Rupiah turun, momentum bagi ekspor Indonesia?

Sumber gambar, AFP
- Penulis, Liston P Siregar
- Peranan, BBC Indonesia
Melemahnya nilai rupiah atas dolar Amerika Serikat, seperti saat ini, tidak selalu berdampak buruk namun juga bisa dilihat sebagai momentum untuk meningkatkan ekspor.
Dan begitulah harapan Menteri Perdagangan, Rachmat Gobel, pada pertengahan Maret ketika rata-rata kurs tengah eceran rupiah terhadap dolar AS sekitar Rp12.842 per satu dolar AS dan turun lagi menjadi sekitar Rp.13.300 untuk satu dollar.
"Pelemahan rupiah ini merupakan momentum kita untuk meningkatkan ekspor," kata Rachmat dalam jumpa pers di Kantor Kementerian Perdagangan Jakarta, saat itu.
Memang secara sederhana pemasukan ekspor akan lebih besar karena artinya pemasukan satu dolar AS akan bernilai lebih banyak dalam rupiah.
Namun di lapangan, perhitungannya tidak sesederhana itu, seperti dijelaskan Sekjen Asosiasi Pertekstilan Indonesia, API, Ernovian.
"Masalahnya bahan baku kita kan masih pakai dolar, seperti bahan kimia, kita kan masih impor semua bahan kimia itu. Jadi kalau dengan rupiah melemah ini kalau dibilang untung, ya nggak juga."
"Kecuali kalau semua bahan baku dari dalam negeri," tambah Ernovian.
Minta potongan
Kebutuhan bahan baku impor juga dialami oleh Asih dari Jedok Stone Work di Yogyakarta, yang mengekspor kerajinan tangan batu dan kayu ke Asia, Eropa, serta Amerika Serikat.
"Sama saja, kursnya naik tapi kan kita biaya produksinya juga naik. Kayak lem, itu kan ikut naik."
Bagi Asih masih ada soal lain lagi, karena beberapa pembelinya minta potongan harga berhubung di beberapa negara nilai mata uang setempat juga menurun atas dolar AS.

Sumber gambar, AFP
"Customer saya dengan dolar naik, maka posisi di negara dia, misalnya di Spanyol, kursnya terhadap dolar juga melemah. Dia minta diskon ke kita, jadi kita juga kasih diskon," jelas Asih.
Jadi menurunnya nilai rupiah terhadap dolar tidak serta merta merupakan faktor keuntungan bagi para pengusaha yang mengekspor produknya.
Lagipula masih ada lagi hambatan perlambatan ekonomi di negara penerima produk ekspor asal Indonesia, seperti dijelaskan pengamat ekonomi dari Universitas Gajah Mada, Dr Revrisond Baswir.
"Kalau yang turun itu hanya rupiah, kondisi lain tetap, maka biasanya pelemahan rupiah akan diikuti dengan peningkatan jumlah ekspor."
Namun situasi saat ini adalah bahwa bersamaan dengan pelemahan rupiah, juga terjadi kelesuan ekonomi di negara-negara tujuan ekspor, seperti Cina dan negara-negara Eropa.
"Jadi akibatnya pelemahan rupiah tidak serta merta menyebabkan terbukanya peluang untuk menggenjot ekspor," tegas Dr Revrisond.
Syarat kualitas
Bagi para pengusaha tekstil, tambah Sekjen API, Ernovian, ada pula selisih nilai saat menjual dan saat membeli dolar yang tinggi di Indonesia sehingga sebagian dari mereka memilih untuk melakukan transaksi di Singapura.
Dan ketika melakukan transaksi di dalam negeri sekalipun ternyata dolar masih tetap diperlukan.
"Baru kali ini ke luar peraturan Bank Indonesia bahwa semua jual beli dalam negeri harus dengan rupiah. Namun masih ada beberapa BUMN yang menggunakan dolar, seperti terminal handling charge dan kurs tidak jelas, bahkan kursnya tinggi dan bisa sampai Rp14.000."
"Lalu penjualan gas untuk dalam negeri juga masih pakai dolar. Ini kalau mau, semuanya harus rupiah," tegas Ernovian.

Sumber gambar, AFP
Tapi seandainya, soal-soal yang sudah dipaparkan di atas bisa disingkirkan, tetap saja menggenjot ekspor tidak langsung bisa diwujudkan, apalagi untuk produk-produk baru.
Soalnya sejumlah negara menetapkan standar kualitas mutu yang harus dipenuhi, seperti dijelaskan mantan Deputi Badan Standardisasi Nasional BSN, Dr Sunarya, yang kini menjadi konsultan eskpor.
"Kita akan genjot masalah makanan misalnya, itu kita harus siap dulu dengan kondisi dan keinginan di pasar mereka. Begitu juga dengan produk-produk lain," jelas Dr Sunarya yang menegaskan saat ini praktis tidak ada lagi transaksi jual beli yang tidak memperhatikan mutu.
"Jadi kalau mutunya tidak sesuai ya tidak bisa. Harganya semurah apapun, misalnya kita jual murah karena rupiah kita turun tapi kalau mutunya nggak dipenuhi, ya jelas tidak bisa masuk."
Sementara upaya untuk memenuhi persyaratan kualitas ekspor di negara-negara tertentu membutuhkan waktu, walau diakui kesadaran dan kemampuan pengusaha Indonesia akan standar kualitas sudah lebih baik.











