'Sebaran asap begitu luas, bagaimana kita evakuasi masyarakat?'

kabut asap

Sumber gambar, Herlianto

Keterangan gambar, Warga Palangkaraya menyindir Menkes dan Menteri LHK dengan aksi pengumpulan koin

Warga Kota Palangkaraya, Kalimantan Tengah, ialah yang paling menderita akibat krisis asap kebakaran hutan tahun ini.

Indeks Pencemaran Standar, PSI, yang mengukur tingkat pencemaran udara di kota itu sudah jauh melampaui angka 3.000 pekan ini. Padahal angka 300 saja sudah dianggap berbahaya.

Warga yang terdampak berulang kali meminta perhatian pemerintah, menyerukan dilakukannya langkah nyata seperti evakuasi terhadap kelompok-kelompok rentan, khususnya, bayi, anak-anak, dan perempuan hamil.

Lalu apa tanggapan pemerintah?

Berikut wawancara eksklusif Rebecca Henscke dari BBC Indonesia dengan Menteri Kesehatan Nila F Moeloek, saat meninjau Palangkaraya beberapa waktu lalu.

Menteri Kesehatan

Sumber gambar, BBC INDONESIA

Keterangan gambar, Menurut Menkes Nila F. Moeloek, seharusnya pemerintah bergerak mengatasi ketika apinya masih belum besar

Apa yang dilakukan pemerintah untuk melindungi warga terkait kabut asap ini?

Kalau ada asap, dan indeks pencemarannya, ISPU, tinggi, kita mengingatkan masyarakat untuk berlindung di dalam rumah.

Tetapi di sini sebagian besar rumah itu terbuat dari kayu, kurang tertutup, sehingga (seruan untuk tinggal di rumah) tidak membantu.

Betul. Kan kami membagikan misalnya masker, obat-obatan, dan makanan tambahan. Kita juga minta dibuatkan tenda isolasi.

Kenapa tidak ada evakuasi? Padahal, kami sudah bertemu dengan orang tua yang anaknya meninggal...

Saya kira ada, jangan bilang tidak ada. Kita melakukan, menitipkan anak-anak di rumah singgah. Mereka menitipkan anak-anak bahkan di rumah sakit. Mereka juga melakukan pekerjaan yang bukan main untuk membantu.

Berapa orang yang sudah dievakuasi?

Tidak dievakuasi. Tapi bagi orang yang memerlukan, mereka pergi ke rumah singgah. Kalau evakuasi, saya melihat, di Kalimantan ini penyebaran penduduk luas sekali. Bagaimana kita melakukan evakuasi? Itu juga harus dipikirkan. Atau di daerah Riau. Begitu banyaknya manusia, kita mau evakuasi (mereka) ke mana? Dan saya kira, kami mengharapkan, pertama api ini padam, itu dulu.

Tapi sepertinya masih tidak akan padam untuk waktu yang agak lama. Kemarin orang tua yang bayinya meninggal mengatakan kepada saya, mengapa pemerintah tidak memprediksi ini? Ini sudah bertahun-tahun terjadi, bukan tiba-tiba.

Betul. Tapi apakah itu pekerjaan Kementerian Kesehatan?

Untuk urusan kesehatan...

Tidak bisa. Saya kira pemerintah harusnya mengatasi ketika apinya masih tidak sebesar ini.

Tapi untuk (sektor) kesehatan...

Untuk kesehatan, kami kan sudah melakukan, (anjuran) memakai (dan pembagian) masker. Tapi kan Anda tahu, jarak antara rumah seseorang dengan (tempat) pelayanan kesehatan) juga bukan suatu hal yang mudah.

Hari Rabu lalu Indeks Standar Pencemar Udara di Palangkaraya angka atas 3.000.

Sumber gambar, EVELLA FM

Keterangan gambar, Hari Rabu lalu Indeks Standar Pencemar Udara di Palangkaraya angka atas 3.000.

Di Palangkaraya, plang-plang petunjuk kadar udara untuk mengindikasikan apakah sudah bahaya atau tidak, sudah lama rusak...

Itu Pemda, saya rasa itu Pemda yang harus...

Tapi sebagai menteri kesehatan, apakah ibu...

Kami mengingatkan kepada mereka untuk memasang (papan indikator) itu untuk mengingatkan, itu yang minimum. Saya tidak bisa pasang di sini dong. Harusnya itu Pemda. Tapi kami sudah mengingatkan. Bahwa kalau kelihatan tinggi (indikator pencemaran udara), masyarakat harus bergerak untuk masuk ke dalam ruangan.

Kalau di dalam ruangan tidak melindungi, asapnya masuk semua ...

Betul. Tapi misalnya bisa menutup dengan kain, ada upaya untuk menutup ruangan tersebut.

Apakah itu cukup?

Ya tentu semua tidak ada yang cukup. Anda harus tahu juga, semua tidak ada yang cukup. Tapi meminimalkan itu harus.