Pemerintah kirim kapal jemput 100 WNI di Yaman

Sumber gambar, AFP
Pemerintah RI tengah mengirim kapal dari Djibouti di pantai timur Afrika untuk menjemput 100 WNI yang terjebak pertempuran sengit di Kota Aden, Yaman.
“Kita kirimkan kapal dari Djibouti karena Djibouti dan Yaman berseberangan. Kami memantau pergerakan kapal menit per menit dan saya kira kapal sedang mendekati Pelabuhan Aden. Sedangkan para WNI tengah menuju pelabuhan,” kata Direktur Perlindungan WNI Kementerian Luar Negeri, Lalu Muhamad Iqbal, kepada wartawan BBC Indonesia, Jerome Wirawan.
Sebelumnya, <link type="page"><caption> sebanyak 100 WNI dikabarkan terjebak pertempuran sengit</caption><url href="http://www.bbc.co.uk/indonesia/berita_indonesia/2015/04/150402_evakuasi_yaman" platform="highweb"/></link> antara pasukan koalisi negara-negara Arab dan pemberontak Houthi di Kota Aden.
Kepada BBC, sejumlah saksi mata melaporkan mayat bergeletakan di jalan setelah <link type="page"><caption> pemberontak Houthi melakukan gempuran</caption><url href="http://www.bbc.co.uk/indonesia/dunia/2015/04/150402_yaman_krisis_aden" platform="highweb"/></link> dan melancarkan serangan dengan para penembak jitu.
Seorang juru bicara untuk lembaga bantuan Medecins Sans Frontieres (MSF) mengatakan kepada BBC bahwa rumah sakit di Aden telah menerima lebih dari 500 orang luka-luka dari semua pihak yang berkonflik selama dua minggu terakhir.
Beragam skenario
Menurut Lalu, Kemlu menyiapkan beragam skenario yang melibatkan berbagai jenis transportasi untuk mengevakuasi WNI dari Yaman.
Skenario pertama ialah melalui jalan darat. Melalui cara ini <link type="page"><caption> sebanyak 262 WNI diberangkatkan menggunakan enam bus</caption><url href="http://www.bbc.co.uk/indonesia/dunia/2015/04/150401_yaman_wni_evakuasi" platform="highweb"/></link> dari Sanaa menuju Kota Jizan di Arab Saudi melalui kota pelabuhan Al-Hudaidah.
Ada pula skenario pengiriman pesawat TNI Angkatan Udara. “Pada Kamis (02/04) sore WIB, TNI AU akan memberangkatkan pesawat Boeing 737. Pesawat itu akan berbasis di Salala, Oman, guna mengevakuasi WNI dari Yaman,” kata Lalu.

Sumber gambar, Mohammad Dino Hadi
Tolak evakuasi
Meski demikian, ada pula WNI di Yaman yang menolak evakuasi.
Rofik Anwari, ketua Perhimpunan Pelajar Indonesia di Provinsi Hadramaut, menyatakan hanya sekitar 20 WNI yang bersedia dievakuasi dari sedikitnya 1.800 pelajar asal Indonesia di sana.
“Saya pribadi ingin bertahan dan saya menilai teman-teman juga seperti itu karena di sini masih berjalan aman dan normal. Pasokan bahan bakar minyak, kebutuhan pokok masih ada, dan harga-harga masih stabil sebagaimana sebelum serangan terjadi,” ujar Rofik kepada BBC Indonesia
Dia juga mengingatkan bahwa komunikasi via telepon seluler berjalan lancar tanpa gangguan.
Menanggapi keengganan WNI di Hadramaut untuk dievakuasi, Direktur Perlindungan WNI Kementerian Luar Negeri, Lalu Muhamad Iqbal, mengatakan pihaknya tetap akan mendatangi para mahasiswa asal Indonesia di sana.
“Tapi kalaupun mereka tetap tidak mau, kami akan minta surat pernyataan bahwa mereka tidak ingin meninggalkan Yaman dan dan tidak mau dievakuasi. Dengan demikian, kami sudah punya bukti bahwa kami telah melaksanakan kewajiban negara,” ujar Lalu.
Berdasarkan data Kedutaan Besar RI di Sanaa, jumlah WNI di Yaman mencapai 4.159 orang. Sebagian besar bermukim di bagian timur, terutama di kawasan Hadramaut, untuk menempuh studi.










