran Nabi Muhammad kembali diperdebatkan?

Polemik tentang cara memperingati kelahiran Nabi Muhammad SAW sudah lama ditinggalkan, tetapi mengapa kini peringatan itu kembali digunjingkan oleh sebagian penganut Islam di Indonesia?
Gugatan, pertanyaan, atau ungkapan ketidaksetujuan terhadap cara memperingati hari kelahiran Nabi Muhammad muncul di jejaring sosial, pada Kamis (24/01), bertepatan hari Maulud Nabi.
Salah-satu alasan yang dikedepankan pihak yang kontra terhadap peringatan Maulud Nabi, adalah peringatan seperti ini tidak dikenal saat Nabi Muhammad masih hidup.
Mereka juga menyebut aktivitas seperti ini tidak ada dalam Kitab Suci Al-quran dan Hadist. Alasan kekhawatiran adanya pengkultusan Nabi Muhammad juga banyak dikutip.
Sebaliknya, penganut Islam yang pro terhadap peringatan Maulud Nabi menyatakan, tidak ada bukti yang mengakibatkan peringatan itu berujung pada pengkultusan Rasulullah.
Pertanyaannya kemudian, mengapa polemik terhadap cara penyelenggaraan hari ulang tahun Nabi Muhammad ini kembali muncul?
Pengamat Islam dan staf pengajar Universitas Islam Negeri Syarif Hidayatullah Jakarta, Azyumardi Azra mengatakan, polemik tentang peringatan acara tersebut "bukanlah sesuatu yang baru".
Menurutnya, polemik itu pernah terjadi di masa lalu, ketika sekelompok kecil umat Islam menganggapnya sebagai bidah atau kegiatan yang tidak pernah diperintahkan Nabi Muhammad terkait ibadah.
Walaupun sempat memunculkan perpecahan di antara penganut Islam baik secara sosial atau politik, konflik di seputar peringatan Maulud Nabi itu, akhirnya meredah -- tidak menjadi diskursus sosial.
Salafi-Wahabi
Namun demikian, Azyumardi mengakui, sekarang ada gejala untuk menghidupkan kembali polemik seputar cara merayakan Maulud Nabi Muhammad SAW.
Salah-satu indikasi bisa dilacak dari lontaran sikap atau pertanyaan di sosial media tentang perayaan itu, yang menemukan momentum puncaknya pada peringatan kelahiran Nabi Muhammad, Kamis (24/01).

"Ya, memang ada muncul kelompok-kelompok ini (yang anti peringatan Maulud Nabi)," kata Azyumardi kepada BBC Indonesia, melalui telepon, Kamis siang.
Menurutnya, kelompok yang terpengaruh ideologi Salafi-Wahabi radikal ini, memanfaatkan sosial media untuk melancarkan kritiknya terhadap penyelenggaraan Maulud Nabi yang sebagian dianggap mereka menyalahi ajaran Islam.
"Memang mereka tidak berhenti (untuk terus melancarkan ajaran-ajarannya), dan mereka itu noisy, bising, bikin macam-macam di media sosial", kata Azyumardi.
Ditanya kenapa kelompok ini muncul di masyarakat, Azyumardi mengatakan, ini tidak terlepas dari dampak globalisasi informasi. "Jadi tidak bisa dielakkan."
Tetapi, lanjut Azyumardi, tradisi peringatan Maulid Nabi Muhammad tidak bisa dihilangkan dari masyarakat indonesia. "Seluruh ormas Islam arus utama (mainstream), NU dan Muhammadiyah, semua merayakan Maulud," katanya.
Jadi, "kalau mau ekspor (ajaran Salafi-Wahabi radikal), bakal tidak akan laku ke Indonesia. Jadi kontraproduktif," tandas Azyumardi.
Kategori bidah
Sementara itu, Juru Bicara organisasi Hizbut Tahrir Indonesia, HTI, Muhammad Ismail Yusanto, mengatakan "kontroversi" di seputar perayaan Maulud Nabi sekarang memang masih ada.
Namun demikian, menurut Ismail, tidak semua perayaan Maulud Nabi Muhammad di Indonesia saat ini "bidah".
"Sebagaimana juga (kalau ada yang mengatakan) bahwa perayaan Maulud itu tidak bidah. Itu tak bisa," jelas Ismail.
Menurutnya, semua itu harus di lihat kasus per kasus, karena perayaannya bervariasi. "Jadi harus dilihat satu persatu," katanya.
Apabila peringatan itu berupa dakwah, yaitu antara lain agar Umat Islam mengikuti teladan Nabi, "Itu tak menjadi masalah, karena intinya dakwa," terang Ismail Yusanto.
Bagaimana pemahaman sebagian penganut Islam yang menganggap kegiatan Maulud tidak dikenal ketika Nabi Muhammad masih hidup, Ismail berkata, hal itu tidak bisa dijadikan patokan.
"Sebab di jaman nabi, Nuzulul Quran dan Isra Mi'raj juga tidak ada," katanya, seraya menekankan, asal kegiatan itu tetap didasari untuk berdakwa.
Sepengetahuannya, perayaan Maulud Nabi saat ini secara umum "fine-fine saja" karena banyak diisi kegiatan ceramah dakwah.
Lantas, perayaan Maulud Nabi Muhammad seperti apa yang menurut Anda masuk kategori bid'ah? Tanya BBC.
Dia mencontohkan, praktek tradisi pembacaan kitab Barzanji di setiap acara Mauludan yang dilakukan sebagian kelompok Islam tradisional di Indonesia.
"Nah, memang ada tambahan seperti baca Barzanji. Itu 'kan syair. Nah, memang di sana dalam syair itu ada kalimat agak sedikit hiperbolik, misalnya 'Anda cahaya di atas cahaya'. Nah ini, menurut beberapa orang ini bukti syair itu sudah kebablasan, karena menganggap Nabi Muhammad sebagai cahaya di atas cahaya," papar Ismail, yang mengaku berasal dari keluarga Nahdlatul Ulama, NU.
"Itu satu contoh yang kemudian orang menganggap(nya) bid'ah. Apalagi kemudian dalam satu paragraf, kita mesti berdiri, karena diyakini bahwa nabi (Muhammad) itu hadir di tengah-tengah kita," tambahnya.
Menurutnya, hal itu tidak tepat. "Karena orang sudah meninggal, nggak kemudian bangkit dan hadir. Ini 'kan anggapan yang tidak punya dasar," tandasnya.
Kearifan lokal
Di mata intelektual muda Nahdlatul Ulama, NU, Zuhairi Misrawi, peringatan Maulud Nabi di Indonesia merupakan kegiatan yang wajar karena merupakan bagian dari tradisi dan kearifan lokal.
"Memang di jaman Nabi Muhammad (peringatan itu) tidak ada, tetapi karena tradisi (maka) merayakan kelahiran Nabi Muhammad SAW menjadi bagian dari kearifan lokal masyarakat Islam, maka hal itu menjadi wajar," katanya.

