Ditemukan kuburan massal diduga korban perdagangan manusia

Sumber gambar, Reuters
Kuburan massal yang diduga korban perdagangan manusia telah ditemukan oleh polisi Malaysia di sejumlah wilayah di dekat perbatasan Thailand, kata Menteri dalam negeri Malaysia, Minggu (23/08).
Menteri dalam negeri Ahmad Zahid Hamidi mengatakan, otoritas terkait meyakini itu merupakan kuburan massal korban perdagangan manusia, namun belum memastikan berapa jumlah mayat yang ditemukan.
"Semuanya masih dalam penyelidikan," katanya kepada wartawan di sela-sela sebuah acara di Kuala Lumpur, seperti dilaporkan Kantor berita Reuters.
Menurut laporan media, kuburan massal diyakini berisi mayat ratusan migran dari Myanmar dan Bangladesh.
Harian Utusan Malaysia melaporkan kepolisian Malaysia telah menemukan sekitar 30 kuburan yang berisi ratusan mayat di dua tempat di wilayah utara negara bagian Perlis, yang berbatasan dengan Thailand.
Sementara, situs surat kabar Star melaporkan hampir 100 mayat ditemukan di salah satu kuburan, Jumat (21/08) lalu.
'Jumlah lebih banyak'
"Saya pikir itu merupakan temuan awal dan kemungkinan jumlahnya lebih banyak," kata Ahmad Zahid saat ditanya tentang kepastian jumlah kuburan massal yang ditemukan.
Ahmad Zahid mengatakan, kepolisian juga menemukan bekas kamp perdagangan yang terletak di daerah Klian Intan dan di desa-desa di dekat perbatasan.
"Mereka berada di sana untuk beberapa waktu. Saya menduga kamp telah beroperasi selama setidaknya lima tahun," katanya.

Seorang juru bicara polisi menolak berkomentar terhadap temuan ini. Dia menjanjikan dalam jumpa pers pada hari Senin nanti.
Tetapi seorang pejabat polisi -yang menolak disebutkan namanya- mengatakan aparat kepolisian dan ahli forensik dari Kuala Lumpur telah berada di lokasi kuburan massal.
"Tentu saja saya percaya ada warga Malaysia yang terlibat," kata Ahmad Zahid, ketika ditanya tentang kemungkinan keterlibatan penduduk setempat dalam insiden itu.
Rute penyelundupan
Wilayah utara Malaysia selama ini dikenal sebagai rute penyelundupan manusia warga Myanmar, terutama orang-orang Rohingya, dan Bangladesh.
Orang-orang Rohingya melarikan diri karena merasa teraniaya, sementara orang-orang dari Bangladesh lebih dilatari soal keterdesakan ekonomi.
Mereka juga diyakini menggunakan wilayah Thailand selatan sebagai rute melalui jalan darat, dan polisi meyakini hal ini berdasarkan temuan kuburan massal ditemukan di wilayah perbatasan Thailand pada bulan ini.

Sumber gambar, AP
Dua puluh enam mayat ditemukan dalam kuburan di provinsi Songkhla Thailand, tidak jauh dari perbatasan negara bagian Perlis, Malaysia, di dekat sebuah kamp yang dicurigai terkait perdagangan manusia.
Lebih dari 3.000 migran, kebanyakan dari Myanmar dan Bangladesh, dengan menggunakan kapal <link type="page"><caption> telah mendarat di Malaysia dan Indonesia</caption><url href="http://www.bbc.com/indonesia/berita_indonesia/2015/05/150523_indonesia_tni_migran_sar" platform="highweb"/></link>, setelah ditolak oleh otoritas Thailand.
Pada bulan Mei lalu, pihak berwenang Malaysia mengatakan bahwa mereka menemukan sejumlah<link type="page"><caption> kuburan massal di dekat Padang Besar</caption><url href="http://www.bbc.com/indonesia/dunia/2015/05/150524_dunia_malaysia_kuburan" platform="highweb"/></link> dan Wang Kelian, Negara Bagian Perlis yang berbatasan dengan Provinsi Songkhla, Thailand bagian selatan.