"Kita sendiri merayakan hari kelahiran kita. Kenapa kok kita tidak memperingati kelahiran Nabi Muhammad SAW," kata Zuhairi.
Asal sesuai tujuan agama Islam itu sendiri, menurutnya, peringatan Maulud Nabi merupakan wujud penemuan kembali tradisi ke-Islaman yang dulu tidak ada kemudian menjadi ada.
Dan yang lebih penting lagi, menurutnya, peringatan ini didasari kemauan penganut Islam untuk terus mengingat ajaran Nabi Muhammad, utamanya "tentang cinta kasih, persaudaraan, keadilan sosial, pengentasan kemiskinan... Inilah spirit yang harus diangkat ke permukaan dalam kontek kekinian."
Zuhairi mengakui, saat ini ada kelompok Islam tertentu yang mengangkat lagi isu soal penolakan terhadap peringatan Nabi Muhammad.
Namun menurutnya, "Itu lumrah saja".
Dia kemudian mencontohkan, kehadiran kelompok Khawarij di jaman Nabi Muhammad masih hidup. "Kelompok ekstrim yang menganggap dirinya meneladani (Nabi) Muhammad, dengan cara mengharamkan, melarang, mengkafirkan tradisi-tradisi yang baru..."
Tidak hanya hadir di Arab
Karena itulah, dia tidak memasalahkan kehadiran kelompok seperti itu, saat ini.
"Tetapi kita harus realistis bahwa Islam tidak hanya hadir di Arab, tetapi juga berkembang di Persia, Islam juga berkembang di Mesir kuno dan juga merayakan Maulud Nabi, Islam juga hadir di Indonesia dengan damai yang juga punya tradisi merayakannya," paparnya.
"Secara otomatis Islam akan beradaptasi dengan tradisi dan kearifan lokal, sejauh dalam konteks mengenang kembali keutamaan-keutamaan sifat ajaran dan keteladan baginda Rasululah SAW," katanya lagi.
Lantas, bagaimana kekhawatiran para penentang perayaan Maulud Nabi yang mengatakan, perayaan itu akan membuat Nabi Muhammad dikultuskan?
Zuhairi Misrawi, yang kelahiran 1977, kemudian bercerita tentang pengalamannya dibesarkan dalam tradisi NU semenjak kecil.
"Kalangan NU secara umum sudah melaksanakan tradisi Mauludan. Saya sejak kecil besar dalam tradisi ini, dan saya merasakan tidak ada sesuatu yang berbahaya, atau menyimpang atau bertentangan dengan fundamen agama yang saya imani," ungkapnya, bercerita.
Tetapi," bahkan yang saya rasakan itu menjadi energi positif untuk kita secara bersama-sama mempelajari kembali tentang keagangan Nabi Muhammad SAW," tambahnya.
Zuhairi kemudian bertanya, kenapa yang dipersoalkan acara mauludan-nya dan bukan substansi acara tersebut.
"Orang melupakan bahwa di dalam peringatan Maulud ada susbtansi, yaitu ada kebersamaan, ada pendidikan, lalu kemudian ada gotong royong, tolong-menolong, saling menghargai di antara masyarakat", kata Zuhairi.









